Kisah Tekat Tiga Dara Menjaga Napas Tenun Melayu di Tanah Riau, Bangga Berbagi Ilmu pada Kaum Muda
M Iqbal May 06, 2026 09:29 PM

Apa tanda Melayu beradat, ke anak cucu ianya ingat. Tunjuk Ajar Melayu karya budayawan, Alm. Tenas Effendy ini telah lama jadi penuntun cara hidup warga Riau. Di Tekat Tiga Dara, lewat tenun dan batik, budaya diturunkan dari yang tua pada yang muda. 

JARI-jari Afifah Safni terlihat lincah mengungkit benang berwarna hitam yang terpasang lungsin (vertikal) di sebuah Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Setelah sekitar lima hingga enam helai, Afifah menyelipkan benang pakan berwarna emas menyilang dari kanan ke kiri.

Lalu, Afifah menginjak pedal, menyentakkan tuas kayu yang membuat sekoci berisi benang pakan bergerak melintasi celah-celah benang. Setelah benang pakan lewat, gadis berhijab itu menarik sisir tenun yang membuat benang pakan rapat.

Gerakan tersebut dilakukan Afifah berkali-kali hingga membentuk kain tenun sepanjang 2,5 meter. Meski terbilang rumit, Afifah terlihat sabar melakukan tahap demi tahap proses menenun itu.

“Memang kuncinya harus sabar. Karena menenun manual begini, prosesnya tidak cepat,” tutur gadis 22 tahun itu menjawab pertanyaan Tribun. Untuk menyelesaikan kain sepanjang 2,5 meter, dibutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Waktu pengerjaan bisa bertambah bila motif yang diinginkan lebih rumit. 

Pada Jumat (24/4) lalu, Tribun bersama rombongan wartawan peserta BRI Fellowship Journalism 2026 berkunjung ke Candafa Tekat Tiga Dara di Jalan Dahlia Gang Jati Nomor 5, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru tempat Afifah menekuni aktivitas menenun dan membatik. 

Nama Tekat bermakna sulaman menggunakan benang emas atau perak. Sementara, Tiga Dara disematkan pemilik tempat usaha ini yang memiliki tiga anak perempuan. 

Dalam ruangan yang terbilang sempit, Afifah hari ke hari menggunakan ATBM itu untuk menghasilkan kain tenun khas Melayu. Selain menjadi pakaian, kain itu juga diolah menjadi berbagai produk. Seperti tanjak, selendang, hingga sampul kotak tisu.

Omzet lumayan besar

Produk-produk itu dipasarkan oleh Candafa Tekat Tiga Dara binaan Tengku Syarifah Nurila Zahara. Omzetnya bisa dikata lumayan bagi gadis muda seperti Afifah. Berkisar Rp7-10 juta per bulan. 

Mahasiswi Jurusan Bisnis Digital Universitas Lancang Kuning ini mengaku tertarik dengan dunia fesyen sejak lama. Ketertarikan itu pula yang mendorong Afifah terjun ke dunia tenun tradisi setelah lulus dari Jurusan Fashion Desain SMKN 3 Pekanbaru.

Di saat banyak anak muda gemar dengan produk fesyen modern hasil olahan mesin, Afifah justru tertarik mendalami tradisi menenun dan membatik. Bahkan, dengan ilmu yang ia peroleh di bangku sekolah, Afifah sudah menghasilkan produk tenun rancangannya sendiri.

“Memang belum dijual masif. Biasanya hasil rancangan itu saya promosikan di akun Instagram @ifyou.by.ifa. Kalau ada yang tertarik, bisa langsung dibeli,” tutur Afifah.

Menurutnya, selain menjaga tradisi Melayu agar tetap hidup, tenun manual juga punya keunggulan tersendiri dibanding tenun mesin. “Kalau pakai mesin, satu motif diproduksi banyak. Jadi kesannya biasa saja. Berbeda dengan tenun manual yang motifnya bisa custom. Kesan tiga dimensinya pun dapat,” tambahnya.

Dengan kekhasan tersebut, produk tenun manual disukai masyarakat. Walau dijual dengan harga lebih mahal, pembeli selalu ada. Kondisi itu pulalah yang menguatkan hati Afifah untuk terus menekuni tenun manual. 

Dia bilang, tenun manual akan selalu dicari meski produk fesyen olahan mesin merajai pasar. Afifah juga mendorong makin banyak anak muda Riau menekuni aktivitas menenun, membatik dan menyulam. Karena selain menghidupi tradisi, usaha ini masih cukup menjanjikan.     

Untuk diketahui, Candafa Tekat Tiga Dara adalah usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang punya perhatian besar pada anak muda. Bahkan, dari 10 pengrajin yang ada di sana, seluruhnya tergolong Generasi Z alias Gen Z. 

“Tujuannya ya supaya anak-anak muda ini yang meneruskan tradisi menenun dan membatik khas Melayu. Tradisi ini kami tanamkan ke mereka agar tidak hilang dimakan zaman,” ujar Pemilik Candafa Tekat Tiga Dara, Tengku Syarifah Nurila Zahara.

Sejak berdiri, katanya, UMKM ini aktif membagikan kemampuan yang dimiliki para pengrajin ke generasi yang lebih muda yang hendak belajar. Caranya dengan menggelar workshop bagi anak muda. 

Workshop tersebut seringkali diikuti mahasiswa dari berbagai kampus ternama di Riau. Seperti Universitas Riau, UIN Suska, Universitas Muhammadiyah Riau dan Universitas Islam Riau.

Selain itu, dengan tangan terbuka Candafa Tekat Tiga Dara menampung siswa SMK yang ingin magang. Tak jarang, beberapa di antaranya berminat bekerja di sana. “Jadi kebanggaan bagi kami dapat mengajar anak-anak muda,” tutur Nurila. 

Workshop dan magang itu cukup efektif menyadarkan anak muda bahwa menenun dan membatik juga bisa mendatangkan keuntungan materi bagi mereka.

Sejak berdiri di 2006, Candafa Tekat Tiga Dara juga kerap menjadi lokasi riset atau penelitian dosen perguruan tinggi dalam maupun luar Riau.

Inilah yang menjadi salah satu alasan Nurlia mempertahankan Candafa Tekat Tiga Dara. “Supaya bermanfaat bagi anak muda,” kata dia.

Hingga kini, Nurila mempertahankan proses produksi lebih banyak manual agar nilai karya tetap tinggi. Memang, katanya, kain tenun hasil mesin atau batik printing bisa dibeli meteran. Namun, motifnya tentu pasaran. Berbeda bila dikerjakan manual. Hasilnya yang khas membuat nilai kain lebih tinggi. 

Dukungan BRI

Beruntung, semangat Nurila menghidupkan tradisi didukung oleh Bank BRI. Bukan sekadar kata, pada 2022 pihak BRI memberikan alat produksi bagi Candafa Tekat Tiga Dara. ATBM yang dipakai Afifah merupakan bantuan BRI.

Dengan alat itu, mereka yang awalnya menggunakan hasil tenun pengrajin lain sudah bisa memproduksi kain sendiri. Tentunya dengan motif yang lebih beragam dan sesuai permintaan konsumen.

BRI juga memberikan pelatihan menenun, membatik, membuat kemasan menarik, pemasaran digital melalui media sosial, mengajak ikut dalam pameran-pameran hingga menjadi pelanggan tetap di Candafa Tekat Tiga Dara. Dengan bantuan itu, Candafa Tekat Tiga Dara semakin dikenal luas. 

Dalam pertemuan yang dihadiri Regional CEO BRI Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana akhir April 2026 lalu, Department Head Ultra Micro BRI Region 2 Pekanbaru, Widia Apriani menyampaikan bahwa Candafa Tekat Tiga Dara adalah satu dari sekian klaster UMKM yang dibantu lembaga perbankan plat merah tersebut.

Dengan dukungan BRI, Tekat Tiga Dara saat ini semakin meluas dan sering dipanggil dalam beberapa kegiatan. Mulai dari tingkat kelurahan hingga provinsi. 

Widia juga membeberkan komitmen BRI mendukung pelaku UMKM agar semakin berkembang. Tidak hanya melalui bantuan dana, tapi juga pelatihan-pelatihan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha.

Mempertahankan tradisi semestinya menjadi pekerjaan rumah bagi generasi muda. Bagaimana mereka perlu memikirkan keberlangsungan kekayaan budaya yang ada di negeri ini. “Jangan sampai anak muda kita tidak tahu dengan kekayaan budayanya,” tutup Nurila.

(Tribunpekanbaru.com/Hendra Efivanias)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.