TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gelombang dukungan terkait usulan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II sebagai pahlawan nasional terus mengalir deras di wilayah DI Yogyakarta.
Penguatan usulan pun datang dari kolaborasi kalangan akademisi dan tokoh agama atau ulama yang menyoroti keteguhan Sri Sultan HB II karena tak pernah tunduk pada tekanan kolonialisme.
Akademisi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ustadz M. Yaser Arafat, menegaskan, rekam jejak sejarah Sultan HB II dalam mempertahankan wilayah Yogyakarta menjadi bukti nyata kontribusinya bagi fondasi Indonesia saat ini.
"Saya mendukung secara penuh pencalonan Sri Sultan Hamengku Buwono II sebagai pahlawan nasional, mengingat jasa-jasa beliau dalam mempertahankan Yogyakarta, wilayah yang kini menjadi Indonesia, dari serangan penjajah, terutama Inggris, pada peristiwa Geger Sepehi tahun 1812," tegasnya, Kamis (7/5/26).
Yaser menambahkan, konsistensi Sri Sultan HB II terlihat dari sikapnya yang rela menanggung risiko berat demi mempertahankan prinsip-prinsip dasarnya.
Meski sempat diturunkan paksa hingga diasingkan ke Penang dan Ambon, Sri Sultan HB II tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak berkompromi dengan pihak asing.
"Dengan demikian, beliau dapat dikatakan sebagai seseorang yang memiliki jiwa nasionalis dan juga memiliki jiwa patriotik," tandasnya.
Senada, ulama Yogyakarta, sekaligus pengasuh Majlis Amburika, Gus Alwi Fuadi, memandang pengusulan gelar pahlawan ini sebagai langkah krusial untuk menjaga identitas nasional.
Bukan tanpa alasan, baginya, sejarah adalah jati diri yang tidak boleh pudar ditelan zaman dan wajib ditanamkan dari generasi ke generasi selanjutnya.
"Sejarah itu roh dari sebuah bangsa. Sehingga, jika sejarah hilang, berarti bangsa itu akan terhapus dari peradaban atau tercabut karakter bangsanya. Maka perlu semakin banyak dikenalkan ke dalam pendidikan-pendidikan kita, wabilkhusus untuk menjadikan bangsa kita tidak kehilangan jati diri," jelasnya.
Gus Alwi juga mengutip sebuah pepatah Arab, "La ya’riful fadhla lidzawil fadhli illadzawuhu", yang bermakna hanya mereka yang mengerti keutamaanlah yang mampu melihat keutamaan pada orang lain.
Menurutnya, karakter tegas Sri Sultan HB II yang menolak intervensi dari Belanda dan Inggris dianggap sebagai warisan yang tidak ternilai harganya.
"Kita butuh pemimpin yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, dia akan mampu mencintai bangsa, rakyat, dan tanah airnya secara utuh. Kepentingan rakyat menjadi nomor satu. Itulah esensi dari kepahlawanan yang kita harapkan bisa muncul dari refleksi sejarah Sri Sultan HB II ini," katanya.
Di sisi lain, Ketua Yayasan Vassati Socaning Lokika sekaligus perwakilan Trah Sri Sultan HB II, Fajar Bagoes Poetranto, mengapresiasi dukungan yang kian solid tersebut.
Saat ini, pihaknya pun tengah fokus melengkapi aspek administratif untuk memperkuat usulan gelar pahlawan bagi leluhurnya itu.
"Kita sudah progres, terutama untuk segera dibentuk Tim TP2GD Kabupaten Wonosobo dengan melengkapi naskah akademik, serta dokumen-dokumen sejarah lainnya. Kemarin kita bertemu Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat untuk membuka forum pengusulan gelar pahlawan nasional Sri Sultan HB II," ungkapnya.