Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah
Alfons Nedabang May 08, 2026 05:19 PM

Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah

Oleh: Joaquin De Santos Fahik
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM - Gereja Katolik mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria. Penetapan ini berakar pada transformasi budaya yang mendalam di Eropa abad ke-18.

Pada masa itu, bulan Mei dipandang sebagai puncak musim semi, saat alam berseri dengan bunga-bunga yang bermekaran.

Gereja Katolik dalam kearifan pedagogisnya, mengarahkan kekaguman manusia atas keindahan alam ini kepada Bunda Maria. 

Secara formal, Paus Paulus VI melalui Ensiklik Mense Maio pada tahun 1965 menegaskan bahwa bulan Mei adalah kesempatan istimewa bagi umat beriman untuk memberikan penghormatan lebih kepada Sang Perawan Suci
melalui praktik devosi yang kaya.

Dokumen ini, yang kemudian diperkuat oleh Anjuran Apostolik Marialis Cultus (1974), meletakkan dasar bahwa penghormatan kepada Maria tidak boleh dipisahkan dari misteri keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus.

Bagi umat Katolik Nusa Tenggara Timur (NTT), seruan bulan Maria ini disambut dengan gairah spiritual yang luar biasa unik dan komunal.

Bagi umat Katolik di tanah Flobamora, Mei merupakan bulan di mana malam-malam menjadi lebih panjang dengan lantunan doa yang menggema dari satu rumah ke rumah lainnya.

Devosi Maria di NTT telah menyatu dengan identitas sosial umat. Praktik doa rosario berantai atau doa lingkungan menciptakan ruang perjumpaan yang intim.

Di sela-sela kesibukannya, umat beriman menyempatkan diri berkumpul bersama di depan arca Maria yang dihiasi bunga segar dan nyala lilin untuk melantunkan doa rosario.

Doa rosario di NTT dapat disebut sebagai nafas kehidupan. Ia adalah media curhat komunal kepada Bunda yang dipandang mampu memahami segala beban hidup.

Namun, di balik semaraknya devosi ini, sering kali muncul pertanyaan teknis namun fundamental: di tengah suasana sukacita Paskah yang biasanya jatuh bertepatan dengan bulan Mei, haruskah kita tetap terpaku pada urutan peristiwa Rosario yang standar, ataukah ada kewajiban untuk hanya merenungkan Peristiwa Mulia?

Pertanyaan mengenai kewajiban merenungkan Peristiwa Mulia selama bulan Maria yang bertepatan dengan masa Paskah perlu dijawab dengan membedakan antara aturan legalistik dan kepatutan liturgis.

Jika ditinjau dari sisi hukum Gereja, tidak ada perintah yang mewajibkan umat secara kaku untuk hanya mendaraskan peristiwa mulia setiap hari sepanjang bulan Mei.

Namun, jika kita menyelami dokumen Marialis Cultus nomor 31, terdapat prinsip yang sangat jelas bahwa devosi umat harus diselaraskan dengan masa liturgi. 

Masa Paskah adalah perayaan kemenangan Kristus atas maut. Peristiwa Mulia dalam doa Rosario mulai dari Kebangkitan, Kenaikan, hingga Maria Diangkat ke Surga adalah resonansi sempurna dari sukacita Paskah tersebut. 

Mengulang-ulang Peristiwa Sedih di tengah soraksorai kebangkitan Kristus secara teologis bisa terasa janggal, karena seolah-olah kita memisahkan doa pribadi dari arus besar doa Gereja Universal yang sedang merayakan kemenangan Kristus atas maut.

Dasar teologis dari kecenderungan ini adalah prinsip Lex Orandi, Lex Credendi atau apa yang kita doakan mencerminkan apa yang kita yakini. Masa Paskah merayakan Kristus yang bangkit dan hidup.

Oleh karena itu, merenungkan Peristiwa Mulia menjadi sangat relevan karena peristiwa-peristiwa tersebut membantu umat untuk memahami bagaimana Bunda Maria terlibat langsung dalam kemuliaan Putranya.

Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (2002) nomor 38 memberikan catatan penting. Ia menyatakan bahwa meskipun ada pembagian peristiwa harian yang sudah mapan, urutan tersebut tidak bersifat membatasi.

Ia justru menganjurkan fleksibilitas pastoral agar permenungan doa rosario dapat menjadi ringkasan Injil yang kontekstual. Dengan demikian, jika masa Paskah menuntut kita untuk bersukacita, maka Peristiwa Mulia adalah yang paling tepat untuk mengantar kita pada kedalaman misteri kebangkitan tersebut.

Maka, agar kehidupan devosional umat tetap selaras dengan ajaran Gereja universal tanpa mematikan semangat lokal, diperlukan sebuah pedagogi doa yang lebih cerdas.

Para pemimpin umat seperti ketua lingkungan atau katekis, sebaiknya memberikan pemahaman bahwa perubahan peristiwa Rosario bukanlah sebuah pelanggaran aturan, melainkan sebuah bentuk devosi yang menyatu dengan masa liturgi.

Kita dapat tetap mengikuti siklus mingguan yang ada, namun memberikan penekanan khusus pada hari-hari tertentu atau bahkan mengganti Peristiwa Sedih dengan Peristiwa Mulia selama bulan Mei yang berada dalam masa Paskah. Hal ini bertujuan agar umat benar-benar menghayati apa yang sedang dirayakan oleh Gereja di altar.

Keselarasan antara devosi dan liturgi adalah kunci utama. Jangan sampai penghormatan kita kepada Maria justru membuat kita lupa bahwa fokus utama dari setiap doa adalah Kristus yang bangkit.

Dengan menyesuaikan permenungan Rosario pada Peristiwa Mulia selama masa Paskah, kita sedang belajar untuk berteologi melalui doa.

Kita menghormati Maria bukan sebagai sosok yang terpisah dari sejarah keselamatan, melainkan sebagai pribadi yang paling pertama dan paling sempurna dalam mengimani kebangkitan.

Dengan demikian, semarak bulan Maria di NTT dapat menjadi momen pendalaman iman yang teologis, di mana setiap bulir rosario yang diputar membawa umat semakin dekat pada cahaya kemuliaan Paskah yang abadi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.