TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Seorang bocah laki-laki bernama Nizan, murid kelas 1A di Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia setelah diduga mengalami cedera akibat melakukan aksi freestyle di rumahnya.
Pihak sekolah melalui wali kelas korban memberikan klarifikasi terkait kronologi kejadian guna meluruskan informasi yang beredar di media sosial. Sekolah menegaskan insiden tersebut terjadi di rumah korban, bukan di lingkungan sekolah seperti rumor yang berkembang.
Wali kelas korban Sakiatun Nisa, menjelaskan, Nizan dikenal sebagai anak yang pendiam dan lugu. Ia juga disebut cukup sering tidak masuk sekolah karena terlambat bangun akibat bermain telepon genggam hingga larut malam.
"Saya tanyakan kepada kakaknya yang di kelas 5, bernama Era. Kenapa adiknya jarang masuk, kakaknya menjawab, adiknya sering telat bangun dan lebih sering main HP di rumah. Neneknya juga tidak memarahi," tuturnya saat ditemui pada Jumat (8/5/2026).
Menurut informasi yang diterima pihak sekolah dari keluarga, korban sempat tidak masuk sekolah selama sekitar satu minggu karena mengalami demam dan sakit kepala.
“Kejadiannya di rumah. Karena orang awam, neneknya tidak tahu akibat ke dalamnya, cuma dikasih obat sakit kepala sama obat demam,” jelas Nisa.
Belakangan diketahui korban telah dirujuk ke rumah sakit setelah kondisinya memburuk. Korban diduga mengalami benturan di kepala akibat melakukan aksi freestyle di rumah.
Kondisi korban semakin memburuk setelah beberapa anggota tubuhnya mengalami gangguan gerak hingga menyerupai gejala stroke, atau tak berfungsi sepenuhnya.
Baca juga: Jangan Dicontoh, Seorang Murid di Lombok Timur Meninggal Usai Aksi Freestyle
Korban sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU setelah dirujuk dari RS Selong. Saat dijenguk pihak sekolah, kondisi korban disebut sangat lemah dengan kepala diperban dan dibantu alat medis.
Setelah menjalani perawatan selama sekitar satu minggu di ICU, korban sempat diperbolehkan pulang. Namun kondisi kesehatannya belum pulih sepenuhnya.
“Kata kakaknya, dia tidur terus. Kalau bangun hanya bisa menyandar sebentar. Menurut kakeknya, kondisinya seperti mati sebelah (sebagian tubuh gak berfungsi gerak),” ujarnya.
Korban kemudian kembali menjalani penanganan medis dan direncanakan menjalani operasi kedua. Namun, nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia belum lama ini pada 3 Mei 2026.
“Pas operasi kedua ini katanya, nyawanya gak bisa tertolong,” ungkap Nisa.
(*)