Sejarah Panjang Bus ALS yang Kecelakaan di Muratara, PO Legendaris Keluarga Lubis Berdiri Sejak 1966
Fadhila Rahma May 07, 2026 02:27 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kecelakaan maut yang melibatkan Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki PT Seleraya di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga.

Kecelakaan maut ini juga membuat publik menyorot sejarah panjang PO ALS sebagai salah satu perusahaan otobus legendaris di Indonesia.

Bus ALS selama puluhan tahun dikenal sebagai transportasi andalan masyarakat lintas Sumatera hingga Jawa.

Nama ALS bahkan identik dengan perjalanan jarak jauh antarkota antarprovinsi menggunakan armada bus berwarna hijau khas yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Di tengah proses identifikasi korban kecelakaan maut yang menewaskan 16 orang tersebut, sejarah panjang perusahaan otobus asal Sumatera Utara itu kembali menjadi perhatian.

PO ALS atau Antar Lintas Sumatera merupakan perusahaan transportasi umum asal Medan, Sumatera Utara yang berdiri sejak 29 September 1966.

Perusahaan ini dirintis oleh tujuh bersaudara bermarga Lubis, yakni Sati Lubis, Nursewan Lubis, Jasanti Lubis, Jagu Lembang Lubis, Muhammad Arif Lubis, Hanafiah Lubis, serta satu nama lain yang hingga kini disebut masih tentatif.

Sati Lubis tercatat sebagai pemilik pertama sekaligus tokoh penting dalam perkembangan ALS pada masa awal berdiri.

Awalnya, ALS bukan langsung menjadi perusahaan bus besar seperti sekarang.

Usaha transportasi ini dimulai dari pengoperasian truk angkutan barang yang kemudian berkembang menjadi layanan angkutan penumpang.

Pada masa awal operasional, ALS hanya melayani trayek antarkota dalam provinsi dengan rute Medan–Kotanopan menggunakan armada Chevrolet C50.

Namun seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi darat, ALS mulai memperluas trayek dengan membuka rute Medan–Bukittinggi yang menjadi salah satu jalur penting di Sumatera saat itu.

Perkembangan ALS semakin pesat pada tahun 1972. Perusahaan ini mulai membuka trayek ke berbagai kota besar di Pulau Sumatera seperti Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang hingga Bandar Lampung.

Pada masa itu, ALS menjadi salah satu PO yang dikenal berani membuka jalur lintas provinsi dengan jarak tempuh sangat panjang.

Bahkan sebelum kendaraan dapat menyeberang langsung ke Pulau Jawa menggunakan kapal ferry ro-ro, ALS sudah lebih dulu melayani penumpang menuju Pulau Jawa melalui sistem agen penghubung di Pelabuhan Merak.

Baca juga: Herman Deru Hubungi Bobby Nasutian, Pastikan Bantuan Proses Pemulangan 16 Jenazah ke Daerah Asal

Memasuki era 1980-an, ketika kapal ferry ro-ro mulai memungkinkan kendaraan menyeberang langsung ke Jawa, ALS memperluas trayeknya ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya.

Tak berhenti di situ, ALS juga membuka rute menuju Malang dan Jember.

Perjalanan ALS bahkan sempat mencapai Pulau Bali. Namun trayek jarak sangat jauh tersebut akhirnya ditutup pada tahun 2003 karena pertimbangan waktu tempuh yang terlalu panjang serta kondisi armada.

Selain dikenal karena trayeknya yang luas, ALS juga memiliki ciri khas kuat dari sisi armada.

PO ALS mempertahankan warna hijau tua dan hijau muda sebagai identitas utama armadanya selama puluhan tahun.

Bus-bus ALS juga identik dengan tempat khusus di bagian atap untuk membawa barang dan paket kiriman. Karena itulah ALS mendapat julukan “Raja Paket”.

Dari sisi teknis, ALS dikenal menggunakan armada dengan sasis Mercedes-Benz yang terkenal tangguh untuk perjalanan jarak jauh.

Beberapa armada lawas ALS bahkan masih menggunakan Mercedes-Benz OH 1521 yang populer dengan julukan “Setir Tampah” karena ukuran kemudinya yang besar.

PROSES IDENTIFIKASI -Proses identifikasi korban kecelakaan maut Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) di Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum), wilayah Kelurahan Karang Jaya di RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang untuk menjalani proses identifikasi lanjutan, Kamis (7/5/2026).
PROSES IDENTIFIKASI -Proses identifikasi korban kecelakaan maut Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) di Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum), wilayah Kelurahan Karang Jaya di RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang untuk menjalani proses identifikasi lanjutan, Kamis (7/5/2026). (Sripoku.com/Andi Wijaya)

Sementara armada modern ALS menggunakan sasis Mercedes-Benz OH 1526 dan OH 1626 yang dirancang untuk perjalanan lintas Sumatera dengan medan berat dan jalur panjang.

Sasis tersebut dipadukan dengan berbagai karoseri ternama di Indonesia seperti Tentrem, Morodadi Prima dan Adi Putro.

Karoseri Tentrem digunakan pada sejumlah unit dengan model Avante H8 Facelift yang memiliki desain modern dan minimalis.

Sedangkan Morodadi Prima menghadirkan bodi Patriot TU dengan tampilan kokoh khas bus AKAP.

ALS juga menggunakan bodi Jetbus dari Adi Putro yang dikenal memiliki desain agresif dengan lampu modern.

Tak hanya armada dan warna khas, ALS juga memiliki sistem penomoran bus unik yang dikenal dengan istilah nomor pintu.

Digit terakhir pada nomor pintu menjadi penanda kepemilikan armada oleh keluarga tertentu karena ALS merupakan perusahaan keluarga besar.

Misalnya angka 1 merupakan milik keluarga Sati Lubis, angka 7 milik keluarga Muhammad Arif Lubis, sementara angka 9 dan 0 dimiliki keluarga Nursewan Lubis dan Rangkuti.

Kini, setelah hampir enam dekade beroperasi melayani perjalanan masyarakat lintas Sumatera dan Jawa, nama ALS kembali menjadi perhatian publik usai kecelakaan maut di Jalinsum Muratara.

Insiden tragis yang melibatkan Bus ALS dan truk tangki PT Seleraya tersebut menewaskan 16 orang setelah kedua kendaraan terbakar hebat usai bertabrakan.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kecelakaan maut tersebut.

JENAZAH KORBA- Jenazah korban bus ALS terbakar di Muratara, Rabu (6/5/2026).
JENAZAH KORBA- Jenazah korban bus ALS terbakar di Muratara, Rabu (6/5/2026). (Handout)

HD Langsung Hubungi Bobby Nasution

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, mendatangi RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang, Kamis (7/5/2026).

Kedatangan orang nomor satu di Sumsel ini untuk melihat langsung penanganan korban kecelakaan maut Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki minyak yang terjadi di Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Rabu (6/5/2026).

Kecelakaan tersebut menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan sejumlah korban lainnya mengalami luka-luka.

Dalam kunjungannya, Herman Deru menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban yang ditinggalkan.

“Saya hadir dengan rasa kemanusiaan kepada keluarga yang ditinggalkan dan saya juga akan mengabarkan kepada sahabat saya Bobby Nasution (Gubernur Sumut) yang turut berbelasungkawa,” ujar Herman Deru, Kamis (7/5/2026).

Deru juga meminta PT Jasa Raharja agar memberikan bantuan santunan kepada seluruh korban tanpa membedakan latar belakang masyarakat.

“Kami minta kepada Jasa Raharja untuk tidak pandang bulu dalam memberikan bantuan santunan,” katanya.

Selain itu, Herman Deru mengatakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan membantu proses pemulangan jenazah para korban ke daerah asal masing-masing.

“Saya dan Pak Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara, akan membantu pemulangan jenazah ke kediamannya masing-masing atas dasar kemanusiaan,” ujarnya.

Selama proses identifikasi berlangsung di Palembang, Pemprov Sumsel juga menyiapkan bantuan kebutuhan bagi keluarga korban.

“Pemprov Sumsel turut membantu makan dan minum selama proses identifikasi berlangsung di Palembang,” tutupnya.

Sebelumnya, kecelakaan maut antara Bus ALS dan truk tangki minyak terjadi di Jalinsum Muratara dan menyebabkan kendaraan terbakar hebat. Polisi masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kecelakaan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.