Melihat Pesona Tari Nong Anggrek Banten
Fatkhul Alami May 07, 2026 10:32 PM

 

SURYA.co.id - Provinsi Banten memiliki banyak seni dan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Salah satunya seni tari Nong Anggrek yang kerap menghibur masyarakat dan wisatawan. 

Tari tradisional khas Banten ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga cerminan jiwa dan identitas masyarakat Banten yang kaya akan nilai seni. Tari Nong Anggrek, tarian kebanggaan Kota Tangerang Selatan ini diciptakan oleh Sherly Fatmarita pada 2012 dan pertama kali dipentaskan pada 2013. Kata "Nong" berasal dari bahasa Banten yang berarti perempuan, mencerminkan sosok wanita Tangsel yang anggun dan penuh semangat.

Sementara "Anggrek" melambangkan komoditas unggulan kota yang kaya air dan perkebunan, khususnya bunga anggrek jenis Vanda Douglas, flora identitas kota tersebut. Tarian ini dipentaskan dalam berbagai acara adat, penyambutan tamu kehormatan, hingga festival budaya tingkat nasional, yang menjadikannya salah satu ikon kesenian Provinsi Banten yang patut dibanggakan.

Tari Nong Anggrek adalah tarian khas Kota Tangerang Selatan yang awalnya bernama Nong Pandoglas. Tarian ini menggabungkan tiga unsur budaya sekaligus yaitu Betawi, Sunda, dan pengaruh Chinese sehingga membentuk perpaduan gerak yang kaya namun tetap harmonis. Setiap gerakan memiliki makna tersendiri, posisi tangan yang terbuka lebar melambangkan keterbukaan masyarakat Banten, sementara langkah kaki yang teratur mencerminkan ketertiban dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Tarian ini berasal dan dikembangkan di Kota Tangerang Selatan, Banten, namun kini dapat disaksikan di berbagai sudut provinsi, mulai dari Kota Serang sebagai ibu kota provinsi, Kota Cilegon, hingga Kabupaten Pandeglang dan Lebak. Sejak pertama kali dipentaskan pada 2013, Tari Nong Anggrek terus populer sebagai tari penyambutan tamu kehormatan dan tarian acara resmi.

Tari Nong Anggrek umumnya dibawakan oleh sekelompok perempuan muda yang menggambarkan keceriaan dan keanggunan, seperti makna "Nong" sebagai sosok perempuan Tangsel yang anggun. Para penarinya mengenakan busana berwarna cerah, didominasi warna ungu, biru, dan emas yang menyerupai kelopak bunga anggrek. Mahkota bunga di kepala dan riasan wajah yang anggun melengkapi penampilan mereka sehingga
menciptakan harmoni visual yang memukau penonton.

Tarian ini dibawakan dengan gerakan yang luwes, ceria, dan anggun, diiringi musik tradisional yang mencerminkan karakter remaja ramah dan dinamis. Secara struktural, Tari Nong Anggrek terbagi dalam tiga fase gerakan yaitu, fase low (tenang dan mengalir seperti anggrek yang baru berkuncup), fase medium (gerakan semakin bersemangat seiring bunga mulai mekar), hingga fase high sebagai klimaks yang menggambarkan anggrek yang mekar sepenuhnya dengan penuh kegembiraan. 

Proses mempelajari tarian ini tidaklah mudah, seorang penari pemula harus melewati latihan dasar selama tiga hingga enam bulan, menguasai gerakan seperti "ngigel", "ulap-ulap", dan "seblak" sebelum tampil di atas panggung.

 "Tari Anggrek itu tarian yang punya ciri khas di gerakannya yang lembut dan anggun," kata Rindu Syahla, penari Tari Anggrek, Banten.

Ia menyebut tarian ini menonjolkan keindahan, tapi bukan yang berlebihan, lebih ke sederhana tetapi tetap enak dilihat. Pengalamannya yang mengikuti lomba hingga menang, ia merasa bahwa hal tersebut sangat berkesan, dengan membawa tarian ini ke panggung international dan melihat langsung bagaimana orang luar mengapresiasi budaya kita. Hal tersebut menjadi motivasi untuk terus belajar dan menampilkan yang terbaik.

"Saat pertama kali melihat Tari Anggrek, saya langsung terpukau dengan keindahan dan keanggunan para penarinya. Gerakan yang lembut dan mengalir membuat saya merasa tenang dan ikut merasakan makna dari tarian tersebut." ucap Salwa Salsabila, mahasiswi asal Jakarta. 

Antusiasme penonton seperti Salwa menunjukkan Tari Anggrek memiliki daya tarik. Keindahannya mampu menyentuh hati siapapun yang menyaksikannya, menjadi bukti bahwa seni tradisional Indonesia memiliki nilai universal yang tak lekang oleh waktu.

Dengan dukungan pemerintah, semangat para seniman, dan kecintaan generasi muda, tarian ini akan terus mekar seperti bunga anggrek yang selalu indah di setiap musim. Jika suatu hari Anda berkunjung ke Banten, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan keanggunan Tari Anggrek secara langsung. Sebab, ada keindahan yang hanya bisa dirasakan, bukan sekadar didengar.

Penulis : 
Zara Shakila Siswanto
Mahasiswa Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.