BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN- Sehari berlalu pasca berpulangnya tokoh ulama Kalimantan Selatan, mualim KH Husin Naparin, tanah makamnya pun masih basah dan semaian bunga di atas makam nampak terlihat masih segar, Kamis (7/5/2026).
Dua orang pembaca Al-Quran tak henti membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an di dekat kuburan mantan Ketua MUI Kalimantan Selatan tersebut. Pembacaan Al-Qur'an ini dilakukan setelah jenazah selesai dimakamkan hingga hari ketika setelah sang ulama berpulang.
Ujar pihak keluarga, Maria, sejak pagi banyak warga yang berziarah ke makam KH Husin Naparin yang disemayamkan di alkah keluarga, Desa Hujan Mas, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan.
"Mulai pagi sampai siang ada terus yang datang berziarah," ujarnya.
Baca juga: Proses Pemakaman KH Husin Naparin Berlangsung Khidmat, di Alkah Keluarga di Paringin Balangan
Baca juga: Sosok KH Husin Naparin di Mata Ketua MUI HSU: Selalu Ajarkan Kebaikan Melalui Teladan
Kemudian pihak keluarga juga menggelar peringatan dua hari kematian yang dihadiri masyarakat setempat.
Di lokasi pemakaman, sejumlah karangan bunga ucapan duka juga masih terpasang. Serta warga yang secara bergantian datang untuk membaca Surat Yasin saat berziarah.
Dari banyaknya peziarah yang datang, ada satu orang yang merupakan mantan murid dari KH Husin Naparin, yakni Muhammad Aulia Rahman.
Bakda ashar, Aulia datang ke makam mualim KH Husin Naparin. Ia duduk di dekat makam dan membuka buku Yasin yang tersedia, kemudian membacanya, serta diakhiri dengan doa penutup.
Sebagai seseorang yang tumbuh di bawah bimbingan KH Husin Naparin, Aulia merasakan kesedihan mendalam atas kepergian pendiri Ponpes Rakha Amuntai tersebut.
"Beliau bukan hanya sekadar guru, tapi sudah menjadi sosok ayah untuk kami," ungkap Aulia dengan mata berkaca-kaca.
Aulia mengenal KH Husin Naparin yang ia sebut sebagai ayahanda sejak tahun 1999, kala itu dirinya masih kelas 1 Aliyah dan saat itu masih aktif pada angkatan muda Sabilal Muhtadin, sementara KH Husin Naparin sebagai Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin.
"Lebih intens pertemuan saat tahun 2004, ketika mulai berkuliah di STAI Al Jambi dan saya pun tinggal di asrama Ponpes Hunafa di bawah bimbingan beliau," ungkapnya.
Kemarin kata Aulia, saat mendengar kabar duka ini, ia langsung berangkat ke Banjarmasin dari Balangan untuk datang ke rumah duka dan turut serta sholat fadhu kifayah.
Sore ini, ia baru sempat datang berziarah ke makam mualim KH Husin Naparin untuk kembali mengirimkan doa kepada guru panutannya.
Hubungan personal yang terjalin dan dirasakan oleh Aulia semakin membuat ia merasa kehilangan. Apalagi setelah bertugas di Balangan beberapa tahun lalu, Aulia sudah jarang bertemu dengan almarhum. Terakhir bertemu katanya pada tahun 2015 lalu, namun Aulia sering mengikuti siaran ulang ceramah beliau.
Banyak nasehat yang Aulia ingat sejak dirinya dibimbing oleh sang ulama, bahkan Aulia hafal isi Al Quran juz 30 berkat bimbingan KH Husin Naparin.
Aulia juga selalu ingat pesan tokoh ulama Kalsel ini kepada dirinya dan murid lain tentang selalu mengutamakan ilmu. Ungkapnya, sang guru selalu berpesan kalau dalam hidup itu ilmu yang lebih utama dan dipriotaskan.
Di bawah bimbingan KH Husin Naparin juga sepengetahuan Aulia, banyak murid atau anak didik yang sukses dan banyak pula yang menjadi pendakwah dan meneruskan ajaran agama yang disampaikan.
"Rasanya sekarang saja beliau masih ada, saya ikhlas, tapi ternyata memang tidak mudah," tutupnya.
(banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)