Mengenang Peristiwa Gejayan Mei 1998, Mengenang Moses Gatutkaca
Moh. Habib Asyhad May 08, 2026 02:34 PM

Peristiwa Gejayan adalah bentrokan yang terjadi antara para demonstran penentang Orde Baru dan aparat keamanan di Jalan Gejayan, Sleman, DIY, yang puncaknya terjadi pada 8 Mei 1998. Dalam peristiwa, seorang mahasiswa bernama Moses Gatutkaca tewas.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -“Sebelum krisis ekonomi dan politik menjelang akhir 1990-an, ruas Gejayan adalah panggung ekonomi dan pendidikan dengan empat kampus terletak di situ ... Tapi ketika 1998, ruas jalan ini menggeser unsur ekonomi lebih ke pinggir dan sepenuhnya menjadikan politik sebagai sentral setelah sebelumnya termarjinalkan.”

Begitu tulis Muhidin M. Dahlan, tukang arsip di Indonesia Buku (I:BOEKOE), dalam artikelnya berjudul “Jalan Gejayan, 'Jalan Komunis' Affandi” yang tayang di web Ypkp1965.org, 10 November 2007.

Panggung politik yang dimaksud Muhidin di sini adalah sebuah demonstrasi mahasiswa menentang kekuasan Orde Baru pada Mei 1998 yang berpusat di ruas jalan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Affandi itu. Puncak dari panggung politik itu terjadi pada 5 dan 8 Mei 1998 yang merenggut nyawa seorang warganya yang kemudian kita kenal sebagai Peristiwa Gejayan.

"Selama pendudukan mahasiswa, pot-pot bunga dipecahkan, pepohonan diseret, gardu telepon digerayangi, lampu-lampu jalan ditekuk ke tanah, pembatas jalan dibongkar hingga jalan ini nyaris tak bisa dilewati kendaraan roda empat," tulis Muhidin.

Seorang warga yang menjadi korban peristiwa itu bernama Moses Gatutkaca, seorang mahasiswa dari Fakultas MIPA Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dan untuk mengenang kematiannya, ruas jalan yang ada di situ, yang menjadi lokasi gugurnya Moses, diberi nama Jalan Moses Gatutkaca.

Mengutip Kompas.com, Gejayan adalah seorang padukuhan di Kelurahan Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Untuk sampai ke padukuhan itu, salah satunya kita harus melewati ruas jalan yang, sebelum diganti menjadi Jalan Affandi, dikenal sebagai Jalan Gejayan.

Ada banyak kampus yang berada di sepanjang ruas jalan yang membentang dari Perempatan Demangan di selatan hingga Lampu Merah Condong Catur di utara. Di antaranya adalah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY – yang dulu dikenal sebagai IKIP Yogyakarta), Universitas Sanata Dharma (USD), dan Universitas Atmajaya (Fakultas Hukum).

Dan di ruas jalan itulah Peristiwa Gejayan Mei 1998 terjadi.

Peristiwa Gejayan bermula pada 5 Mei 1998. Ketika itu, ribuan mahasiswa di bawah bendera Solidaritas Mahasiswa Sanata Dharma untuk Reformasi (Somasi) menggelar mimbar bebas di halaman kampus, sebagaimana dikutip dari Historia.ID. Tak hanya meminta supaya harga bahan pokok yang turun, mereka juga meminta Presiden Soeharto meletakkan jabatannya.

Suasana semakin memanas saat matahari terbenam. Terjadi bentrok antara massa aksi dan aparat keamanan. “Suasana mirip perang kota. Gelap membuat gamang, marah …,” tulis Hito Tugiman dalam Budaya Jawa & Mundurnya Presiden Soeharto.

Esoknya, aparat keamanan semakin represif. Mereka mengejar massa aksi hingga ke dalam kampus. 29 demonstran ditangkap hari itu.

Puncaknya terjadi pada 8 Mei 1998. Di hari itu, demonstrasi terjadi dari pagi hingga malam hari – yang kemudian ditutup dengan bentrokan berdarah yang menewaskan almarhum Moses Gatutkaca.

Di hari itu, sekitar pukul 13.00 WIB setelah salat Jumat, ribuan mahasiswa menggelar aksi di Bundaran Kampus UGM. Di saat yang bersamaan, aksi juga terjadi di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) dan Sanata Dharma. Paginya, demonstrasi sudah terjadi di beberapa kampus seperti Institut Sains dan Teknologi Akprind dan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS).

Menjelang sore hari, para mahasiswa mulai bergerak dari Jalan Gejayan untuk bergabung di sekitar Bundaran UGM. Karena tidak ingin aksi demonstrasi menjadi semakin besar, aparat kembali melakukan upaya untuk membubarkan massa.

Sekitar pukul 17.00, terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan para mahasiswa di pertigaan antara Jalan Gejayan dan Jalan Kolombo membuat suasana mencekam menghiasi Jalan Gejayan dan sekitarnya hingga malam hari. Beberapa akses jalan yang menuju lokasi ditutup akibat bentrokan ribuan mahasiswa dan masyarakat dengan ratusan aparat keamanan.

Menurut Silverio R.L. Aji Sampurno, sejarawan dari Sanatara Dharma, kepada Kompas.com, mengatakan, saat bentrokan pada 8 Mei 1998 itu, gang-gang di kanan kiri Gejayan ditutup oleh warga. "Semua gang diblokade, timur barat Jalan Gejayan yang masuk gang-gang itu semua diblokir oleh masyarakat," ungkapnya.

Dia juga bilang bahwa aparat keamanan memang menyisir untuk mencari mahasiswa. Mereka bahkan mengejar para mahasiswa sampai masuk ke gang-gang di sekitar Jalan Gejayan.

Menurut Harian Kompas yang terbit pada 9 Mei, hingga pukul 23.00 WIB pada 8 Mei 1998, kondisi di Jalan Kolombo masih memanas. Mahasiswa dan masyarakat melawan aparat dengan batu, petasan, bahkan bom molotov, sehingga usaha membubarkan demonstran kemudian ditempuh dengan tembakan gas air mata, semprotan air dari kendaraan water gun.

Aparat keamanan juga melakukan pengejaran ke dalam kampus di IKIP Yogyakarta dan kampus Sanata Dharma. Setidaknya tujuh orang yang diduga melakukan provokasi terhadap aksi ini ditangkap.

Yang bikin pilu, bentrokan hari itu memakan korban. Mahasiswa Fakultas MIPA Sanata Dharma asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bernama Moses Gatutkaca tewas. Dia ditemukan tergeletak di sekitar Posko PMI di Sanata Dharma.

Nyawanya kemudian tidak tertolong dan meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Panti Rapih. Menurut dokter Sudomo Jatmiko SPB dari UGD RS Panti Rapih, Moses Gatutkaca mengalami perdarahan telinga akibat benda tumpul.

Menurut keterangan Silverio R.L Aji Sampurno, Moses Gatutkaca sebenarnya bukan massa aksi yang terlibat dalam demonstrasi di Jalan Gejayan itu. Dia adalah mahasiswa yang malam itu kebetulan sedang mencari makan.

“Mozes tidak ikut aksi demo. Dia waktu itu hanya ingin mencari makan. Salah sasaran,” terangnya.

Silverio juga menuturkan bahwa Moses Gatutkaca diduga menjadi korban aksi aparat keamanan di daerah sekitar perempatan sisi timur jalan yang saat ini menjadi Jalan Moses Gatotkaca. "Dipukuli di situ, ditemukan di sekitar situ juga," ungkapnya.

Setelah peristiwa itu, nama Moses Gatutkaca kemudian dibabadikan menjadi jalan di selatan Universitas Sanata Dharma (USD) Mrican. Silverio R.L Aji Sampurno mengungkapkan adanya acara doa bersama lintas iman pada saat peresmian nama Mozes Gatotkaca menjadi nama jalan.

“Nama jalan itu mulai 20 Mei 1998. Seingat saya Romo Mangun (Y.B Mangunwijaya) ada disitu memimpin doa bersama lintas iman," ucapnya.

Yang hadir ketika itu adalah para mahasiswa, warga sekitar hingga keluarga Moses Gatutkaca. Kakak kandung Moses, Tinny, mengungkapkan bahwa keluarganya memang menerima undangan saat nama adiknya diabadikan menjadi nama jalan. Tapi dia mengatakan bahwa yang datang saat itu hanya suami dan satu anaknya.

"Kita resmi diundang, tapi saya tidak hadir. Bapaknya (suami) yang hadir sama anak saya yang mbarep (anak tertua), hadir sampai selesai," tutur kakak kandung Moses Gatutkaca itu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.