KELAKUAN Kiai Cabul di Pati Dibongkar Santriwati, Diajak Tidur Bereng Untuk Sembuhkan Penyakit Iri
Septrina Ayu Simanjorang May 08, 2026 01:55 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Beginilah kelakuan kiai cabul, Ashari di Pati.

Siasatnya dibongkar santriwati yang pernah menjadi korbannya saat di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Pati.

Ashari mengaku bisa menyembuhkan penyakit korbannya dengan tidur bersama.

Baca juga: Jadwal Piala Dunia 2026, 98 Pertandingan Disiarkan Langsung Live TVRI

Mantan santriwati bernama samaran Tari itu mengaku dirinya pernah menjadi korban kebejatan Kiai Ashari.

Setelah 6 tahun bungkam, Tari pun mantap melaporkan Ashari ke polisi.

Dalam podcast bersama artis Denny Sumargo, Tari menceritakan awal mula dirinya diperlakukan tak senonoh oleh Ashari.

Kejadian bermula saat Tari duduk di kelas 9 SMP.

Baca juga: AS Kembali Bombardir Iran, Gempur Bandar Abbas dan Pulau Qeshm

Di pesantren tersebut, Tari yang sudah karib dengan Kiai Ashari secara tiba-tiba disuruh untuk memijat pemilik ponpes tersebut.

Setelah disuruh pijat, wajah Tari pun dicium.

Namun kata Tari, kebiasaan Kiai Ashari mencium wanita itu adalah hal lumrah yang dilakukannya di lingkungan pesantren.

"Awal mulanya disuruh mijetin. Terus dicium. Kalau udah selesai kan pamitan, terus dicium (pipi kanan kiri bibir), di situ biasa, kalau sudah ndalem sama pak Kiai biasa. Tapi kalau santri biasa cuma salam tangan," ungkap Tari.

KIAI CABUL DI PATI: Salah satu santriwati (kiri) mengurai pengakuan mengejutkan soal modus kiai cabul di Pati bernama Ashari (kanan). Korban mengaku disuruh tidur bareng pelaku.

Seiring berjalannya waktu, Tari tak cuma disuruh memijat Ashari saja.

Ia juga diminta beberapa kali menemani sang Kiai berziarah hingga datang ke acara sholawatan.

Di situlah Tari mendapatkan perlakuan tak biasa yakni disuruh menemani Kiai Ashari tidur di kamar.

"Berjalannya seiring waktu, terus bertahap, sering diajak ziarah, diajak pergi sholawatan. Biasanya berdua, biasanya rame-rame. Kalau santri kan melekatnya harus tawadu," pungkas Tari.

"Pas ziarah enggak ada perbuatan aneh-aneh?" tanya Denny Sumargo alias Densu.

Baca juga: Tapanuli Economic Forum 2026: Bank Sumut Hadirkan KUR BERKAH untuk Perkuat Ekonomi Inklusif

"Kalau abis ziarah sama sholawatan, biasanya langsung diajak nemenin tidur. Enggak sampai berhubungan sih," ujar Tari.

"Tidur maksudnya tidur satu kamar? lah dalilnya apa?" tanya Densu penasaran.

"Kalau kesannya itu, katanya, di sana kan ada guru torikoh, bilangnya disuruh guru torikoh itu, ini bagian dari nyembuhin sakit," jawab Tari.

Terkejut mendengar cerita Tari, Densu pun kembali bertanya.

Hingga Tari pun blak-blakan soal alibi Ashari nekat mengajak santriwatinya tidur bareng di kamar.

Baca juga: ASUS, Intel, dan Microsoft Perkenalkan ExpertBook Ultra, Laptop Flagship Industri Terbaru


Kata Tari, Ashari menyebut bahwa dengan tidur bareng dengannya, penyakit iri dengki di hati Tari bisa sembuh.

"Lah emangnya kamu sakit?" tanya Densu.

"Katanya gitu, saya banyak iri, saya banyak penyakit dalam, semacam iri dengki, banyak fitnah," ujar Tari.

"Oh jadi ceritanya dia melihat kamu, terus dia menerawang," pungkas Densu.

"Iya. (Kata kiai) 'kamu itu banyak sakitnya, kamu itu iri dengki, obatnya gini'," ucap Tari.

"Oh obatnya tidur bareng?" tanya Densu.

"Iya, salah satu obat. Aku enggak nangkepnya gimana gimana. Cuma aku mikir 'emang aku seburuk itu'. Kadang mau kadang menolak juga. Takut sih pak, aku enggak pernah tidur beneran, cuma merem aja," ungkap Tari.

Setelah sering diajak tidur bareng, Tari pun kian syok saat diminta melakukan hal menjijikan.

Yaitu Tari disuruh memasukkan alat kelamin Ashari ke mulutnya.

Lagi-lagi, Ashari mengurai alasan aneh agar santriwatinya melakukan hal tak senonoh tersebut.

"Pernah satu kejadian pak Kiai sampai bilang disuruh emut (alat kelamin), biar nanti ada darah daging di tubuh saya," ungkap Tari.

"Inisial A ini keinginanya itu memasukkan alat kelaminnya di mulut, ditelan, agar diakui nabi dan umat dan guru torikohnya," sambung pengacara Tari.

 

(*/ Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.