TRIBUNJAKARTA.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan pertanyaan menohok kepada Guru bimbingan konseling (BK) SMK Negeri 2 Garut, Ai Nursaida.
Ai memotong paksa rambut 6 siswi berhijab dalam razia penampilan di sekolah, hingga viral di media sosial.
Awalnya Dedi Mulyadi bertanya kepada Ai terkait ke-enam siswi yang rambutnya dipotong tersebut.
"Apa yang ibu ketahui tentang ke-6 anak ini?" tanya Dedi Mulyadi.
Ai mengatakan, para siswi yang rambutnya dipotong sebenarnya tidak memiliki persoalan dalam perilaku maupun akademik.
Ia menyebut keenam siswi tersebut rajin sekolah dan berperilaku baik.
"Ke enam anak ini baik-baik saja, secara perilaku bagus, akademis menengah," jawab Ai.
"Masuk sekolah, gak pernah bolos," imbuhnya.
Dedi Mulyadi lalu bertanya, lantas apa yang menjadi penyebab ke-enam siswi tersebut harus dipotong rambutnya.
"Yang jadi problem apa?" kata Dedi Mulyadi.
Mendengar pernyataan Dedi Mulyadi, Ai dan guru yang hadir dalam pertemuan tersebut terdiam sejenak.
Ai lalu menjelaskan ke-enam siswi tersebut memakai kosmetik yang berlebihan di sekolah.
"Yang meresahkan kami baru-bari ini tentang penampilan siswa, berkerudung dalam hal kosmetik berlebihan," kata Ai ke Dedi Mulyadi.
Ai juga mengakui bahwa persoalan penampilan seharusnya masih bisa diarahkan dengan teguran.
"Mungkin orang tuanya cukup uang, kan gak ada masalah. Penampilan menor, wajar, kan tinggal diingatkan," celetuk Dedi Mulyadi.
Mengaku sering mendapat tekanan Ai menyebut, dirinya kerap merasa disalahkan ketika ada siswi bimbingannya yang dianggap melanggar aturan penampilan sekolah.
Menurut dia, tekanan itu muncul dari banyak aduan yang menumpuk.
"Keresahan di masyarakat, anak-anak laki-laki biasanya. Bu kenapa kalau laki-laki panjang sedikit dirazia, kalau yang perempuan rambut merah dibiarin, keluar gerbang dibuka merah masih pakai seragam. mungkin bukan anak saya yang ini, ya akumulasi dari sana dari sini terus yang disalahkan biasanya anak-anak saya, itu anak bimbingan saya, saya kan sakit hati," katanya.
Ai mengatakan, selama ini ia belum pernah bertindak represif saat ada razia kosmetik.
"Setiap ada razia kosmetik, saya belum pernah merazia mereka. Saya belum pernah menghapus makeupnya, tapi saya dituduh seolah membiarkan mereka," katanya.
Ai Nursaida, mengakui kondisi psikologisnya sedang tidak baik saat memotong rambut sejumlah siswi.
Ia menyadari tindakannya memotong rambut para siswi merupakan kesalahan besar.
"Saya psikologisnya lagi gak baik, digunting tapi gak semua, masih bisa diikat rambut. Iya pada akhirnya saya sadar dan menyadari saya salah besar," katanya.
Dedi Mulyadi minta persoalan dilihat proporsional Dedi Mulyadi meminta persoalan tersebut dilihat secara proporsional.
Menurut Dedi, siswi jurusan broadcast bisa saja lebih memperhatikan penampilan karena bidang tersebut dekat dengan dunia seni, hiburan, dan perfilman.
"Atuh menor gak apa-apa kan jadi bintang film. Saya orang yang selalu bela guru, tetapi saya juga ingin proporsional. kadang penilaian kita terhadap penampailan sering kali salah. Kedua, jurusannya broadcast berarti urusannya dengan dunia hiburan perfilman, apakah mungkin karakter itu dipangaeruhi oleh kejuruan," kata Dedi Mulyadi.
Siswi merasa sakit hati rambutnya dipotong Di sisi lain, para siswi mengaku sakit hati setelah rambut panjang mereka dipotong pendek.
Salah satu siswi menyebut potongan rambut itu membuatnya merasa seperti laki-laki.
"Kayak laki-laki. Sakit hati, trauma," katanya.
Para siswi juga mengaku berdandan karena ingin tampil lebih rapi dan percaya diri.
Mereka menyebut riasan yang digunakan tidak tebal.
"Biar cantik. Sunscreen, bedak, gak (tebal). Kalau tebal mah pakai," katanya.
Para siswi kemudian berjanji tidak akan berdandan berlebihan selama tetap bisa bersekolah secara gratis.
"Boleh, mau. Make up tipis tapi gratis," katanya.
Dedi Mulyadi minta persoalan dilihat proporsional Dedi Mulyadi meminta persoalan tersebut dilihat secara proporsional.
Menurut Dedi, siswi jurusan broadcast bisa saja lebih memperhatikan penampilan karena bidang tersebut dekat dengan dunia seni, hiburan, dan perfilman.
"Atuh menor gak apa-apa kan jadi bintang film. Saya orang yang selalu bela guru, tetapi saya juga ingin proporsional. kadang penilaian kita terhadap penampailan sering kali salah. Kedua, jurusannya broadcast berarti urusannya dengan dunia hiburan perfilman, apakah mungkin karakter itu dipangaeruhi oleh kejuruan," kata Dedi Mulyadi.