TRIBUN-BALI.COM - Lebih dari 550 seniman lintas etnis terlibat dalam tari kolosal. Para seniman ini menjadi penampil utama pada Singa Kren Festival.
Garapan kolosal ini memadukan berbagai unsur budaya yang hidup di Buleleng, mulai dari Bali, Tionghoa, Buddha hingga Muslim, dalam satu panggung pertunjukan. Ketua Sanggar Santhi Budaya, I Gusti Ngurah Eka Prasetya, mengatakan konsep tersebut mengedepankan akulturasi dengan pendekatan musikal yang tidak biasa.
Sebanyak 87 penari dan 26 penabuh akan tampil dengan iringan gamelan gong kebyar khas Buleleng. Menariknya, satu perangkat gong kebyar digunakan untuk mengiringi berbagai karakter musik lintas etnis, baik bernuansa pentatonis maupun diatonis.
Baca juga: LIBATKAN 12.971 Siswa dari 238 Sekolah, Yoga Asana di Denpasar Pecahkan Rekor MURI
Baca juga: LOWONGAN Kerja, Kekurangan 3 Dokter Spesialis, Meski Sudah Beroperasi RSUD Giri Asih Terhambat SDM!
"Biasanya tiap etnis punya karakter musik berbeda. Di sini kami coba satukan dalam satu iringan gong kebyar," ujarnya, Selasa (5/5).
Singa Kren Festival merupakan festival kecamatan perdana yang digelar oleh Kecamatan Buleleng. Sesuai jadwal, acara ini akan berlangsung pada 8 Mei hingga 10 Mei 2026, bertempat di Pelabuhan Tua Buleleng.
Camat Buleleng, Putu Gopi Suparnaca, menjelaskan Singa Kren Festival menjadi wadah kolaborasi kreativitas seni yang berkembang di masyarakat. Nama "Singa Kren" sendiri merupakan gabungan dari Singaraja dan kreativitas seni.
Festival ini mengusung tema Purwaning Sastrotsawa Pragati, yang menekankan nilai budaya, tradisi, dan filsafat sebagai dasar kemajuan daerah. Selain pertunjukan kolosal, berbagai kegiatan lain turut digelar.
Seperti pentas seni budaya, musik modern, pameran UMKM dan kuliner, pelayanan publik, hingga hiburan masyarakat seperti fun run, zumba, lomba karaoke, dan fashion show.
"Melalui festival ini, kami berharap dapat mendorong pelestarian budaya sekaligus memperkuat geliat ekonomi kreatif masyarakat di Buleleng," tandasnya. (mer)