TRIBUNSTYLE.COM - Amerika Serikat (AS) harus menghadapi kenyataan pahit kerusakan markas militernya di kawasan teluk ternyata jauh lebih ngeri.
Foto-foto satelit menjadi bukti bahwa serangan Iran berdampak signifikan terhadap sejumlah markas militer AS di Teluk.
Hal ini disampaikan oleh The Washington Post dalam laporan yang dirilis Rabu (6/5/2026).
The Washington Post melakukan analisa mandiri terhadap lebih dari 100 citra satelit rilisan Iran.
Mereka menyebut setidaknya 228 struktur dan peralatan militer di 15 situs militer AS telah hancur atau rusak.
Temuan ini mengindikasikan dampak yang sangat signifikan bagi negara dengan teknologi militer superior seperti "Negeri Paman Sam".
Baca juga: Kapal Tanker Iran Lolos Blokade AS Menuju Riau saat Kapal Pertamina Masih Tertahan, Ini Kata Kemenlu
Konflik di Timur Tengah dimulai oleh serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari.
Iran membalas serangan dengan menargetkan fasilitas militer AS di kawasan Teluk Persia dan menutup Selat Hormuz.
Perang terus berkecamuk hingga Akhirnya Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran pada 8 April dan diperpanjang pada 22 April.
Upaya untuk mendamaikan AS dan Iran masih menghadapi kebuntuan meski kedua belah pihak sudah bertemu di Pakistan dan berbagai usaha terus dilakukan.
Tingkat kerusakan Sebelumnya, tingkat kerusakan dari serangan Iran terhadap fasilitas militer AS sulit dipastikan, sebagaimana dilansir India Today.
Pasalnya, dua penyedia citra satelit komersial, Vantor dan Planet, diminta oleh tim Trump untuk menunda atau menahan rilis foto udara mereka.
The Washington Post akhirnya melakukan analisis independen yang bertumpu pada 128 citra satelit resolusi tinggi yang dirilis Iran.
Setelah melalui verifikasi, tidak ditemukan adanya manipulasi pada gambar-gambar tersebut.
Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi di Markas Armada ke-5 AS di Bahrain serta tiga pangkalan di Kuwait, yakni Ali Al-Salem, Camp Arifjan (markas regional Angkatan Darat AS), dan Camp Buehring.
Fasilitas yang terkena dampak meliputi hanggar, barak, depot bahan bakar, sistem pertahanan rudal Patriot yang mahal, pembangkit listrik, hingga lima lokasi penyimpanan bahan bakar.
Baca juga: Iran Kirim Serangan Udara Besar ke UEA, Iron Beam Israel Turun Tangan Cegat Rudal Lindungi Abu Dhabi
Selain itu, situs komunikasi satelit di Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar serta sistem radar THAAD di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA) juga dilaporkan hancur.
Di Arab Saudi, sebuah pesawat komando dan kontrol E-3 Sentry serta sebuah pesawat tanker pengisi bahan bakar hancur di Pangkalan Udara Prince Sultan.
Selain infrastruktur darat, AS kehilangan sekitar 40 drone dan jet tempur selama pertempuran, operasi pencarian, maupun insiden tembakan nyasar.
Daftar kehilangan tersebut mencakup 24 drone MQ-9 Reaper yang masing-masing berharga 30 juta dollar AS, serta drone MQ-4C Triton yang diperkirakan bernilai 200 hingga 240 juta dollar AS.
Empat jet F-15E Strike Eagle juga dilaporkan hilang, termasuk tiga di antaranya yang jatuh di Kuwait karena friendly fire, serta satu pesawat A-10 Warthog. Pihak Iran bahkan mengeklaim telah menjatuhkan satu unit F-35.
Jika terkonfirmasi, itu akan menjadi kasus kerusakan tempur pertama pada pesawat tempur generasi kelima tersebut.
Citra satelit tersebut menunjukkan bahwa serangan Iran terhadap lebih dari 200 struktur sangat akurat.
Hal ini menunjukkan efektivitas penggunaan amunisi berpemandu presisi oleh militer Iran.
"Serangan Iran sangat presisi. Tidak ada kawah acak yang mengindikasikan tembakan meleset," kata Mark Cancian, pensiunan kolonel Korps Marinir, kepada The Washington Post.
Penargetan terhadap barak, hanggar, dan gudang mengindikasikan adanya niat untuk menimbulkan korban jiwa massal.
Meski demikian, beberapa serangan diduga terjadi setelah pasukan AS meninggalkan pangkalan.
Target-target lunak seperti gimnasium, ruang makan, dan akomodasi juga tidak luput dari serangan.
Baca juga: AS Umumkan Masuk Mode Defensif Perang dengan Iran: Kami Tidak Menembak Jika Tak Ditembak Lebih Dulu
Namun, Cancian memberikan teori lain terkait tingkat kerusakan tersebut.
Dia menyebut AS kemungkinan sengaja membiarkan beberapa kerusakan terjadi untuk menipu Iran atau demi menghemat pencegat rudal yang mahal daripada menggunakannya untuk menjatuhkan drone Shahed yang murah.
"Pasukan AS mungkin memilih untuk membiarkan rudal yang datang menghantam jika tampaknya akan mengenai target yang tidak terlalu penting," tambahnya. (Tribun Style/Kompas.com)