TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Pelaksanaan rekrutmen tenaga kesehatan non ASN di BLUD RSUD dr. Koesnadi Bondowoso menjadi sorotan. Proses seleksi dipertanyakan, karena hasil penilaian untuk formasi perawat tidak diumumkan, berbeda dengan formasi lainnya yang disertai nilai skoring peserta.
Dalam lampiran pengumuman seleksi kompetensi, hampir seluruh formasi menampilkan hasil penilaian secara rinci, mulai dari apoteker, dokter IGD, tenaga teknis kefarmasian, penata anestesi, hingga pramusaji. Namun pada formasi perawat, dokumen hanya memuat keterangan “Perawat Terampil” dan “Perawat Ahli” tanpa disertai nilai peserta.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan dari sejumlah peserta dan mendapat perhatian tenaga medis di RSUD dr. Koesnadi, salah satunya dokter spesialis Yusdeny Lana Sakti.
Baca juga: Lapas Bondowoso Geledah Kamar dan Tes Urine 267 Penghuni dan 67 Petugas
Melalui unggahan di media sosialnya, Yusdeny mengaku menerima banyak keluhan dari peserta seleksi formasi perawat. Menurutnya, tidak adanya publikasi nilai membuat proses penilaian sulit dipahami dan berpotensi menimbulkan kecurigaan publik.
“Ini kenapa bisa begini, bagaimana asas transparansinya,” ujar Yusdeny seperti dikutip dari unggahan videonya, Jumat (8/5/2026).
Ia menilai proses rekrutmen tanpa keterbukaan hasil skoring bertentangan dengan prinsip sistem merit yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, serta bebas dari diskriminasi dan nepotisme.
Baca juga: Polda Jatim Temukan 7 Senjata Api Dinas Tak Layak Pakai di Polres Bondowoso
Yusdeny juga mengungkap adanya informasi dugaan nomor ujian peserta yang diberi tanda warna tertentu. Hal itu memicu spekulasi adanya perlakuan khusus dalam proses seleksi.
“Berwarna, kenapa itu berwarna. Itu ditendensinya, dicurigai itu titipan,” katanya.
Menurutnya, keterbukaan dalam proses seleksi penting untuk menjamin keadilan bagi seluruh peserta. Apalagi, formasi yang dibuka merupakan tenaga perawat yang nantinya akan memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.
“Mereka mungkin anak dari orang tua yang berharap anaknya dapat kesempatan yang sama untuk bisa masuk dalam jajaran rumah sakit,” ujarnya.
Baca juga: Polres Bondowoso Bangun dan Perbaiki 7 Jembatan Antar Desa
Unggahan tersebut mendapat perhatian luas di media sosial dan telah ditonton puluhan ribu kali. Berbagai komentar dari warganet turut mempertanyakan transparansi proses seleksi tenaga kesehatan tersebut.
Direktur RSUD dr. Koesnadi Bondowoso, Yus Priyatna, belum memberikan penjelasan detail terkait polemik tersebut. Saat dikonfirmasi, ia hanya menyampaikan akan memberikan keterangan pada awal pekan depan.
“Senin ya,” katanya singkat.
Baca juga: Polres Bondowoso Bangun dan Perbaiki 7 Jembatan Antar Desa
Sorotan juga datang dari DPRD Bondowoso. Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso, Abdul Majid, menegaskan seluruh tahapan rekrutmen tenaga kesehatan harus dilaksanakan secara terbuka dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, mulai dari seleksi administrasi, tes kompetensi, hingga wawancara perlu disampaikan secara jelas kepada publik agar masyarakat mengetahui proses berjalan secara profesional.
“Untuk memperlihatkan kepada masyarakat secara umum bahwa apa yang dilakukan sudah sesuai ketentuan,” ujarnya.
Politikus Partai Gerindra itu menilai tenaga kesehatan yang direkrut harus benar-benar memiliki kompetensi dan kemampuan profesional karena berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan rumah sakit.
Karena itu, DPRD berencana memanggil pihak RSUD dr. Koesnadi untuk meminta klarifikasi terkait perbedaan mekanisme pengumuman hasil seleksi formasi perawat dibanding formasi lainnya.
“Atau ada teknis mengapa tak sama dengan yang lain,” katanya.
Baca juga: Target 70 Desa Mandiri, Baru Terealisasi 47 Desa di Bondowoso, Ini Kendalanya
Abdul Majid menambahkan, sejak awal DPRD telah mendukung rencana rekrutmen tersebut melalui rapat kerja bersama pihak rumah sakit. Dukungan diberikan karena legislatif berharap ada peningkatan pelayanan kesehatan di RSUD dr. Koesnadi.
“Karena teknis ya rumah sakit yang tahu,” pungkasnya.
Adapun formasi tenaga kesehatan non ASN yang dibuka dalam rekrutmen tersebut meliputi apoteker, dokter IGD, tenaga teknis kefarmasian, penata anestesi, tenaga ahli teknologi laboratorium medik, perawat, terapis gigi dan mulut, ahli teknik elektromedik, dietisien, teknisi kardiovaskuler, fisioterapis, perekam medis, radiografer, psikolog klinis, programmer, hingga pramusaji.