Harapan Guru PAUD yang Honor Kecilnya Menyusut Gegara Dana Desa Dipangkas oleh Pemerintah Pusat
Yoseph Hary W May 08, 2026 01:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Yuni Rahayu mengaku senang dan sangat menikmati menjadi guru di TK dan PAUD Pertiwi, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo.

Namun di saat yang sama, ia saat ini juga merasa sedih karena honornya yang terbilang kecil justru semakin menyusut terkena imbas pemangkasan Dana Desa oleh Pemerintah Pusat. 

Harapan guru Paud

Yuni pun berharap pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru. Kenyataannya, ia menjadi salah satu guru Paud yang honornya harus dipotong akibat pemangkasan Dana Desa, yang mana anggarannya banyak dialihkan untuk program Presiden saat ini.

Dengan kondisi saat ini, ia pun berharap ada kesesuaian antara beban kerja dengan honor yang didapat. Sebab ia tak hanya menjadi guru, tapi juga harus mengurus administrasi sekolah.

Ia ingin ada tugas dan fungsi pokok yang jelas sebagai guru PAUD. Jika memang tenaga administrasi dibutuhkan, maka idealnya dibuka perekrutan dengan upah yang sesuai agar ada yang tertarik.

"Saya berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan para guru," jelas Yuni.

Gambaran nasib guru

Keluh kesah dan harapan Yuni menjadi potret nassib guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang kini semakin memprihatinkan. 

Pasalnya, honor guru Paud mengalami pengurangan sebagai imbas pemotongan Dana Desa oleh pemerintah pusat hingga 70 persen, yang berdampak pada program-program di desa atau kalurahan, termasuk PAUD.

Yuni mengabdi di TK dan PAUD Pertiwi, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo."Saya menjadi guru PAUD sejak 2019, sedangkan mengajar di sini sejak 2023 lalu," kata Yuni ditemui pada Kamis (07/05/2026).

Honor Rp500 ribu dipotong jadi Rp350 ribu 

Ia memahami bahwa menjadi guru PAUD bukanlah profesi yang nyaman dari segi kesejahteraan. Sebab honor yang didapat hanya Rp 500 ribu sebulan dari Dana Desa, yang kini turun nilainya menjadi Rp 350 ribu akibat pemangkasan.

Yuni juga tahu bahwa tidak banyak yang memilih menjadi guru PAUD karena alasan itu. Namun ia merasa ilmu yang didapatnya dulu sejalan dengan profesinya saat ini.

"Saya berusaha mengaplikasikan apa yang saya tahu dan mampu ke profesi ini," ujar lulusan S1 Psikologi ini.

Alasan betah jadi guru Paud

Alasan utama yang membuatnya betah bekerja sebagai guru PAUD adalah kenyamanan. Sebab Yuni mengaku pernah menjadi karyawan di sebuah perusahaan namun tidak merasa nyaman.

Sedangkan dengan jadi guru PAUD, ia menikmati interaksi dengan anak-anak. Membangun hubungan baik dengan para guru lainnya pun dirasa lebih mudah baginya.

"Saya sudah merasa cocok, interaksi dengan anak-anak membuat saya senang," kata ibu 1 anak ini.

Kepala TK Paud kecewa pemotongan

Kepala TK dan PAUD Pertiwi, Titin Rahayu juga mengaku kecewa dengan adanya pemotongan honor guru PAUD. Sebab nilai honor yang sudah rendah harus dipotong namun beban kerja masih tinggi.

Selain honor dari Dana Desa, para guru PAUD juga mendapat insentif dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo yang hanya Rp 50 ribu sebulan. Pendapatan itu tentunya tidak sebanding dengan kebutuhan, belum lagi dengan banyaknya iuran untuk kegiatan sosial.

"Makanya saya salut dengan guru PAUD, sebab meski honor kecil namun iuran-iuran tetap jalan," kata Titin.(alx)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.