Layanan Ramah hingga Second Opinion Jadi Alasan WNI Memilih Berobat ke Malaysia
Erik S May 08, 2026 12:22 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Malaysia bersama Thailand, India, Turki, dan Singapura menjadi salah satu destinasi yang cukup dikenal dalam layanan wisata medis di Asia.

Negara-negara tersebut menawarkan layanan kesehatan modern dengan pilihan biaya pengobatan yang kompetitif.

Beragam layanan medis tersedia, mulai dari perawatan jantung, program kesuburan, penanganan kanker, hingga tindakan estetika.

Dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia dinilai semakin diminati masyarakat Indonesia yang mencari layanan kesehatan lanjutan maupun second opinion.

Khairul Anuar Yusof dari IHH Health Malaysia mengatakan, promosi wisata medis yang diperkuat sejak 2018 mendapat respons positif, termasuk dari Indonesia. 

Menurutnya, faktor kedekatan budaya, makanan halal, hingga akses penerbangan yang relatif mudah menjadi alasan Malaysia kerap dipilih pasien asal Indonesia.

“Selain dekat secara geografis, kami juga berupaya memahami kebutuhan pasien Indonesia, termasuk dari sisi komunikasi dan kenyamanan layanan,” ujarnya di sela-sela pembukaan Malaysia Healthcare Expo (MHX) 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Dalam setahun, jaringan rumah sakit di Malaysia ini mencatat sekitar 1 juta pasien, dengan sekitar 300 ribu di antaranya berasal dari Indonesia. 

Tren tersebut disebut terus meningkat seiring bertambahnya masyarakat yang mencari layanan kesehatan spesialis dan opini medis tambahan untuk penyakit tertentu.

Khairul menuturkan, pihaknya terus melakukan penyesuaian layanan agar lebih nyaman bagi pasien Indonesia. Salah satunya melalui kehadiran international patient center di sejumlah rumah sakit.

Fasilitas tersebut menyediakan staf berbahasa Indonesia, bantuan administrasi, hingga pendampingan selama proses pengobatan berlangsung.

Country Manager IHH Malaysia Indoteam, dr Candrati Sukardji mengatakan, layanan itu dihadirkan agar pasien merasa lebih tenang dan terbantu selama menjalani perawatan.

Baca juga: Program Medical Tourism Surabaya Resmi Meluncur, Tawarkan Layanan Kesehatan Internasional Terpadu

"Mayoritas pasien Indonesia yang datang ke Malaysia disebut mencari layanan second opinion untuk kasus seperti kanker, penyakit jantung, gangguan tulang dan sendi, hingga penyakit autoimun dan pencernaan," katanya.

Selain itu, dukungan perusahaan asuransi kesehatan yang mulai menanggung biaya pengobatan di Malaysia turut mempermudah akses masyarakat terhadap layanan kesehatan internasional.

Devisa Negara Keluar Hingga Rp180 Triliun

Fenomena masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri masih menjadi perhatian serius pemerintah hingga 2026.

Berdasarkan berbagai data dan perkembangan terkini, jumlah warga Indonesia yang menjalani pengobatan di luar negeri, khususnya ke Malaysia dan Singapura, diperkirakan mencapai 1 hingga 2 juta orang per tahun.

Tingginya angka tersebut turut berdampak pada potensi devisa negara yang keluar. Nilainya diperkirakan mencapai lebih dari Rp160 triliun hingga Rp180 triliun setiap tahun.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI menjadikan kondisi ini sebagai bahan evaluasi besar terhadap sistem layanan kesehatan nasional.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menegaskan bahwa tren masyarakat berobat ke luar negeri tidak bisa hanya disikapi dengan larangan, melainkan harus dijawab dengan perbaikan kualitas layanan di dalam negeri.

"Salah satu perhatian utama pemerintah adalah masih terbatasnya akses terhadap teknologi kesehatan mutakhir, termasuk alat medis dan obat inovatif," katanya.

Selain itu, kata Budi, standar pelayanan rumah sakit di Indonesia juga terus didorong agar mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN.

Pemerintah kini mempercepat pembangunan sejumlah fasilitas kesehatan bertaraf internasional, di antaranya Rumah Sakit Kemenkes Surabaya dan kawasan KEK Kesehatan Sanur di Bali.

Baca juga: Kemenhaj Pastikan Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia di Madinah 2026 Siaga 24 Jam

"Langkah tersebut diharapkan dapat menghadirkan layanan kesehatan modern sekaligus menahan laju pasien Indonesia yang mencari pengobatan di luar negeri," katanya.

Di sisi lain, pengamat kesehatan menilai keputusan masyarakat berobat ke luar negeri tidak semata dipengaruhi teknologi medis.

Faktor kepercayaan terhadap kualitas diagnosis dan penanganan penyakit berat juga menjadi alasan utama.

Selain itu, aspek pelayanan dinilai turut memengaruhi kenyamanan pasien. Rumah sakit di negara tetangga dianggap lebih komunikatif, ramah, dan memiliki birokrasi yang lebih sederhana sehingga pasien merasa lebih nyaman selama menjalani pengobatan.

Kecepatan layanan juga menjadi sorotan. Untuk beberapa kasus penyakit serius seperti kanker, antrean tindakan medis di Indonesia dinilai masih relatif panjang dibandingkan rumah sakit di luar negeri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.