TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar kampanye bertema “Laki-laki Peduli, Perempuan Berdaya, Masyarakat Setara” di Masjid Jami’ Al Qodar, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Kamis (7/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 19.30–21.00 WIB tersebut merupakan implementasi Mata Kuliah Komunikasi Jender dan Minoritas sebagai bentuk pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.
Kampanye dihadiri dosen pengampu mata kuliah Dr Yuliyanto Budi Setiawan S.Sos M.Si serta melibatkan 25 peserta dari Komunitas Pijar Remaja Masjid Jami’ Al Qodar. Kegiatan dilaksanakan oleh 13 mahasiswa dan mahasiswi Ilmu Komunikasi USM.
Melalui kampanye tersebut, mahasiswa berupaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesetaraan gender agar laki-laki lebih peduli, perempuan lebih berdaya, dan masyarakat mampu menciptakan keseimbangan sosial yang lebih adil.
Remaja dan pemuda dipandang sebagai kelompok strategis yang perlu dibekali pemahaman gender untuk mencegah ketidakadilan, membangun pola pikir inklusif, serta menerapkan nilai kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, komunitas, maupun masyarakat luas.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai konsep dasar kesetaraan gender, perbedaan seks biologis dan gender sebagai konstruksi sosial, perbedaan equality dan equity, hingga berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti diskriminasi, stereotip, dan kekerasan berbasis gender.
Kampanye menghadirkan dua pemateri, yakni pemateri internal dari kelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi USM dan pemateri eksternal Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Semarang Dr Tri Mulyani SPd SH MH.
Dr Tri Mulyani menyampaikan materi mengenai instrumen hukum kesetaraan gender, faktor pembentuk gender, perbedaan gender dan seks, pembakuan peran gender, hingga lingkar ketidakadilan dan diskriminasi gender dalam perspektif hukum.
“Kesetaraan gender itu ada aturan adat, negara, agama, dan norma sosial. Maka orang harus terus menuntut ilmu dan berpendidikan agar paham karena ilmu itu cahaya. Semakin banyak ilmu akan mampu memiliki mindset yang luas. Seseorang jika memiliki pola pikir yang luas akan bisa memahami segala sesuatunya dengan luas, sehingga akan paham apa yang dilakukan,” ujar Dr Tri Mulyani.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab.
Peserta Komunitas Pijar menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif mengajukan pertanyaan mengenai penerapan kesetaraan gender dalam konteks agama, budaya lokal, serta cara mengubah pola pikir patriarki dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peserta mengikuti refleksi melalui survei berbasis QR Code menggunakan Mentimeter.
Hasil survei menunjukkan sebanyak 92 persen atau 23 peserta merasa sangat puas terhadap pelaksanaan kampanye tersebut.
Mayoritas peserta juga menyatakan komitmennya untuk tidak membeda-bedakan orang lain, menghentikan praktik diskriminasi, menolak budaya patriarki, serta lebih menghargai sesama dengan memandang semua orang secara setara.
Sebagai penutup kegiatan, panitia menyerahkan plakat secara simbolis kepada pemateri eksternal dan Komunitas Pijar sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan partisipasi dalam mendukung edukasi kesetaraan gender.
Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa Ilmu Komunikasi FTIK USM dalam mengedukasi masyarakat mengenai isu jender dan minoritas melalui komunikasi strategis yang mendorong terciptanya pemahaman yang inklusif, adil, dan setara di tengah masyarakat. (***)