BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Pagi belum sepenuhnya terang ketika saya tiba di Desa Kurau, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah.
Jam menunjukkan tepat pukul 08.00 WIB, matahari masih bersahabat. Deru mesin perahu memecah sunyi desa pesisir itu.
Di bawah jembatan yang membelah kampung nelayan tersebut, perahu-perahu tertambat rapi, sementara sebagian lainnya hilir mudik membawa hasil laut yang menjadi denyut nadi ekonomi warga.
Di desa ini, laut bukan sekadar lanskap. Ia adalah sumber kehidupan. Mayoritas warga menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Namun, denyut ekonomi tak berhenti di dermaga. Di tangan para perempuan, hasil tangkapan itu bertransformasi menjadi produk olahan khas Bangka Belitung yakni getas dan kericu.
Dari dapur-dapur sederhana itulah cerita ketahanan ekonomi lokal bermula.
Salah satu yang menonjol adalah Bahek Ewaki, sebuah toko oleh-oleh khas Bangka yang berdiri di pinggir jalan lintas Pangkalpinang-Koba.
Spanduk besar yang terpampang di depan ruko. Di dalamnya, berjejer aneka olahan berbahan dasar ikan. Mulai dari getas, kericu, hingga kemplang, dengan variasi bahan seperti ikan, cumi, udang, hingga kepiting.
Produk-produk itu dikemas dalam berbagai ukuran, dari harga Rp10.000 hingga Rp35.000 per 250 gram. Tak hanya produk sendiri, Bahek Ewaki juga menjadi etalase bagi beragam produk UMKM lain di Bangka Belitung, seperti rusip, terasi, hingga madu.
Namun, sebelum produk-produk itu tersusun rapi di etalase toko, ada proses panjang yang berlangsung di baliknya.
Langkah saya kemudian diarahkan ke bagian belakang toko. Di sanalah dapur produksi Bahek Ewaki berada, ruang sederhana yang menjadi jantung dari seluruh aktivitas usaha ini.
Beruntung, hari itu bertepatan dengan jadwal produksi. Tidak setiap hari dapur ini beroperasi. Dalam kondisi normal, produksi hanya dilakukan sekitar tiga kali dalam sebulan.
Namun menjelang hari besar seperti Idulfitri dan Iduladha, dapur ini nyaris tak pernah berhenti berdenyut setiap hari untuk memenuhi lonjakan permintaan.
Aroma khas minyak panas langsung menyergap begitu memasuki ruangan. Lima kuali berukuran besar berjajar, masing-masing berisi getas yang tengah digoreng.
Minyak tampak bergelembung. Sementara tangan-tangan terampil para pekerja, yang mayoritas ibu-ibu, bergerak cepat.
Dengan menggunakan saringan besar berbahan logam, mereka mengaduk dan mengangkat getas dari dalam kuali.
Gerakannya cekatan, seolah sudah menyatu dengan ritme pekerjaan yang dijalani bertahun-tahun. Getas yang telah matang diangkat, ditiriskan sejenak di atas kuali, lalu dipindahkan ke dalam baskom besar.
Dari baskom, getas kembali dipindahkan ke nampan-nampan lebar untuk ditiriskan lebih lanjut. Minyak yang masih menetes perlahan berkurang, meninggalkan tekstur getas yang kering dan renyah, ciri khas olahan Bahek Ewaki.
Di sudut lain, proses awal tak kalah menarik. Adonan getas yang telah diolah dari daging ikan segar terlebih dahulu dibentuk memanjang, lalu dipotong kecil-kecil dengan ukuran seragam. Potongan-potongan itu kemudian siap digoreng dalam kuali panas.
Tak ada mesin canggih di ruangan ini. Semua dikerjakan secara manual, mengandalkan ketelatenan dan pengalaman.
Namun justru dari tangan-tangan sederhana itulah lahir produk yang kini tak hanya dikenal di Bangka Belitung, tetapi juga telah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.
Sebelum akhirnya tersusun rapi di etalase toko, setiap getas melewati proses panjang, dari adonan, penggorengan, penirisan, hingga pengemasan. Sebuah perjalanan rasa yang dimulai dari dapur sederhana di Desa Kurau.
Saat ditemui di Desa Kurau, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat (8/5/2O26) owner Bahek Ewaki, Andreas, mengisahkan bahwa usaha ini berakar dari dapur ibunya sejak sekitar tahun 2014. Nama "Bahek Ewaki" sendiri sarat makna personal.
"Bahek itu panggilan ayah saya di kampung. Kalau Ewaki itu dari bahasa Bugis, artinya semangat atau maju terus," ujarnya saat ditemui Bangkapos.com, Jumat (8/5/2026).
Pada awal merintis, produksi masih sangat terbatas. Sang ibu hanya mengolah sekitar lima kilogram ikan, dikerjakan sendiri dari produksi hingga penjualan. Andreas, yang saat itu masih kuliah, membantu memasarkan.
Namun, tantangan terbesar kala itu bukan produksi, melainkan identitas.
"Dulu orang bingung cari siapa yang jual getas di Kurau, karena tidak ada plang atau toko," kenangnya.
Perlahan, usaha ini berkembang. Inovasi dilakukan dengan menghadirkan varian baru seperti getas cumi, udang, hingga getas berbahan kepiting.
Kini, dalam satu kali produksi, Bahek Ewaki mampu mengolah hingga 60 kilogram bahan mentah, yang setelah diproses bisa menghasilkan lebih dari 100 kilogram produk jadi.
Perkembangan signifikan terjadi pada 2019, ketika Andreas mendapatkan akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia.
Pinjaman sebesar Rp300 juta itu menjadi titik balik.
"Dari dana KUR BRI itu, saya bisa bangun toko ini. Dulu tidak punya toko, orang susah cari. Sekarang Alhamdulillah sudah punya tempat sendiri," kata Andreas.
Baginya, akses pembiayaan tersebut tidak hanya membantu ekspansi fisik usaha, tetapi juga memberi rasa aman dalam mengelola keuangan.
"Bunganya ringan karena ada subsidi. Pembayarannya juga mudah, tinggal isi saldo, nanti otomatis terdebet. Jadi tidak ribet," ujarnya.
Keputusan mengambil KUR sebelum pandemi Covid-19 pun menjadi langkah krusial. Saat banyak pelaku usaha limbung, Bahek Ewaki justru relatif lebih siap.
"Saat Covid kemarin, saya sudah punya toko dan sudah bisa atur keuangan. Jadi tidak terlalu panik," tambahnya.
Kini, selain mengandalkan penjualan langsung di toko, Bahek Ewaki juga merambah pasar digital. Melalui platform seperti TikTok Shop dan Shopee, Andreas rutin melakukan siaran langsung setiap malam.
Hasilnya cukup signifikan. Dalam satu kali live, transaksi bisa mencapai belasan pesanan, dengan omzet minimal sekitar Rp1 juta per malam.
"Alhamdulillah, setiap hari ada saja penjualan online. Ini membantu memperkenalkan produk kami lebih luas," katanya.
Tak hanya membesarkan usahanya sendiri, Bahek Ewaki juga membuka ruang bagi UMKM lain untuk tumbuh bersama. Produk-produk pelaku usaha kecil dari berbagai daerah di Bangka Belitung kini turut dipajang dan dipasarkan di tokonya.
Langkah itu menjadikan Bahek Ewaki bukan sekadar toko oleh-oleh, tetapi juga simpul kolaborasi ekonomi lokal.
Di Desa Kurau, di antara riuh perahu dan aroma laut, Bahek Ewaki menjadi contoh bagaimana usaha kecil dapat naik kelas, berangkat dari dapur sederhana, diperkuat inovasi, dan dipercepat melalui akses pembiayaan yang tepat.
*KUR BRI Dorong UMKM Pesisir Naik Kelas
Di tengah geliat usaha olahan hasil laut di Desa Kurau, akses permodalan memang menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pelaku UMKM bertahan dan berkembang.
Mantri BRI Unit Soekarno Hatta, Kantor Cabang Pangkalpinang, Andre Sutrisno, mengatakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) memiliki peran besar sebagai penggerak ekonomi mikro, khususnya bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari hasil laut.
Menurut Andre, pembiayaan KUR membantu pelaku usaha memperoleh modal untuk membeli bahan baku hingga menunjang kebutuhan produksi.
"Melalui KUR, pelaku UMKM bisa membeli bahan baku seperti ikan, kemudian melakukan investasi alat produksi untuk menunjang usaha mereka. Hasil laut yang sebelumnya dijual mentah bisa diolah menjadi barang jadi yang nilai jualnya lebih tinggi," ujar Andre.
Ia menyebut, penyaluran KUR di wilayah Bangka Belitung terus diarahkan kepada pelaku usaha mikro dan kecil yang memiliki potensi berkembang, termasuk UMKM pengolahan hasil perikanan seperti Bahek Ewaki di Desa Kurau.
Tak hanya menyediakan akses pembiayaan, BRI juga melakukan pendampingan kepada nasabah UMKM agar mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar dan teknologi.
Pendampingan tersebut dilakukan melalui pelatihan peningkatan kapasitas usaha, pemasaran produk, hingga digitalisasi transaksi.
"Kami juga mendampingi pelaku UMKM dalam pemasaran produk dan pengembangan usaha. Selain itu, kami membantu digitalisasi usaha melalui fasilitas pembayaran non tunai seperti QRIS dan mesin EDC agar transaksi lebih mudah," katanya.
Menurut Andre, penguatan layanan digital menjadi bagian dari strategi BRI dalam memperluas akses layanan ke wilayah pelosok.
Melalui jaringan Agen BRILink dan layanan pembayaran digital, pelaku UMKM di daerah kini semakin mudah mengakses layanan perbankan tanpa harus datang jauh ke kantor cabang.
"Kami terus memperluas jangkauan layanan hingga ke pelosok melalui Agen BRILink dan transaksi digital. Harapannya, pelaku UMKM bisa lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan maupun layanan transaksi non tunai," ungkapnya.
Andre menambahkan, masyarakat yang ingin mengajukan KUR dapat langsung mendatangi kantor BRI terdekat dengan membawa sejumlah persyaratan administrasi.
Di antaranya berupa KTP suami istri, kartu keluarga, buku nikah, Nomor Induk Berusaha (NIB), serta NPWP.
"Kami berharap akses pembiayaan ini benar-benar dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha produktif masyarakat," katanya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)