TRIBUNFLORES.COM, MAUPONGGO - Debur ombak pantai selatan Mauponggo siang itu terdengar keras menghantam pesisir Desa Aewoe. Namun suara Wilfridus Ebit Yons terdengar lebih lantang.
Di hadapan para petani, nelayan, ibu rumah tangga, dan peternak kecil, Wakil Ketua Umum Tani Mardeka Indonesia itu berbicara bukan sekadar tentang bantuan, melainkan tentang harapan dan keberanian untuk bangkit dari kampung kecil.
“Kita boleh lahir dari kampung sederhana, tetapi mimpi tidak boleh sederhana. Orang besar bukan lahir dari kemewahan, tetapi dari keberanian bertahan dalam kesulitan,” kata Yons Ebit Jumat (8/5/2026).
Kedatangan rombongan Tani Mardeka Indonesia di desa perbatasan Kabupaten Nagekeo dan Ngada itu disambut penuh sukacita. Kepala Desa Aewoe, Lorens Raga, mengungkapkan berbagai persoalan yang masih membelit masyarakat: jalan tani yang belum memadai, kekurangan hand traktor, hingga nelayan yang masih menangkap ikan secara tradisional.
Baca juga: Sentil Angka Pengangguran, Wagub NTT Minta Lulusan Unipa Perkuat "Soft Skill", IPK Bukan Jaminan
“Di sini masyarakat punya semangat kerja, tetapi akses dan perhatian masih kurang,” ujar Lorens.
Dalam kunjungan tersebut, Tani Mardeka menyerahkan bantuan 20 ekor kambing kepada kelompok peternak warga. Ketua Tani Mardeka Kabupaten Nagekeo, Rispan Jogo, mengatakan perjuangan organisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto itu berfokus pada kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan.
Menurutnya, melalui perjuangan Tani Mardeka, Kabupaten Nagekeo telah memperoleh 15 unit alat dan mesin pertanian (alsintan), sementara 38 kelompok tani lainnya sedang diusulkan untuk mendapatkan bantuan lanjutan.
Namun bagi Yons Ebit, perjuangan tidak berhenti di sawah dan pesisir. Perjalanan itu berlanjut menuju Wolosambi, Desa Sawu, ketika ia menyambangi SMAK St. Yohanes Baptista Wolosambi, sekolah Katolik yang telah berdiri selama 10 tahun namun masih hidup dalam keterbatasan.
Di bawah terik matahari, Yons disambut dengan tarian ja’i dan pengalungan selendang adat.
Kepala sekolah SMAK Wolosambi, Yunius Sirilus Sugi Meko, menceritakan kondisi sekolah yang masih memprihatinkan. Bangunan belum selesai, fasilitas belajar terbatas, dan sebagian ruang masih berdinding sederhana akibat keterbatasan anggaran.
Baca juga: Petugas SPBU di Ende Larang Nelayan Isi BBM Pakai Jeriken, Fudin: Masa Harus Bawa Perahu ke SPBU
“Kami berharap sekolah ini bisa dinegerikan agar mendapat perhatian lebih baik dari pemerintah,” katanya.
Mendengar itu, Yons Ebit tampak terdiam sesaat. Matanya berkaca-kaca. Mantan frater asal Sikka itu lalu berdiri dan menyatakan dirinya siap memperjuangkan status negeri bagi sekolah tersebut.
“Saya sudah menjadi bagian dari keluarga di sini. Saya akan membawa proposal ini dan memperjuangkannya. Pendidikan adalah jalan agar anak-anak kampung tidak terus mewarisi kemiskinan,” ujarnya.
Di hadapan guru dan masyarakat Wolosambi, Yons mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh pergulatan. Ia pernah hidup bersama kaum marginal di rel kereta api, mengais sampah di Bantar Gebang, tinggal bersama nelayan miskin, hingga merawat penderita kusta dan para jompo di Jakarta.
“Saya belajar bahwa penderitaan membuat manusia lebih peka. Orang yang pernah lapar akan lebih mengerti arti berbagi,” tuturnya.
Ia mengatakan pengalaman hidup bersama kaum termarginalkan membuatnya tidak ingin melupakan rakyat kecil meski kini berada dekat dengan lingkar kekuasaan.
“Saya tidak bangga dengan jabatan. Jabatan itu sementara. Yang abadi adalah ketika hidup kita bisa menjadi jawaban bagi air mata orang lain,” katanya.
Yons juga menyampaikan bahwa dirinya dipercaya Presiden Prabowo Subianto untuk ikut mendorong lahirnya generasi muda yang tangguh melalui pendidikan dan pemberdayaan masyarakat desa.
“Kalau kita punya jabatan tetapi tidak bisa membantu orang kecil, maka jabatan itu kehilangan makna. Pemimpin sejati bukan yang duduk paling tinggi, tetapi yang mau berjalan paling dekat dengan rakyat,” ungkapnya.
Bagi Yons, politik dan kekuasaan hanyalah alat, sedangkan kemanusiaan adalah tujuan utama.
“Partai hanya kendaraan seperti mobil lewat di jalan. Orang akan lupa kendaraan itu. Tetapi orang tidak akan lupa siapa yang pernah hadir saat mereka susah,” katanya.
Di akhir kunjungannya, Yons mengingatkan masyarakat agar tidak kehilangan harapan meski hidup dalam keterbatasan.
“Kesulitan bukan alasan untuk menyerah. Tuhan sering membesarkan orang-orang dari kampung kecil supaya mereka kembali menjadi terang bagi kampungnya sendiri,” ujarnya.
Senja perlahan turun di Mauponggo dan Wolosambi. Ombak masih terus berdebur di pesisir selatan Nagekeo. Namun hari itu, masyarakat kecil di kampung-kampung itu merasa ada sesuatu yang lebih besar daripada bantuan dan proposal, keyakinan bahwa mereka belum dilupakan.
“Banyak yang datang ke sini omong dengan segala macam tapi pas kami butuh waktu bencana mereka tidak liat kemana,” kata Fridus Ndona Kepala Desa Sawu.