TRIBUNNEWS.COM - 'Kuda Besi' menjadi penggambaran lain dari motor. Tetapi esensinya, Austria akan dipacu menjadi sebuah kekuatan lewat permainan sepak bola tak mengenal lelah pada Piala Dunia 2026, layaknya kuda besi dan bukan 'kuda hitam'.
Otak dari mode kuda besi timnas Austria pada Piala Dunia 2026 tak lain adalah Ralf Rangnick, yang juga berjuluk The Professor.
Julukan ini melekat kepada pelatih kelahiran Backnang, Jerman Barat, 29 Juni 1958 ini bukannya tanpa sebab. Pemilik nama lengkap Ralf Dietrich Rangnick mendapatkan label The Professor karena menjadi pionir lahirnya filosofi permainan Gegenpressing.
Penganut gaya bermain Gegenpressing inisiasi Ralf Rangnick pun terbilang sukses, seperti Jurgen Klopp dan Thomas Tuchel, yang keduanya juga berasal dari Jerman.
Namun ada cerita menarik di balik penemuan Ralf Rangnick, mengapa dirinya menekankan permainan Gegenpressing, yang menuntut kerja keras dan pergerakan aktif sekalipun tanpa bola selama pertandingan berlangsung.
Hal itu diawali dari Rangnick muda ketika masih menjadi mahasiswa Universitas Stuttgart.
Dia menceritakan kekagumannya terhadap seorang teman wanita di kelasnya yang menjadi atlet bola voli profesional. Kekaguman itu bersumber dari intensitas latihannya sebagai pevoli.
"Salah satu gadis di kelas kami menjadi pemain voli untuk tim wanita terbaik (liga Jerman-red), dan saya kagum mendengar bahwa mereka berlatih hingga 10 jam sehari, termasuk dua jam sesi gym dan dua jam untuk gerakan taktik," cerita Ralf Rangnick, dikutip dari NYT.
Dari sinilah Ralf Rangnick kemudian mencetuskan gagasan, bagaimana sepak bola juga diubah melalui pendekatan latihan dengan intensitas tinggi, yang bermuara kepada lahirnya Gegenpressing.
"Saya melihat olahraga lain telah berkembang pesat, sementara di sepak bola terkesan jalan di tempat. Perubahan harus dilakukan," kenang pelatih yang kini berusia 67 tahun.
Rangnick menyadari, untuk menciptakan permainan atraktif namun kolektif, jelas dibutuhkan pola latihan yang sistematis serta tak sederhana. Faktor fisik dituntut fit, termasuk kecerdasan pemain dalam memahami taktikal permainan.
Meski demikian, pria yang resmi ditunjuk sebagai pelatih asal Austria sejak 2022 ini bukannya pelatih bertipikal "robot".
Baca juga: Profil Timnas Austria di Piala Dunia 2026: Ada Mantan Rekan Jay Idzes, Kental Aroma Munchen
Ada sentuhan khusus darinya layaknya motivator untuk mendorong pemain sampai ke batas kemampuan terbaik, demi menjalankan permainan ala Gegenpressing.
Dalam The Coaches' Voice tahun 2018, Rangnick pernah mengatakan bahwa ketulusan menjadi cara paling ampuh baginya untuk berkomunikasi dengan para pemain.
"Pemain akan mengikuti Anda jika mereka merasa bahwa Anda membuat mereka lebih baik. Itulah motivasi terbesar dan paling tulus yang ada," ujar pelatih yang pernah membesut RB Leipzig, Manchester United, Loko Moscow, dan FC Schalke 04.
Selain itu, dalam karier manajerialnya di level klub, Ralf Rangnick juga penganut faham 3K, yakni Kapital, Konzept, dan Kompetenz (uang, konsep, dan kompetensi).
Hanya saja, Ralf Rangnick juga memiliki tantangan bersama timnas Austria, dalam momen comeback mereka ke Piala Dunia edisi 2026 setelah penantian 28 tahun.
Dalam penyampaian Helmut Gross, insinyur taktikal permainan di Jerman, menyebut gaya Gegenpressing ala Rangnick membutuhkan sosok pemain yang tepat, baik dari segi game-play di lapangan maupun faktor fisik.
"Rangnick hanya mau menggunakan pemain yang sesuai dengan gayanya," ujar Gross.
"Sebagian besar dari mereka masih muda, berusia di bawah 23 tahun, berpikiran terbuka, kuat secara fisik, dan cepat dalam hal kognitif. Pemain yang lebih tua seringkali ingin bermain dengan tempo lambat," ujarnya menilai.
Sementara di timnas Austria, mereka disesaki deretan pemain yang usianya di atas 30 tahun sebagai andalan.
Sebut saja Marko Arnautovic (37), Marcel Sabitzer (32), dan bek Rea Madrid, David Alaba (33), merupakan tiga pokok di masing-masing lini permainan Austria.
Jika memaksakan penerapan Gegenpressing demi menyulap Austria dari kuda hitam menjadi 'kuda besi', tidak hanya menuntut komitmen pemain, tetapi juga kondisi fisik mereka.
Untungnya, mayoritas skuad Austria saat ini banyak bermain di Bundesliga Jerman. Di mana dalam kultur permainannya, tak akan banyak waktu untuk adaptasi dengan gaya Ralf Rangnick.
Terlepas dari itu, Austria kini berada di Grup J pada Piala Dunia 2026 bersama Argentina, Aljazair, dan Yordania.
Akan ditunggu seperti apa Rangnick membawa Austria melaju di Piala Dunia 2026. Dalam sejarahnya, timnas Austria memiliki penampilan terbaik pada Piala Dunia 1954 saat menjadi juara ketiga.
(Tribunnews.com/Giri)