Perkembangan industri perdagangan berjangka di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi dan trading digital
Masyarakat perlu memahami perubahan regulasi dalam industri perdagangan berjangka, khususnya terkait transaksi valuta asing atau forex yang kini masuk dalam kategori pasar uang dan valuta asing (PUVA)
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Perkembangan industri perdagangan berjangka di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi dan trading digital.
Namun di tengah tren tersebut, literasi keuangan dan pemahaman terhadap legalitas perusahaan masih menjadi tantangan besar, terutama maraknya praktik ilegal berkedok investasi hingga pinjaman online yang merugikan masyarakat.
Ketua Umum Asosiasi Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia (ASPEBTINDO), Zulfan Syaiful Bahri, mengatakan masyarakat kini perlu memahami perubahan regulasi dalam industri perdagangan berjangka, khususnya terkait transaksi valuta asing atau forex yang kini masuk dalam kategori pasar uang dan valuta asing (PUVA).
“Kalau ada yang masih bilang forex, sekarang istilahnya sudah berubah menjadi PUVA atau pasar uang dan valuta asing. Kalau ada seminar tentang forex, masyarakat harus hati-hati, karena aturan dari Bank Indonesia sudah berubah,” ujar Zulfan di acara Ikuti Cara Smart Money Bermain di Market, di Eureka Coffee, Jalan Lengkong, Jumat (8/5/2026).
Menurut Zulfan, transaksi komoditas seperti emas berada di bawah pengawasan pemerintah melalui regulator terkait, sementara transaksi valuta asing diawasi oleh Bank Indonesia.
Adapun transaksi derivatif efek seperti indeks saham berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan.
Ia menegaskan, masyarakat harus lebih kritis sebelum memilih perusahaan trading atau investasi.
Ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan, yakni legalitas perusahaan, transparansi sistem, serta kewaspadaan terhadap iming-iming keuntungan pasti.
“Pertama, cek apakah perusahaan itu terdaftar dan diawasi regulator. Kedua, hati-hati kalau ada janji pasti untung. Itu harus dicurigai. Ketiga, transparansi perusahaan harus jelas, termasuk alur rekening dan legalitasnya,” katanya.
Zulfan juga menyebut industri perdagangan berjangka saat ini mulai berkembang ke arah yang lebih luas, termasuk potensi transaksi suku bunga dan instrumen keuangan lain yang tengah disiapkan regulator.
Sementara itu, Direktur Utama Dupoin Indonesia, Gunawan Herman menjelaskan Dupoin Indonesia merupakan perusahaan pialang berjangka yang telah mengantongi izin resmi dan diawasi oleh sejumlah regulator di Indonesia.
Menurutnya, industri perdagangan berjangka menjadi salah satu sektor yang memiliki pengawasan regulator paling banyak dibanding industri keuangan lainnya.
Gunawan mengatakan seluruh dana nasabah di perusahaan resmi disimpan di rekening terpisah atau segregated account, sehingga tidak bercampur dengan rekening perusahaan.
Seluruh transaksi juga tercatat dalam sistem pengawasan elektronik yang dapat dicek langsung oleh nasabah.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur perusahaan ilegal yang menerima transfer dana sembarangan atau tidak memiliki sistem pencatatan transaksi yang jelas.
“Kalau perusahaan bisa menerima transfer dari rekening yang tidak sesuai data nasabah, itu bahaya. Dana bisa diselewengkan. Jadi masyarakat harus memastikan semua transaksi tercatat dan bisa diverifikasi,” katanya.
Selain itu, Gunawan menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat terhadap konsep dasar perdagangan berjangka, seperti margin, leverage dan risiko.
Menurutnya, perdagangan berjangka berbeda dengan saham atau kripto karena yang diperdagangkan bukan aset fisik, melainkan kontrak jual beli dengan penyelesaian di kemudian hari.
Ia mengibaratkan sistem margin seperti pembelian rumah inden menggunakan uang muka atau DP. Nasabah cukup menyetor sebagian kecil dana untuk mengendalikan nilai transaksi yang lebih besar.
“Leverage itu membantu penggunaan modal jadi lebih efisien. Tapi masyarakat juga harus sadar, semakin besar leverage maka risikonya juga semakin besar. Karena itu industri ini dikenal high risk high gain,” ujarnya.
Gunawan menilai banyak trader pemula gagal bukan karena tidak memiliki strategi, tetapi karena tidak disiplin menjalankan trading plan.
“Trading plan sebagus apa pun tidak akan berguna kalau emosinya tidak terkontrol. Banyak yang sudah punya batas cut loss, tapi saat rugi malah ditahan terus karena tidak rela,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memahami karakter pasar global, termasuk jam perdagangan dan momentum penting seperti rilis data ekonomi Amerika Serikat yang sangat memengaruhi volatilitas pasar.
Di sisi lain, Analis Kebijakan Biro Perekonomian Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Yusuf Hasanudin, mengatakan pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui berbagai pelatihan dan kolaborasi lintas sektor.
Menurut Yusuf, edukasi keuangan kini tidak hanya menyasar pelaku usaha, tetapi juga masyarakat umum melalui pelatihan koperasi, UMKM hingga pelatihan ketenagakerjaan.
Ia menyoroti maraknya pinjaman online ilegal yang masih menjebak masyarakat dengan proses cepat dan bunga tinggi.
“Biasanya mereka menawarkan proses mudah, cukup pakai KTP atau nomor telepon saja. Bunganya juga tidak masuk akal, bisa sampai 20 sampai 25 persen per bulan,” ujarnya.
Yusuf mengatakan masyarakat perlu mewaspadai praktik penagihan agresif dari pinjol ilegal yang kerap disertai ancaman hingga teror terhadap keluarga korban.
“Beberapa kasus bahkan sampai membuat korban kehilangan harga diri karena diteror terus menerus. Masyarakat harus benar-benar mengecek legalitas perusahaan,” katanya.
Ia menyebut tingkat literasi keuangan masyarakat saat ini masih berada di angka sekitar 83 persen, sementara pemerintah menargetkan peningkatan hingga 96 persen.
Menurutnya, peningkatan literasi tidak mungkin hanya dilakukan pemerintah semata mengingat jumlah penduduk Jawa Barat mencapai lebih dari 51 juta jiwa.
Pemarintah pun berkolaborasi dengan regulator, perusahaan dan media dinilai menjadi langkah penting.
“Kami tidak mungkin bekerja sendiri. Keterlibatan berbagai stakeholder termasuk media sangat penting agar masyarakat semakin memahami risiko, keamanan transaksi dan cara berinvestasi yang benar,” ujarnya.