Jembatan Apung Kepala Hiu Peusangan Beroperasi, Menghubungkan Pante Lhong dengan Pante Baro Kumbang
Ansari Hasyim May 07, 2026 08:03 PM

 

Laporan Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Pasca bencana banjir di Kabupaten Bireuen, penyeberangan sungai menggunakan perahu ketek bertambah satu lagi.

Jembatan apung Kepala Hiu yang berlokasi di Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, menghubungkan Pante Lhong dengan Pante Baro Kumbang, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, resmi beroperasi pada Kamis (7/5/2026).

Amatan Serambinews.com, jembatan apung ini dibangun dari papan berbahan dasar batang kelapa dengan panjang sekitar 55 meter dan lebar 2,5 meter.

Bagian bawah jembatan ditopang oleh drum plastik berwarna biru. Pada bagian ujungnya dibuat menyerupai kepala hiu yang berfungsi untuk memecah derasnya arus sungai.

Di kedua sisi jembatan dipasang pagar pembatas dan diletakkan pot bunga. Pada sisi Pante Lhong, jembatan disambung dengan perahu dan dapat dipindahkan apabila permukaan air sungai naik.

Sebelum dioperasikan, jembatan tersebut terlebih dahulu dilakukan prosesi peusijuk yang dihadiri puluhan warga. Pekerjaan finishing terus dilakukan dan jembatan langsung dioperasikan untuk umum.

Rahmat (36), selaku koordinator lapangan, mengatakan jembatan apung tersebut dibangun sejak 15 hari lalu untuk membantu warga menyeberang sungai agar tidak perlu mengantre di perahu ketek.

Warga yang melintas hanya dikenakan biaya Rp5.000 per sepeda motor, sementara pejalan kaki gratis tanpa pungutan apa pun.

• Putus Isolasi, Jembatan Armco di Pedalaman Aceh Timur Kini Jadi Nadi Baru Ekonomi Warga

“Kami hanya mengutip Rp5.000 untuk satu sepeda motor. Becak juga bisa lewat, namun untuk kendaraan minibus belum bisa kami pastikan,” ujarnya.

Rahmat menjelaskan, jembatan apung tersebut ditahan oleh 60 unit drum plastik di bagian bawah.

Lebar jembatan 2,5 meter dan dibangun untuk membantu masyarakat.

Perahu ketek tidak bergerak dan difungsikan sebagai tempat memantau pelintas. 

Apabila ada warga yang tidak berani melintas menggunakan kendaraan, petugas siap membantu menyeberangkan.

“Kami membantu mempermudah akses warga menyeberang dan tidak perlu antre,” ujarnya.

Bagian bawah jembatan sengaja dibuat berbentuk moncong untuk memecah arus sungai dan diberi nama Jembatan Apung Kepala Hiu.

Pemasangan pagar dilakukan agar warga lebih mudah dan aman saat menyeberang.

Lokasi jembatan berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Simpang Empat Gle Kapai, dan dari sungai menuju Pante Baro Kumbang hanya sekitar 200 meter sudah terdapat jalan aspal.

“Tadi dipeusijuk oleh Tgk Zulfahmi dan dihadiri warga serta perangkat desa agar operasional jembatan mendapat berkah dan berjalan lancar,” tambahnya.

Sementara itu, H. Muakhir, selaku pihak yang membangun jembatan tersebut, mengatakan jembatan apung dibangun setelah melihat antrean panjang setiap hari di perahu ketek kawasan Blang Panjoe menuju Kubu maupun sebaliknya.

Dari kondisi tersebut muncul gagasan membangun jembatan apung untuk membantu warga.

Menjawab pertanyaan Serambinews.com terkait pemilihan lokasi, H. Muakhir mengatakan lebar sungai di kawasan tersebut hanya sekitar 50 meter, sedangkan di lokasi lain mencapai 60 hingga 70 meter.

Dalam operasionalnya, jembatan ini melibatkan 15 orang serta dibantu rekan-rekan di Bener Meriah dan Krueng Simpo untuk memantau kondisi air sungai.

“Jika air sungai naik, mereka akan memberi informasi. Dalam hitungan dua jam, ujung jembatan akan dilepas dan digeser ke arah barat. Setelah air surut, jembatan ditarik kembali ke posisi semula menggunakan kabel seling yang ditarik dengan kendaraan roda empat,” jelasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.