TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Potensi gempa megathrust dalam periode ulang 200 tahunan bisa terjadi di DI Yogyakarta.
Potensi gempa ini bukan sekadar prakiraan, melainkan hasil penelitian dilakukan para pakar, pengamat, dan ahli kebencanaan.
Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IAKI) Dwikorita Karnawati, mengatakan sudah banyak studi yang menganalisa tentang potensi gempa megathrust di Indonesia.
“Dan para pakar itu juga tampaknya sepakat bahwa saat ini ada paling tidak beberapa lokasi, dua atau tiga lokasi yang harusnya sudah mengalami gempa Megathrust dalam periode ulang 200 tahun,” kata Dwikorita, seusai pertemuan ilmiah IAKI, di UMY, Rabu (6/5/2026).
Dalam hal ini Dwikorita menyampaikan ada beberapa lokasi yang berpotensi terjadinya gempa megathrust di antaranya Mentawai atau di Pulau Siberut, kemudian di Selat Sunda bagian selatan, sebagai pusat gempa Megatrustnya sumber gempanya.
“Nah, menurut para pakar dan beberapa pakar itu semacam sepakat itu. Dan ada juga yang di selatan Jawa Tengah, yang kurang lebih di selatan DIY,” ujar Dwikorita.
Dari sisi mitigasi, menurut perempuan yang pernah menjabat sebagai Kepala BMKG ini mengungkapkan, wilayah DIY sudah sangat siap mengantisipasi terjadinya gempa.
Salah satunya yakni pembangunan Bandara YIA yang secara desain bagunannya memiliki ketahanan gempa magnitudo 8,7.
Di sisi lain masyarakat DIY juga sudah sangat terlatih menghadapi kebencanaan melalui kolaborasi pemerintah, akademisi dan forum-forum pengurangan risiko bencana.
“Insya Allah kuat 8,7. Dan apabila terjadi tsunami, yang dikatakan megathust itu akan diikuti
tsunami,” ungkapnya.
"Nah, di sana (Bandara YIA) sudah dihitung, tsunami-nya mencapai ketinggian 10 meter lebih,
namun bandara itu sudah didesain antigempa dan tsunami, serta bisa menampung 10 ribu orang.
Megathrust adalah jenis gempa bumi terkuat yang terjadi di zona subduksi, yaitu pertemuan lempeng tektonik dangkal di mana satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Gempa ini berskala besar atau Magnitudo 8,0 akibat pelepasan energi tiba-tiba dari patahan naik dan berpotensi memicu tsunami dahsyat.
Tentang Megathrust:
Lokasi: Zona subduksi, seringkali di dasar palung samudera (pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, misalnya).
Mekanisme: Patahan naik (thrust) yang menumpuk energi dalam jangka waktu lama.
Dampak: Getaran dahsyat, potensi tsunami, dan kerusakan infrastruktur yang luas.
Karakteristik: Memiliki siklus ulang yang panjang, artinya jarang terjadi tetapi berpotensi melepaskan energi sangat besar.
Indonesia, sebagai negara di zona pertemuan lempeng, memiliki beberapa zona megathrust yang aktif.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi bencana ini dengan memantau informasi dari BMKG.