Dinkes Yogyakarta Pastikan Belum Ada Temuan Kasus Hantavirus di DIY, Simak Cara Pencegahannya
ninda iswara May 09, 2026 12:08 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Beredar kabar ada dua kasus suspek Hantavirus di Indonesia.

Dua kasus tersebut ada di Jakarta dan Yogyakarta.

Informasi ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan RI.

“Saat ini ada 2 kasus suspek di DKI Jakarta dan DIY dala. proses pemeriksaan konfirmasi kasus,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, Jumat (8/5/2026).

Data Kemenkes menunjukkan, sepanjang periode 2024 hingga 2026, terdapat 23 kasus positif Hantavirus di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus tersebut.

Terkait kabar suspek Hantavirus di Yogyakarta, Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY buka suara.

Baca juga: Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, 2 Kasus Supek di Jakarta & Yogya, Menkes Antisipasi, Imbauan WHO

Pastikan Belum Ada Kasus

Dinkeas DIY pastikan sampai saat ini belum ditemukan kasus positif Hantavirus di wilayah DIY pada tahun 2026.

Kendati demikian, mereka membenarkan bahwa di tahun 2025 lalu ada 5 kasus aktif Hantavirus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium dari laporan sentinel rutin sepanjang tahun ini masih menunjukkan hasil negatif.

Namun demikian, sejumlah sampel yang masuk dalam kategori suspek hingga kini masih menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.

“Sementara itu suspek atau terduga Hantavirus yang sedang dalam proses pemeriksaan laboratorium, masih menunggu hasilnya,” ujar Anung saat dihubungi, Jumat (8/5/2026).

Anung juga menyoroti temuan enam kasus yang sempat tercatat pada tahun lalu.

Ia memastikan seluruh pasien berhasil mendapatkan penanganan medis dengan baik hingga dinyatakan pulih.

“Keenamnya sembuh, tidak ada kasus kematian, serta tidak ditemukan kasus lainnya,” imbuhnya.

Jalur Penularan Hantavirus

Hantavirus dikenal sebagai salah satu penyakit zoonosis yang penularannya berasal dari hewan pengerat, terutama tikus.

Meski kerap disamakan dengan leptospirosis karena memiliki sumber penularan serupa, keduanya ternyata disebabkan oleh jenis kuman yang berbeda.

Anung menjelaskan bahwa leptospirosis muncul akibat infeksi bakteri leptospira, sementara Hantavirus dipicu oleh virus Hanta.

“Leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira, sedangkan penyakit Hanta disebabkan oleh virus Hanta,” jelas Anung.

Virus ini dapat menyebar ketika seseorang bersentuhan langsung dengan urine, feses, atau air liur tikus yang telah terinfeksi.

Selain itu, tanah maupun air yang terkontaminasi dapat menjadi media penyebaran virus kepada manusia.

Karena itulah, kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi tikus menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran Hantavirus.

Baca juga: Mengenal Virus Nipah: Ancaman Mematikan yang Dijelaskan Pakar UGM, dari Penularan hingga Pencegahan

PENCEGAHAN HANTAVIRUS - Simak penyebaran dan cara pencegahan Hantavirus yang merebak (Pixabay)

Cara Pencegahan Hantavirus

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Beberapa langkah pencegahan yang disarankan meliputi:

1. Menjaga kebersihan lingkungan rumah agar tidak menjadi sarang tikus.
2. Selalu menggunakan alas kaki di area lembap atau berisiko.
3. Mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di gudang, kebun, atau plafon.
4. Menutup makanan dan sumber air agar tidak tercemar kotoran hewan.
5. Menutup luka terbuka dengan perban kedap air sebelum beraktivitas di area yang terindikasi ada tikus.

Sinergi Lintas Sektor

Pemerintah Daerah DIY telah mengintensifkan berbagai langkah strategis dalam menghadapi potensi ancaman kesehatan.

Upaya tersebut mencakup pelacakan kasus secara menyeluruh di lapangan.

Selain itu, dilakukan pengendalian vektor dengan pemasangan perangkap tikus untuk keperluan uji laboratorium.

Langkah ini bertujuan mengidentifikasi jenis virus yang beredar pada populasi tikus lokal.

“Dinas Kesehatan DIY terus berkomunikasi dengan jajaran Kemenkes RI serta melakukan surveilans ketat untuk memastikan situasi tetap terkendali,” tegas Anung.

Kegiatan surveilans juga diperkuat melalui koordinasi lintas instansi kesehatan.

Pemerintah menerapkan pendekatan "OneHealth" dalam penanganan isu ini.

Pendekatan tersebut melibatkan sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara terpadu.

Tujuannya untuk mencegah potensi penyebaran penyakit yang lebih luas.

Dengan langkah terpadu ini, diharapkan situasi tetap terkendali dan risiko dapat diminimalkan.

(TribunTrends/Ninda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.