TRIBUNNEWS.COM - Pelatih timnas Jerman untuk Piala Dunia 2026 bernama Julian Nagelsmann pernah dapat julukan Baby Mourinho.
Julukan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Ini karena Nagelsmann berada di kursi kepelatihan ketika rekan sebanyanya masih sibuk bermain di lapangan.
Tapi seiring berjalannya waktu, pria yang saat ini akan menukangi timnas Jerman di Piala Dunia 2026 ini telah lepas dari bayang-bayang pelatih elite manapun.
Dia telah lahir sebagai juru taktik yang punya visi misi terbaiknya dalam misi membawa kembali kejayaan Jerman di Piala Dunia 2026.
Merangkum Bundesliga, Nagelsmann merupakan pria yang lahir di Kota Landsberg am Lech, Bavaria, Jerman itu sebenarnya tak terlahir sebagai juru taktik tim.
Ia adalah pemuda berbakat yang merintis kariernya sebagai pesepakbola profesional di tim muda Jerman, Munich dan Augsburg.
Namun petaka menghampirinya ketika berusia 20 tahun dibekap cedera lutut parah. Seketika, mimpi menjadi pesepakbola profesional hancur dalam sekejab.
"Awalnya, saya tidak mau lagi berurusan dengan sepak bola. Sangat menyedihkan harus mengakhiri karier semuda itu," katanya.
Di tengah patah hari tersebut, sosok bernama Thomas Tuchel muncul sebagai penolong nasib Nagelsmann.
Saat menangani tim cadangan Augsburg pada musim 2007/2008, Tuchel menugaskan Nagelsmann untuk memantau kekuatan lawan. Penugasan itu yang menjadi gerbang pembuka karier kepelatihan Nagelsmann.
Baca juga: Komentar Julian Nagelsmann setelah Bawa Jerman Jaga Tradisi Lolos ke Putaran Final Piala Dunia
Tuchel sendiri mengakui bakat besar sang murid. Bahkan pria yang menukangi timnas Inggris di Piala Dunia 2026 nanti menyebut Nagelsmann sebagai sosok yang haus ilmu serta pekerja keras.
"Saya sangat senang untuknya, dan saya percaya padanya," kata Tuchel memuji Nagelsmann.
Lompatan besar Nagelsmann di dunia kepelatihan terjadi pada bulan Februari 2016. Di usia yang baru menginjak 28 tahun, ia ditunjuk sebagai juru taktik Hoffenheim, menjadikannya sebagai pelatih termuda sepanjang sejarah Liga Jerman.
Ia mengambil alih tim saat tengah terseok-seok di posisike-17. Dan mengesankannya, ia berhasil membawa tim tersebut ke kasta tertinggi dan terus memecahkan rekor demi rekor.
Jejak impresif ini membawanya ke RB Leipzig, di mana ia berhasil mengantar tim tersebut tembus semifinal Liga Champions di usianya 33 tahun.
Torehan itu didapat ketika usianya satu bulan lebih muda daripada Lionel Messi dan rekornya mengalahkan catatan impresif Didier Deschamps.
Karier kepelatihannya mencapai puncak di level klub saat menangani Bayern Munich. Meski hanya bertahan selama 18 bulan, statistiknya sangat mentereng dengan rata-rata 2,16 poin per pertandingan, menempatkannya sejajar dengan legenda seperti Jupp Heynckes.
Di sana pula ia mengukuhkan diri sebagai "Raja Fase Grup Eropa" dengan menyapu bersih 12 kemenangan beruntun di Liga Champions.
Salah satu rahasia kejeniusannya terletak pada pemanfaatan teknologi.
Nagelsmann adalah inovator yang membawa drone hingga dinding video raksasa ke lapangan latihan untuk membedah taktik secara real-time.
Di mata lawan, strategi Nagelsmann adalah sebuah teka-teki rumit.
Ia dikenal sangat fleksibel, formasi bisa berubah total di tengah laga, membuat pengamat sepak bola hingga manajer Fantasy Football sering kali dibuat pusing oleh keputusannya.
Namun, di balik kecanggihan taktiknya, Nagelsmann tetaplah sosok yang membumi.
"Saya suka menyerang lawan di dekat gawang mereka sendiri karena jarak tempuh menuju gol menjadi lebih pendek," tuturnya mengenai filosofi yang ia usung.
Menjelang Piala Dunia 2026 Amerika Utara, ia bukan lagi seorang "bayi" dalam dunia kepelatihan.
Ia adalah arsitek utama yang dipercaya rakyat Jerman untuk memimpin "Die Mannschaft" menaklukkan dunia sekali lagi.
Tempat Lahir: Landsberg, Jerman
Tanggal Lahir: 23 Juli 1987
Usia: 38 tahn
Tinggi Badan: 190 cm
Berat Badan: 80kg
(Tribunnews.com/Niken)