TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA- Pembangunan jembatan gantung penghubung Desa Langkap, Kecamatan Kertanegara dan Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol mulai dikerjakan tahun ini.
Infrastruktur yang telah lama dinantikan masyarakat tersebut diharapkan dapat mempercepat mobilitas warga, mempermudah akses layanan kesehatan, serta mendukung aktivitas ekonomi antarwilayah
Saat sosialisasi pembangunan jembatan di Aula Balai Desa Langkap, Jumat (8/5/26), Anggota DPR RI Komisi V, Rofik Hananto menyampaikan proyek senilai Rp4.272.635.976 yang bersumber dari APBN itu merupakan hasil sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui aspirasinya.
Jembatan gantung yang melintasi Sungai Tambra itu memiliki bentang sepanjang 100 meter dengan lebar 1,8 meter.
Selain pembangunan jembatan, proyek juga mencakup pembangunan jalan pendekat dari sisi Desa Kramat sepanjang 100 meter dan sisi Desa Langkap sepanjang 110 meter. Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Simbar Agung mulai 23 April hingga 18 Oktober 2026.
Baca juga: Puluhan Siswa Rusak SMK di Kebumen Ditangkap, Orang Tua tak Menduga
Rofik Hananto mengatakan pembangunan jembatan tersebut menjadi prioritas karena telah lama diusulkan masyarakat namun baru dapat terealisasi pada 2026.
Menurutnya, keberadaan jembatan akan memberikan dampak besar bagi konektivitas warga di wilayah perbatasan Kecamatan Kertanegara dan Karangmoncol.
“Jembatan Langkap-Kramat ini super prioritas karena sudah diajukan cukup lama. Alhamdulillah tahun 2026 mendapat alokasi anggaran dari PUPR senilai Rp4,2 miliar,” katanya.
Ia menambahkan, jembatan tersebut diharapkan mempercepat mobilisasi penduduk dan distribusi barang sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kepala Desa Kramat, Jarwani berharap keberadaan jembatan nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi warga Desa Kramat, Langkap, Sirau, dan wilayah sekitarnya, khususnya dalam mendukung aktivitas ekonomi dan pelayanan dasar masyarakat.
Kepala Desa Langkap, Wahyu Wibowo mengatakan masyarakat menyambut antusias pembangunan jembatan penghubung tersebut. Menurutnya, sejak tahun 1970-an warga mendambakan adanya akses penghubung permanen antar desa yang lebih aman dan mudah dilalui.
“Ini bukan hanya jembatan penghubung, tetapi juga jalur ekonomi masyarakat,” ujarnya.