Akademisi Unila Ungkap Tantangan Produktivitas Tapioka saat Ekspor Mulai Menjanjikan
Robertus Didik Budiawan Cahyono May 07, 2026 12:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Provinsi Lampung dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat pasar ekspor tepung tapioka seiring posisinya sebagai salah satu daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia.

Provinsi Lampung berhasil memecahkan rekor pengiriman (ekspor) tapioka 3.330 ton ke Tiongkok, dengan senilai Rp 26 miliar. Ekspor secara resmi dilepas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Selasa (5/5/2026) di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung Asrian Hendi Cahya mengatakan sektor singkong selama ini menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak petani di Lampung.

Menurutnya, hilirisasi komoditas singkong di Lampung juga terus berkembang. Terutama melalui industri tepung tapioka yang kini menjadi sektor utama pengolahan hasil singkong.

"Ekspor tapioka sangat menjanjikan, bukan hanya bagi petani dan industri, tetapi juga bagi perekonomian Lampung. Karena singkong petani memiliki pasar, tepung tapioka juga memiliki pasar. Nilai tambah dari petani dan industri akan menggerakkan ekonomi daerah secara berkelanjutan," ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Baca juga: Gubernur Lampung Dorong Kemitraan Industri Tapioka dengan Petani Singkong Perkuat Hilirisasi Ekspor

Asrian menjelaskan, pembangunan ekonomi daerah memang harus ditopang sektor produktif yang kemudian bergerak secara simultan dengan kegiatan distribusi dan konsumsi.

Ia menyebut pasar ekspor tapioka saat ini banyak ditujukan untuk industri pangan dan kertas.

Namun, untuk sektor kertas diperkirakan permintaannya cenderung stagnan bahkan menurun akibat perkembangan teknologi yang mengurangi penggunaan kertas.

Sebaliknya, sektor pangan dinilai memiliki prospek lebih besar di masa mendatang. Tren konsumsi sehat disebut menjadi peluang tersendiri bagi produk berbahan tapioka karena dikenal bebas gluten atau gluten free.

"Tren pangan sehat akan membuat permintaan tapioka semakin besar karena cocok dengan kebutuhan konsumen saat ini," katanya.

Meski demikian, Asrian menilai tantangan utama ekspor tapioka Lampung masih berada pada aspek daya saing.

Karena itu, produktivitas singkong perlu ditingkatkan dari rata-rata saat ini sekitar 25–30 ton per hektare menjadi di atas 40 ton per hektare.

Menurutnya, peningkatan tersebut harus didukung pembenahan budidaya singkong, mulai dari penggunaan bibit unggul dengan kadar pati tinggi, dukungan irigasi, hingga pemenuhan pupuk.

Selain sektor hulu, efisiensi industri pengolahan juga perlu diperkuat. Saat ini, industri masih membutuhkan sekitar 4,5 hingga 5 kilogram singkong untuk menghasilkan 1 kilogram tepung tapioka.

"Teknologi industri harus terus ditingkatkan agar lebih hemat energi dan lebih efisien dalam penggunaan bahan baku sehingga biaya operasional bisa ditekan," jelasnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Lampung saat ini tengah mendorong peningkatan produktivitas melalui pengembangan cassava center bersama Universitas Lampung. Serta membangun sinergi dengan industri tapioka guna meningkatkan efisiensi dan daya saing produk.

Tak hanya itu, aspek logistik juga dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung ekspor tapioka Lampung.

Asrian menilai kapasitas dan kualitas layanan Pelabuhan Panjang perlu terus ditingkatkan sebagai pintu utama ekspor.

"Biaya logistik masih menjadi salah satu kelemahan produk kita di pasar luar negeri. Karena itu jalan menuju sentra produksi harus semakin baik agar biaya transportasi bisa ditekan," katanya.

Ia menambahkan keberadaan jalan tol sudah cukup membantu distribusi barang, namun pengembangan kawasan industri juga diperlukan untuk mendukung penyediaan infrastruktur yang lebih efisien bagi industri pengolahan tapioka di Lampung.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.