TRIBUNSORONG.COM, TEMINABUAN - Strategi pencegahan stunting di Kabupaten Serang Selatan difokuskan pada penguatan edukasi keluarga berencana (KB), pendampingan keluarga berisiko, serta peningkatan kesadaran penggunaan kontrasepsi di masyarakat.
Baca juga: Polemik Jabatan Kepala Kampung, Kantor DPMK Sorong Selatan Dipalang, Wabup Beri Penjelasan
Plt. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Lenni Astuti Wariani Siringo Ringo menegaskan, pendekatan utama bukan hanya pada layanan kesehatan, tetapi perubahan pola pikir masyarakat dalam merencanakan keluarga.
“Dengan penggunaan alat kontrasepsi, kita bisa memastikan jarak kehamilan lebih terencana. Ini penting untuk kesehatan ibu dan anak, sekaligus mencegah stunting,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Baca juga: Jalan Penghubung 3 Kampung di Kais Darat Sorong Selatan Segera Diperbaiki, Anggaran Awal CSR Sawit
Menurutnya, rendahnya minat terhadap metode kontrasepsi jangka panjang masih menjadi tantangan.
Mayoritas masyarakat masih memilih metode suntik dibandingkan implant atau IUD.
“Ini berkaitan dengan faktor budaya dan pemahaman. Masih ada anggapan bahwa kontrasepsi tertentu membuat tidak bisa punya anak lagi, padahal itu tidak benar,” ujarnya.
DPPKB mengoptimalkan peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas mendata dan mendampingi keluarga beresiko, terutama yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Tim pendamping ini melihat kondisi keluarga, mulai dari ekonomi hingga jumlah anak, sehingga intervensi bisa tepat sasaran,” katanya.
Edukasi mengenai risiko kehamilan digencarkan, khususnya terkait konsep 4T yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak melahirkan.
Baca juga: Kunjungan Bupati Sorong Selatan ke Distrik Kais Darat Disambut Fragmen Derita Infrastruktur
Berdasarkan data, angka prevalensi stunting di Sorong Selatan saat ini berada di kisaran 11 persen.
Wilayah pesisir disebut masih menjadi penyumbang angka tertinggi.
Sebagai upaya penjangkauan, DPPKB menggandeng berbagai organisasi, termasuk organisasi profesi seperti Ikatan Bidan Indonesia (IBI).
Baca juga: SMP Yapis Teminabuan Sorong Selatan 4 Kali jadi Sasaran Pencurian, Sekolah Ambil Langkah
Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Sorong Selatan Anita A Howay mengatakan, wilayah terpencil dan sulit dijangkau seperti Kokoda menjadi tantangan utama dalam memberikan layanan kesehatan secara merata.
“Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia belum sebanding dengan luas wilayah pelayanan,” katanya.
Akibatnya, pemantauan kesehatan masyarakat, termasuk balita berisiko stunting, tidak dapat dilakukan secara intensif.
Baca juga: Pencurian di SMP Yapis Sorong Selatan: 15 Laptop dan Proyektor Hilang, Ada Tulisan “Maaf Bu Guru”
Mengatasi hal tersebut, peran kader dan PKK menjadi sangat penting.
“Kami hanya bisa pelayanan rutin seperti posyandu sebulan sekali. Di luar itu, ada tim pendamping keluarga, kader dan PKK kampung ikut mendampingi keluarga secara langsung,” kata Anita.
Selain faktor geografis, kesadaran masyarakat juga menjadi tantangan.
“Ini kembali ke kesadaran masyarakat. Kami terus melakukan sosialisasi, tapi memang butuh waktu,” katanya.
Pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan dan organisasi terkait terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan melibatkan masyarakat secara aktif.
“Kami akan terus berupaya menjangkau wilayah terpencil dan meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar angka stunting bisa ditekan,” ujar Anita. (tribunsorong.com/astri)