TRIBUNNEWS.COM - Pihak SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur, akhirnya buka suara terkait meninggalnya salah satu siswanya, Mandala Rizky Syahputra (16), yang sebelumnya ramai dikaitkan dengan dugaan infeksi akibat memakai sepatu kekecilan.
Melalui keterangan resmi yang diunggah di akun Instagram sekolah pada Senin (4/6/2026), pihak sekolah memaparkan kronologi lengkap kondisi Mandala hingga akhirnya meninggal dunia pada 24 April 2026.
Dalam penjelasannya, sekolah menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti medis yang menyatakan sepatu menjadi penyebab kematian Mandala.
Bahkan, disebutkan tidak ditemukan luka pada bagian kaki seperti tumit maupun jari, melainkan pembengkakan terjadi di bagian punggung kaki.
“Sepatu bukan penyebab kematian. Tanpa diagnosis medis yang lengkap, maka sepatu tidak dapat disebut sebagai penyebab kematian karena belum terbukti,” tulis pihak sekolah.
Mandala diketahui berasal dari keluarga kurang mampu. Selama ini, pihak sekolah telah memberikan berbagai bantuan, mulai dari perlengkapan sekolah, sembako, zakat, hingga bantuan uang tunai untuk kebutuhan pengobatan.
Kronologi menunjukkan, kondisi kesehatan Mandala mulai menurun sejak awal April 2026. Ia sempat terlihat pucat di sekolah pada 1 April dan diminta untuk beristirahat di rumah.
Dalam beberapa hari berikutnya, Mandala beberapa kali izin sakit dan tidak mengikuti kegiatan belajar.
Pada 10 April, ibu Mandala datang ke sekolah meminta bantuan biaya pengobatan non-medis.
Sekolah pun memberikan bantuan dari kas masjid serta menyarankan agar Mandala diperiksa ke fasilitas kesehatan. Namun, berdasarkan keterangan keluarga, Mandala tidak pernah dibawa ke dokter.
Kondisi Mandala semakin mengkhawatirkan saat ia mengirim foto kakinya yang membengkak kepada wali kelas pada 20 April. Pihak sekolah kemudian melakukan kunjungan langsung ke rumah dan menemukan kondisi Mandala sudah lemah.
Baca juga: Kronologi Lengkap Siswa Meninggal Diduga karena Terpaksa Pakai Sepatu Kekecilan, Sekolah Membantah
Sekolah juga berupaya membantu pengaktifan BPJS milik keluarga Mandala yang tidak aktif, serta merencanakan bantuan lanjutan berupa pengobatan dan pembelian sepatu baru.
Fakta baru terungkap saat kunjungan kedua pada 23 April. Ibu Mandala mengakui bahwa sepatu anaknya sudah tidak muat, namun ia melarang Mandala menceritakan kondisi tersebut kepada pihak sekolah.
“Jangan sampai orang tahu kita kesusahan,” pesan itu yang diingat oleh Mandala, sebagaimana disampaikan pihak sekolah.
Menanggapi hal itu, wali kelas langsung berinisiatif menggalang bantuan untuk membelikan sepatu baru dan merencanakan membawa Mandala ke puskesmas keesokan harinya.
Namun, sebelum rencana tersebut terlaksana, kabar duka datang pada Jumat dini hari, 24 April 2026. Mandala dinyatakan meninggal dunia di rumah.
Melihat kondisi ekonomi keluarga, pihak sekolah turut membantu proses pemulasaran jenazah hingga pemakaman, serta menggalang donasi dari siswa dan guru.
Sekolah juga menegaskan bahwa informasi terkait penyakit Mandala selama ini bersifat non-medis. Keluarga hanya memberikan penanganan sederhana seperti minyak angin dan vitamin, karena mengira Mandala mengalami kurang darah.
“Atas kejadian ini, kami berharap tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menjadi pelajaran bersama,” tulis pihak sekolah.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik sekaligus pengingat pentingnya akses layanan kesehatan dan keterbukaan dalam menyampaikan kondisi ekonomi maupun kesehatan, terutama bagi pelajar.