TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Bayi usia dua tahun jadi korban meninggal dunia di kecelakaan maut bus ALS.
Bayi itu tewas satu keluarga bersama ayah dan ibunya.
Padahal mereka sempat tertinggal bus sebelum akhirnya tewas dalam kecelakaan itu.
Keluarga kecil yang terdiri dari Aldi (27), Rani (24), dan Bella (2) itu berangkat dari Lampung ke Palembang untuk memperbaiki nasib.
Mereka punya mimpi membangun rumah kecil untuk tempat berteduh.
Sebab selama ini mereka tinggal menumpang di rumah keluarga.
Apalagi Aldi juga bekerja serabutan di Way Kanan, Lampung.
Dengan tekad yang kuat, Aldi meminta izin kepada ayahnya, Hambali (56) untuk merantau.
Ia ingin mengubah nasib di Palembang dengan mengurus kebun sawit milik keluarga.
Aldi pun membawa serta istri dan anaknya, dan berangkat sejak Selasa (4/5/2026).
Hambali mendapatkan kabar kecelakaan maut bus ALS yang terbakar di Jalinsum wilayah Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, pada Rabu (6/5/2026).
Ia pun langsung berangkat menuju ke Palembang dari Way Kanan, Lampung.
Hambali menunggu di posko DVI untuk menanti kepastian nasib anak, menantu, dan cucunya itu.
"Baru sampai sini (Palembang) jam 7 pagi tadi diantar saudara naik travel. Ada cucu dan anak saya di bus tersebut," kata Hambali, Kamis (7/5/2026).
Tangan kanan Hambali tak lepas dari sebatang rokok, ia terus mengisap tembakau untuk menenangkan diri menanti kabar.
Hambali sesekali tertunduk, tatapan matanya kosong kembali melihat ke atas tenda posko sembari memegang ponsel.
"Tidak tahu lagi hati saya ini seperti apa. Cucu, anak saya, ada dalam bus," ujarnya.
Niat Ubah Nasib
Hambali menuturkan, tujuan Aldi bersama keluarga kecilnya ke Pekanbaru yakni untuk mengubah nasib.
Baca juga: Identitas 10 Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS Tabrak Truk Tangki, 6 Masih Proses Identifikasi
Ia berangkat ke Pekanbaru, Riau, untuk menggarap lahan kebun sawit milik keluarganya.
Ia pun membawa anak istrinya ke tanah rantau untuk mengubah nasib.
Namun, niat itu pun kandas setelah tragedi kecelakaan dari bus ALS yang menghantam truk tangki minyak hingga 16 orang tewas terbakar.
“Anak saya itu (Aldi) kerja di Way Kanan, serabutan, mau dapat penghasilan lebih jadi berangkat ke Pekanbaru untuk menggarap lahan kebun sawit milik keluarga," jelasnya.
Sebelum berangkat menaiki bus ALS, Aldi sebetulnya sempat ketinggalan bus sebelum menaiki PO ALS.
Karena jadwal pada saat itu hanya ada satu bus, ia kemudian langsung berangkat menggunakan bus ALS.
“Sebetulnya, berat melepas anak saya mau merantau, tetapi terjadi seperti ini akhirnya," ujarnya.
Mimpi Bangun Rumah
Sementara itu, Kamdi (45), paman kandung dari Rani, mengatakan, keponakan kandungnya itu punya mimpi untuk membangun rumah sendiri untuk keluarga kecil mereka.
Niat itu sempat menyentuh hati Kamdi.
Baca juga: Pengakuan Korban Selamat Kecelakaan Maut Bus ALS, Kondisi Bus Bikin Resah: Firasat Nggak Enak
Ia lantas patungan bersama keluarganya yang lain untuk membeli semen dan pasir membuat batako.
"Karena saya bisa nukang bangunan, akhirnya saya belikan pasir dan semen untuk cetak batako. Aldi sempat mencetak batako itu 200 buah," kata Kamdi.
Belum sempat rumah itu dibangun, Aldi pun mengutarakan rencananya kepada Kamdi untuk merantau ke Pekanbaru menggarap lahan sawit keluarga.
Meski sedikit berat, Kamdi akhirnya merestui rencana mereka untuk berangkat.
"Saya waktu itu merasa dia mau bertanggung jawab sama keluarganya. Rencana Aldi merantau ingin bangun rumah di sana, padahal memang mau dibangunkan rumah untuk mereka di Lampung," ujarnya.
Mimpi memiliki rumah di tanah rantau yang diidamkan Aldi pun kini kandas.
Mereka satu keluarga tewas terbakar dalam kecelakaan maut tersebut.
Saat ini, pihak keluarga masih menunggu hasil identifikasi Polda Sumatera Selatan.
"Rencananya Rani sama anaknya mau dimakamkan satu liang, suaminya dipisah," kata Kamdi.
https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t