Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Aflahul Abidin
TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Pengolahan sampah berbasis silkular di wilayah Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, berdampak nyata bagi lingkungan.
Yang paling terlihat jelas, sempadan sungai di Desa Songgon yang dulunya jadi tempat pembuangan sampah oleh warga berubah, kini menjadi tertata, bersih, dan rapi.
Baca juga: Terdakwa Korupsi Asrama Santri Gresik Gugat Jaksa Agung, Diduga Ada Kesalahan Penyitaan Aset
Sempadan sungai tersebut berada di jalan utama di Dusun Krajan.
Sempadan Sungai Binau dulu berada tepat di pinggir jalan.
Selama puluhan tahun, tumpukan sampah menggunung di sepedan sungai itu.
"Dulu bau sekali. Kalau hujan, bau busuk sampai ke dalam kamar," kata Rini Setyawati, warga yang rumahnya berada persis di seberang sepadan sungai, Kamis (7/5/2026).
Kondisi tersebut sudah berlangsung puluhan tahun.
Rini mengaku, sejak ia lahir dan tinggal di rumahnya itu, sempadan sungai sudah menjadi gunungan sampah.
Warga sudah menganggap tempat tersebut sebagai lokasi pembuangan sampah.
"Di sini dekat dengan Pasar Songgon, dulu semua sampah pasar di buang di sini," kata dia.
Kondisi tersebut berubah 180 derajat setelah Pemkab Banyuwangi membuat program pengolahan sampah silkular dengan membangun Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse and Recycle (TPS3R) di Desa Baluk, Kecamatan Songgon, tahun 2023.
Kepala Desa Songgon, Qoderi mengatakan, sejak TPS3R beroperasi, sebanyak 400 rumah tangga menjadi pelanggan.
Sejak saat itu, banyak warga yang tak lagi membuang sampah sepadan sungai.
Sampah-sampah rumah tangga dari keluarga tersebut diangkut oleh para petugas TPS3R Balak.
Yang menarik, mereka juga diajari untuk memilah sampah organik dan anorganik mulai dari rumah.
"Karena sudah ada tempat pengolahan sampah, sempadan sungai kami bersihkan secara gotong royong. Ada berton-ton sampah yang diangkut dari sana," tambah Qoderi.
Setelah mayoritas sampah berkurang drastis, warga bergotong royong membersihkan sempadan sungai.
Pihak desa juga membangun pembatas pinggir jalan agar warga tak membuang sampah di sana.
Dampaknya, sempadan sungai kini bersih dan rapi.
Warga juga banyak yang datang ke sana untuk bersantai membuang waktu sembari melihat arus sungai yang mengalir bersih.
Sejak beroperasi 2023, TPS3R Balak telah menjangkau 73 desa di berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi, Dwi Handajani menyampaikan, capaian tersebut merupakan hasil dari penguatan layanan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang terus diperluas.
"Ini bukan hanya soal pengangkutan sampah, tetapi membangun sistem pengelolaan dari hulu ke hilir."
"Dengan bertambahnya desa terlayani, kami melihat peningkatan kesadaran masyarakat dalam memisah dan mengelola sampah secara mandiri," kata Dwi.
Baca juga: Gerebek Arena Sabung Ayam di Mangaran, Pemilik Aduan Lari Tunggang Langgang ke Sawah
Dari keseluruhan wilayah terlayani, tercatat total 15.304 ton sampah berhasil dikumpulkan hingga akhir April 2026.
Dari jumlah tersebut, 8.548 ton merupakan sampah organik yang telah dikelola melalui berbagai metode pengolahan seperti komposting dan pengolahan berbasis TPS.
Sementara itu, 3.623 ton sampah anorganik berhasil dikelola melalui kegiatan pemilahan, daur ulang, dan kemitraan dengan sektor pengelola material daur ulang.