Kadinkes Kulon Progo Respons soal Adanya Suspek Hantavirus, Pastikan Nihil Kasus Positif
Yoseph Hary W May 08, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini merilis pernyataan terkait keberadaan kasus Hantavirus di Indonesia. Isu Hantavirus sedang merebak usai adanya temuan penularan dari penumpang kapal pesiar di tengah Samudra Atlantik.

Kemenkes RI menyatakan bahwa ada 2 suspek Hantavirus di Indonesia. 2 suspek ini masing-masing berada di Jakarta dan Kulon Progo.

Hasil lab di Kulon Progo: negatif Hantavirus

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Susilaningsih mengatakan sampel dari Suspek tersebut sudah diambil dan diperiksa di laboratorium.

"Memang ada suspek tapi hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan negatif Hantavirus," katanya pada wartawan, Jumat (08/05/2026).

Potensi penyebaran lewat tikus

Meski begitu Susilaningsih mengakui ada potensi penyebaran virus. Sebab pihaknya menemukan temuan positif Hantavirus pada tikus yang diperiksa sampelnya oleh laboratorium.

Tikus dikenal sebagai pembawa Hantavirus lewat kotorannya dan bisa menularkannya pada manusia. Penularan umumnya hanya terjadi antara hewan, dalam hal ini tikus, ke manusia alias zoonosis.

"Sejauh ini tidak ada kasus penularan Hantavirus dari manusia ke manusia, sifatnya lebih zoonosis," ujar Susilaningsih.

Gejala mirip flu

Penularan Hantavirus dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Gejalanya mirip seperti flu berupa demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, dan cepat lelah yang muncul 1 hingga 8 minggu setelah paparan kotoran tikus.

Gejalanya bisa meningkat semakin parah dalam waktu 4 sampai 10 hari berikutnya seperti sesak napas parah, batuk kering, dan paru-paru terisi cairan. Penyakit ini juga dikenal memiliki risiko kematian tinggi.

Namun hal itu bisa terjadi jika tidak ada penanganan cepat. Itu sebabnya, Susilaningsih mengatakan pemeriksaan perlu dilakukan sebagai deteksi dini jika timbul gejala mirip paparan Hantavirus.

"Segera dilakukan tindakan medis jika ditemukan gejala mengarah pada kasus Hantavirus," jelasnya.

Susilaningsih mengatakan tidak ada obat khusus untuk pasien Hantavirus. Namun penanganan intensif bisa dilakukan dan penderitanya bisa sembuh selama penanganan bisa dilakukan lebih dini.

Pihaknya pun juga berfokus pada upaya pengendalian dan pencegahan paparan Hantavirus. Upaya itu dilakukan bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan instansi terkait.

"Pengendalian kasus lebih ditujukan pada hewan pembawa penyakitnya, yaitu tikus," kata Susilaningsih.(alx)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.