Terkuak Borok Aman Yani Disebut Otak Pembunuhan Sekeluarga di Indramayu, Bikin Bank Rugi Rp24 Miliar
khairunnisa May 07, 2026 06:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Sosok asli Aman Yani, pria yang dituding sebagai dalang pembunuhan satu keluarga di Indramayu semakin terang benderang.

Bahkan belakangan terkuak borok Aman Yani yang ternyata pernah bermasalah selama bekerja menjadi pegawai di Bank BJB.

Fakta baru itu terungkap setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memanggil petinggi Bank BJB guna menjelaskan soal siapa sosok Aman Yani sebenarnya.

Diwartakan sebelumnya, nama Aman Yani mendadak disorot setelah disebut-sebut oleh terdakwa kasus pembunuhan satu keluarga di Indramayu bernama Ririn Rifanto.

Usai persidangan, Ririn lantang menyebut bahwa dirinya bukanlah pembunuh keluarga Sachroni dan anak-anaknya.

Seperti diketahui, Ririn Rifanto adalah tersangka kasus pembunuhan Budi Awaludin dan empat orang anggota keluarganya pada 29 Agustus 2025 lalu.

Para korban adalah Budi, ayah Budi yakni Sachroni, istri Budi yakni Euis Juwita Sari, dua anak Budi yang masih bayi.

Kasus tersebut telah sampai ke tahap pengadilan.

Setelah persidangan, Ririn tegas mengaku bahwa ia bukanlah pembunuh keluarga Budi.

Ririn lantas menyebutkan nama-nama pembunuh asli keluarga Budi, salah satunya adalah Aman Yani.

"Saya bukan pelakunya pak, saya bukan pelakunya. Pak Aman Yani, Yoga, Joko, Hardi (pelakunya)," ujar Ririn Rifanto.

Pernah bikin masalah di perusahaan

Penasaran dengan kasus tersebut, Dedi Mulyadi pun memanggil petinggi Bank BJB untuk mengetahui siapa sosok Aman Yani sebenarnya.

Diungkap pegawai Bank BJB, Aman Yani ternyata pernah bekerja di sana selama puluhan tahun.

Namun di tahun 2015, Aman Yani dipecat dengan tidak hormat karena terbelit masalah.

"Pak Aman Yani itu betul karyawan Bank BJB?" tanya Dedi Mulyadi.

"Betul, sejak 1 April 1989 yang diberhentikan 15 Desember 2015," ungkap pegawai Bank BJB.

Perihal kesalahan yang dilakukan Aman Yani sehingga dipecat, pegawai Bank BJB mengurai cerita.

Bahwa Aman Yani pernah membuat perusahaan rugi puluhan miliar karena kasus dana kredit usaha rakyat yang fiktif.

"Kasusnya itu terkait kredit, awalnya NPL (tinggi).(Dia) manajer bisnis," kata pegawai BJB.

"Yang macet, enggak bayar, nunggak itu apakah disebabkan oleh pak Aman Yani kesalahannya?" tanya Dedi.

"Pada waktu itu kurang lebih ada 55 debitur kelolaannya Aman Yani dengan nilai Rp24 miliar. Masing-masing debitur itu di Rp500 juta, KUR," ungkap analis bank BJB.

"KUR yang pinjamnya ada tidak fiktif?" tanya Dedi syok.

"Setelah kita observasi ternyata itu dipinjam nama," ujar analis BJB.

"Artinya ada unsur kesengajaan beliau menggunakan nama tertentu untuk mencairkan uang?" tanya Dedi lagi.

"Iya. Tapi dalam hal ini bukan inisiasi oleh pak Aman Yani, jadi ada pihak lain, pihak developer. Ada lima orang, itu ada pak Tosim, Sugiono, Amrullah, Juwata, Yansawi. Masing-masing itu punya nama-nama debitur," pungkas analis BJB.

PEMBUNUHAN SATU KELUARGA DI INDRAMAYU: Ternyata ini sosok Aman Yani, pria yang disebut-sebut sebagai otak pembunuhan satu keluarga di Indramayu. Sosoknya bikin Dedi Mulyadi penasaran.
PEMBUNUHAN SATU KELUARGA DI INDRAMAYU: Ternyata ini sosok Aman Yani, pria yang disebut-sebut sebagai otak pembunuhan satu keluarga di Indramayu. Sosoknya bikin Dedi Mulyadi penasaran. (TribunnewsBogor.com)

Akibat ulah Aman Yani, Bank BJB harus menerima kerugian besar-besaran.

Kendati demikian, kasus tersebut tak sampai dibawa ke ranah hukum.

Aman Yani hanya diberi hukuman yakni menyelesaikan polemik soal kredit puluhan miliar tersebut selama enam bulan.

Ia pun yang semula bekerja di BJB cabang Indramayu lalu dipindah ke Bank Pusat.

"Tapi peran di situ pak Aman Yani hanya teledor?" tanya Dedi.

"Kurang lebih begitu. Memang pak Aman Yani pegawai BJB, manajer komersial waktu itu, memberikan ruang bekerja sama dengan pihak ketiga untuk memberikan kemudahan untuk itu (KUR)," ungkap analis BJB.

"Bekerja sama dengan pihak ketiga, menurut hasil penelusuran, ada enggak pak Aman Yani kebagian?" tanya Dedi lagi.

"Secara aliran dana masuknya ke anak dan istrinya pak Aman Yani totalnya Rp515 juta. Tapi pada saat kita konfirmasi ke pak Aman, pak Aman menyampaikan itu adalah hubungan kerja sama investasi pinjam meminjam," kata analis BJB.

Dapat uang tunjangan dan pensiun fantastis

Tak bisa menyelesaikan masalah perkreditan tersebut, Aman Yani akhirnya dipecat pada akhir tahun 2015.

Setelah diberhentikan, Aman pun mendapat sejumlah uang tunjangan dan juga dana pensiun.

Mendengar penjelasan tersebut, Dedi semakin terkejut.

Pasalnya Aman Yani telah merugikan bank daerah puluhan miliar, tapi tetap dapat tunjangan fantastis.

Aman Yani mendapatkan uang tunjangan ratusan juta dan dicairkan sebelum ia menghilang dari keluarga.

Untuk diketahui, Aman Yani menghilang secara misterius dari keluarga di tahun 2016.

"Diterimanya mendapatkan tunjangan hari tua diberikan 10 kali gaji Rp388 juta, lalu mendapatkan kompensasi pascakerja Rp62 juta, beliau mengikuti asuransi pribadi Rp14,6 juta. Total yang diterima Rp465,6 juta belum dipotong pajak," imbuh pegawai BJB.

"Dicairkan, masuk dulu ke rekening, beliau mengambil pada tanggal 20 Januari 2016, dia sendiri yang ambil, tanda tangan cocok dengan KTP di cabang Indramayu," sambungnya.

Baca juga: Sosok Aman Yani yang Disebut Otak Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu, Ternyata Hilang Sejak 2016

Mendengar cerita tersebut, Dedi semakin heran.

Sebab kata keluarganya, yang ngotot mencairkan uang pensiun Aman Yani itu adalah Ririn, terdakwa pembunuhan.

Namun faktanya, pihak bank BJB menyebut bahwa yang mengambil uang pensiun tersebut Aman Yani sendiri di tahun 2016 atau sebelum menghilang dari keluarga.

"Selain uang pisah, dari asuransi, ada satu lagi dari dana pensiun. Jadi manfaat yang bisa diambil 20 persen dan manfaat pensiun bulanan. Tapi beliau mengajukan untuk menarik uang pensiunnya bukan di tahun 2015, tapi datang tahun 2018. Iya (dia datang sendiri)," pungkas pegawai BJB.

Selain uang tunjangan, Aman Yani juga diberikan uang pensiun ratusan juta serta ditransfer bulanan hingga kini.

"Manfaat pensiunnya itu ada yang bisa dicairkan 20 persen sebesar Rp114 juta. Sisanya 80 persen itu diberikan berkala perbulan Rp3,2 juta, diberikan ke bank BRI atas nama Aman Yani," imbuh pegawai BJB.

"Sampai sekarang dia dapat itu?" tanya Dedi.

"Sampai sekarang," ujar pegawai BJB.

"Berarti dia masih narik enggak dana yang Rp3,2 juta?" tanya Dedi lagi.

"Seharusnya," kata pegawai BJB.

Usai mendengar penjelasan tersebut, Dedi meminta agar pihak kepolisian mengusut keberadaan Aman Yani.

"Kan Pak Aman Yani hilang sejak 2020, berarti ngelacaknya gampang dong pak Aman Yani ini, kan kalau dia masih narik uang di BRI, berarti pak Aman Yani masih bisa dilacak keberadaannya," ungkap Dedi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.