Dulunya Bergantung Hasil Laut, Kini Warga Desa Sawang Laut Kepri Punya Banyak Sumber Penghasilan
Malvyandie Haryadi May 06, 2026 11:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Transformasi ekonomi desa pesisir mulai terlihat di Desa Sawang Laut, Pulau Kundur, Kepulauan Riau.

Pulau Kundur merupakan salah satu pulau utama di wilayah Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, yang letaknya sangat strategis di jalur pelayaran internasional. 

Secara geografis, pulau ini berada di sebelah selatan Pulau Karimun Besar dan berbatasan langsung dengan Selat Malaka serta wilayah administratif Provinsi Riau di daratan Sumatera.

Pulau ini terbagi menjadi beberapa kecamatan, dengan Kota Tanjung Batu sebagai pusat ekonomi dan pelabuhan utamanya yang menghubungkan mobilitas warga menuju Batam, Tanjungpinang, hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.

Lahan di daerah tersebut yang sebelumnya tidak produktif kini dimanfaatkan warga sebagai pusat kegiatan usaha berbasis potensi lokal.

Kelompok Tuah Bersatu menjadi motor penggerak perubahan tersebut. 

Berawal dari ketergantungan pada hasil melaut yang tidak menentu, warga mulai mencari alternatif sumber penghasilan yang lebih stabil.

Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran (46), mengatakan inisiatif ini lahir dari kebutuhan untuk bertahan di tengah ketidakpastian hasil tangkapan laut.

“Dulu kami hanya mengandalkan melaut. Kalau cuaca buruk, tidak ada pemasukan. Dari situ kami mulai berpikir mencari usaha lain,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Budidaya Kakap Putih Jadi Awal Pemberdayaan

Upaya pemberdayaan masyarakat pesisir ini dimulai dengan budidaya kakap putih sejak 2022 dan mulai aktif berjalan pada 2023.

Seiring waktu, kegiatan usaha berkembang ke berbagai sektor.

Kini, Kelompok Tuah Bersatu mengelola sejumlah unit usaha seperti hidroponik, produksi terasi, peternakan ayam petelur, hingga pengembangan bank sampah.

“Semua kami lakukan bertahap. Dari kakap, lalu hidroponik, terasi, sekarang ayam petelur dan bank sampah,” jelas Amran.

Perkembangan usaha ini mulai memberikan dampak nyata bagi perekonomian warga.

Unit peternakan ayam petelur mampu menghasilkan omzet sekitar Rp10–12 juta per bulan dari penjualan sekitar 100 ekor ayam.

Sementara itu, usaha hidroponik yang dikelola ibu rumah tangga menghasilkan sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan sawi manis yang dipasarkan ke masyarakat sekitar.

“Memang belum besar, tapi sangat membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Peningkatan SDM Jadi Dampak Terbesar

Selain peningkatan pendapatan, manfaat signifikan juga terlihat dari sisi peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

Warga yang sebelumnya hanya berfokus pada aktivitas melaut kini mulai memahami teknik budidaya, pengelolaan usaha, hingga manajemen kelompok.

“Kami jadi belajar banyak hal, mulai dari teknis sampai manajemen. Itu yang paling terasa manfaatnya,” ujar Amran.

Ke depan, kelompok berharap dapat mengembangkan pakan mandiri untuk budidaya ikan guna menekan biaya operasional dan meningkatkan kemandirian usaha.

“Harapan kami program ini terus berlanjut, agar kami bisa lebih mandiri dan memberi manfaat lebih luas,” kata Amran.

Bagi warga Desa Sawang Laut, perubahan ini bukan sekadar peningkatan ekonomi, tetapi juga proses pembelajaran kolektif.

Dari yang semula bergantung pada laut, kini masyarakat mulai bertransformasi menjadi pelaku usaha yang aktif membangun masa depan ekonomi desa.

Transformasi ini menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan masyarakat pesisir, didukung kolaborasi berbagai pihak, mampu menciptakan ketahanan ekonomi berbasis potensi lokal di Kepulauan Riau.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.