Selat Hormuz Memanas, 20 Ribu Awak Kapal dan 1.500 Kapal Dilaporkan Terjebak
Tim TribunTrends May 08, 2026 11:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM -- Situasi di kawasan Selat Hormuz semakin memanas setelah ribuan kapal dilaporkan terjebak akibat blokade yang dilakukan Iran. Dampak konflik di Timur Tengah kini mulai dirasakan secara luas, terutama pada sektor pelayaran dan distribusi energi dunia.

Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional atau IMO, Arsenio Dominguez, mengungkapkan bahwa sekitar 1.500 kapal beserta 20.000 awak kapal kini tertahan di kawasan Teluk akibat ketegangan geopolitik yang terus meningkat.

Pernyataan tersebut disampaikan Arsenio Dominguez dalam Konvensi Maritim Amerika di Panama pada Kamis (7/5/2026).

“Saat ini, kami memiliki sekitar 20.000 awak kapal dan sekitar 1.500 kapal yang terjebak,” kata Dominguez, dikutip dari AFP, Jumat (8/5/2026).

Ketegangan di kawasan Timur Tengah bermula sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026 setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. Situasi tersebut kemudian memicu serangan balasan dari Teheran di sejumlah wilayah strategis.

Akibat konflik tersebut, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz ikut terganggu. Jalur laut tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu rute perdagangan minyak dan gas paling penting di dunia.

Menurut Arsenio Dominguez, transportasi laut memiliki peran vital dalam rantai pasok global karena lebih dari 80 persen barang konsumsi dunia dikirim melalui jalur maritim.

Ia juga menyoroti nasib para awak kapal yang kini berada dalam situasi sulit meski tidak terlibat dalam konflik politik maupun militer.

KRISIS SELAT HORMUZ - Sebanyak 1.500 kapal dan 20.000 awak kapal dilaporkan terjebak di kawasan Teluk akibat blokade Iran di Selat Hormuz. (WIKIMEDIA COMMONS/MODIS LAND RAPID RESPONSE TEAM, NASA GSFC)

“Mereka adalah orang-orang tidak bersalah yang melakukan pekerjaan mereka setiap hari untuk kepentingan negara lain, tetapi terjebak oleh situasi geopolitik di luar kendali mereka,” ujar Dominguez.

Selain menyebabkan ribuan awak kapal tertahan, konflik di kawasan Teluk juga menimbulkan korban jiwa. Arsenio Dominguez mengungkapkan sedikitnya 10 pelaut dilaporkan tewas dalam lebih dari 30 serangan terhadap kapal di wilayah tersebut.

Karena alasan keselamatan, IMO meminta berbagai pihak untuk sementara tidak mengirim kapal menuju kawasan Teluk hingga situasi lebih terkendali.

Baca juga: Donald Trump Klaim Iran Minta AS Buka Selat Hormuz di Tengah Krisis Kepemimpinan

Imbauan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa tambahan sekaligus menekan dampak ekonomi yang lebih besar akibat gangguan distribusi global.

Sebelum konflik pecah, hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia diketahui melewati Selat Hormuz setiap harinya. Penutupan jalur tersebut kini memicu kenaikan harga energi global secara signifikan.

Di tengah kondisi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengumumkan operasi pengawalan kapal menggunakan angkatan laut Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz.

Namun, rencana operasi tersebut akhirnya dibatalkan tidak lama setelah diumumkan. Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat masih menunggu respons Iran terkait proposal penghentian perang sekaligus pembukaan kembali jalur pelayaran internasional tersebut. (Tribun Trends/Tribunnews Bogor)

 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.