Permintaan Maaf Taufik Hidayat usai Indonesia Cetak Sejarah Kelam pada Thomas Cup 2026, Alwi Farhan dkk Belum Mampu Keluar dari Tekanan
Delia Mustikasari May 08, 2026 05:33 PM

DELIA MUSTIKASARI/BOLASPORT.COM
Wakil Ketua Umum PP PBSI, Taufik Hidayat, Eng Hian (Kabid Binpres) pada evaluasi Thomas dan Uber Cup 2026 di pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (8/5/2026).

BOLASPORT.COM - Kegagalan Indonesia pada Thomas Cup 2026 ditanggapi Wakil Ketua Umum 1 PBSI, Taufik Hidayat, dengan permintaan maaf.

Tim putra Indonesia untuk pertama kalinya langsung tersingkir pada fase grup setelah kalah 1-4 dari Prancis pada penentuan Grup D di Forum Horsens, Denmark sejak pertama kali berpartisipasi pada Thomas Cup.

Indonesia telah mencatatkan hasil positif dengan kemenangan telak 5-0 atas Aljazair dan kemenangan dramatis 3-2 atas Thailand.

Indonesia dipastikan keluar sebagai juara Grup D jika mampu meraih kemenangan atas Prancis pada laga terakhir fase grup yang akan berlangsung pada Selasa (28/4/2026).

Meski demikian, sejumlah skenario lain masih mungkin terjadi. Jika Fajar Alfian dan kawan-kawan kalah 2-3 dari Prancis dan di saat yang sama Thailand menang 5-0 atas Aljazair, Indonesia akan menempati posisi runner-up grup dan tetap melaju ke babak perempat final.

Indonesiai tidak lolos ke babak perempat final apabila mengalami kekalahan dengan skor 1-4 atau 0-5 dari Prancis.

Skenario ini dipicu oleh hasil mengejutkan sebelumnya karena Thailand secara luar biasa mampu mengalahkan unggulan ke 5, Prancis dengan skor 4-1, sehingga hal tersebut turut mempengaruhi perhitungan selisih kemenangan antara ketiga tim di Grup D.

Dengan tiga skenario yang masih terbuka, laga Indonesia kontra Prancis menjadi laga yang paling menentukan di Grup D.

"Mungkin ini yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang untuk tanggapan Thomas Cup dan Uber Cup. Tentu pengurus kecewa, tetapi kami harus melihat dari sisi atlet," kata Taufik dalam konferensi pers yang dihadiri BolaSport.com di pelatnas Cipayung, Jakarta, Jumat (8/5/2026).

"Kami harus realistis. Kami tahu ekspektasi terhadap bulu tangkis begitu besar dan kami punya sejarah yang bagus 10-20-30 tahun lalu di Thomas Cup dan Uber Cup.

"Kita lihat bahasa di media sosial banyak orang kecewa. Kami tidak menutupi. Secara umum perjuangan atlet sudah maksimal. Mereka menunjukkan semangat dan kerja keras untuk Indonesia," ucap Taufik.

"Tapi kami juga harus jujur bahwa pencapaian tidak sesuai ekspektasi. Atas nama PBSI kami memohon maaf terhadap pencapaian di Thomas Cup dan Uber Cup."

"Memang olahraga seperti itu, kalau menang disanjung dan kalau kalah pasti ada banyak orang kecewa," kata peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 itu,

Meki begitu, Taufik meminta agar masyarakat jangan menyalahkan atlet karena para pemain sudah berjuang di lapangan.

"Saya juga pernah menjadi atlet, Semua atlet sudah berjuang di lapangan. Kita bisa nilai dari sisi apa. Terkadang hasil di lapangan tidak sesuai harapan."

"Kalau mau menyalahkan jangan salahkan atlet. Salahkan kami sebagai pengurus seperti apa. Karena menghasilkan juara itu butuh proses."

 

"Kita lihat bahasa di media sosial banyak orang kecewa. Kami tidak menutupi. Secara umum perjuangan atlet sudah maksimal. Mereka menunjukkan semangat dan kerja keras untuk Indonesia."

"Tapi kami juga harus jujur bahwa pencapaian tidak sesuai ekspektasi. Atas nama PBSI kami memohon maaf terhadap pencapaian di Thomas Cup dan Uber Cup," ujar Taufik.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga ini performa seriap sektor bisa dilihat dari setiap gim-nya.

"Jadi atlet bisa tidak jujur kepada diri sendiri? Bilang siap, tetapi performanya belum keluar saat pertandingan," ucap Taufik.

"Ke depan pelajaran dalan tim, kalau dokter bilang belum siap bertanding, tetapi pelatih memaksa tidak bisa dikirim. Saat lawan Prancis kemarin, kami mengubah pola."

"Sektor tunggal dilihat ranking, berada di bawah Prancis dan hasil mereka lebih bagus sebelum Thomas Cup. Bisa tanya kepada pelatih tunggal, Alwi (Farhan) kenapa, apa ada tekanan" Pertandingan beregu dan individu berbeda.

"Jonatan berada di luar pelatnas. Beregu tidak memikirkan diri sendiri dan mereka belum bisa keluar dari ketegangan. "

"Banyak faktor yang harus diperbaiki, terutama Alwi dan Ubed. Kami evaluasi maksimal. Untuk Ginting kenapa, performa bagus. Tapi saat cedera lawan Prancis, fisiknya belum maksimal meski sudah berjuang maksimal."

Sementara itu, tim Uber Indonesia meraih medali perunggu setelah mencapai semifinal Uber Cup 2026. Namun, kalah 1-3 dari Korea Selatan pada perebutan tiket final.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.