TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gejala yang dialami pasien yang terinfeksi hantavirus yang terjadi di Argentina dan Chili dibandingkan dengan Asia dan Eropa berbeda.
Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bidang Epidemiologi dan Biostatistik, Prof Masdalina Pane menyebut varian hantavirus andes yang saat ini mewabah dan bikin heboh masuk kategori HCPS (Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome) karena yang diserang jantung dan paru sehingga dia menimbulkan gejala yang berat untuk pasien.
Sementara jenis hantavirus di Asia dan Eropa jenis virusnya HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) karena yang diserang bukan ke sistem pernapasan.
"Gejalanya mirip demam berdarah," ujar Prof Masdalina dalam wawancara Podcast dengan Tribun, Jumat(8/5/2026).
Hantavirus varian Andes tingkat virulensinya juga cukup tinggi. Virulensi adalah tingkat kemampuan atau keganasan suatu mikroorganisme patogen (virus, bakteri, jamur, parasit) untuk menimbulkan penyakit dan kerusakan pada inangnya.
"Kalau sudah human to human ini jadi risiko yang besar apalagi virulensinya tinggi antara 12 sampai 60 persen. Artinya dari 100 pasien terinfeksi 12 sampai 60 orang tewas itu yang saat ini terjadi. Seperti kasus di kapal pesiar ada 7 kasus positif 3 tewas jadi sudah melebihi 40 persen virulensinya," kata Prof Masdalina.
Menurut Prof Masdalina hanta virus merupakan genus dari virus hanta serta merupakan virus zoonotic atau asalnya dari hewan terutama tikus.
Tetapi lanjutnya pada beberapa spesies terutama spesies yang sekarang sedang ada di Argentina dan Chili itu sudah menular human to human atau dari manusia ke manusia.
"Jadi ini Andes virus namanya ya," ujarnya.
Masa inkubasi terpendek Hantavirus kata Prof Masadalina yang terpanjang adalah 45 hari, terpendek satu minggu dan rata rata inkubasi 18-22 hari.
Untuk pola penularannya adalah dari tikus bisa melalui air liur, urin atau kotorannya.
Baca juga: Hantavirus Varian Andes Cukup Menular, Tingkat Virulensinya Tembus 60 Persen
"Jadi kalau tikus menggigit makanannya sisanya tertinggal air liur tikus itu merupakan perantara penularan, kedua urin tikus kemudian dari kotoran tikus," ujar Prof Masdalina.
Karena itulah katanya apabila sudah diketahui pola penularannya maka yang berikutnya harus dilakukan adalah memitigasi, seperti membuat sedikit jumlah tikus yang ada atau membatasi kontak
"Kita juga harus menjaga kebersihan tubuh kita dengan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh terutama yang rentan bayi, anak-anak dan orang tua," ujarnya.