Kisah Diva Darling, Pipa Rokok 'Gading' Buatan Tegal yang Tembus Pasar Amerika dan Jepang
Rustam Aji May 09, 2026 03:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SLAWI – Berawal dari keresahan terhadap maraknya perburuan gajah, seorang perajin asal Desa Pecangakan, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, berhasil menciptakan inovasi pipa rokok gading tiruan berkualitas super. Produk bermerek "Diva Darling" ini kini menjadi solusi bagi kolektor sekaligus upaya menyelamatkan populasi gajah di Indonesia.

Supardi Kertabanyu (48), sang inovator, mengklaim bahwa pipa buatannya memiliki tampilan fisik dan sensasi rasa yang identik dengan gading asli.

"Pipa Diva Darling adalah yang pertama di Indonesia yang menyeting rasa seperti asli; ada sensasi pulen, manis, adem, dan gurih. Harapannya, produk ini bisa menekan perburuan gajah karena pecinta pipa gading kini punya alternatif yang sama kualitasnya," ujar Supardi saat ditemui di rumah produksinya, Sabtu (25/4/2026).

Bahan Alami Tanpa Kimia

Berbeda dengan produk sintetis pada umumnya, Supardi menjamin pipa buatannya bebas dari bahan kimia berbahaya seperti fiberglass atau resin. Ia menggunakan racikan bahan pangan dan alami yang unik untuk meniru tekstur tulang.

Bahan dasar yang digunakan meliputi cangkang telur ayam, tepung tapioka, garam himalaya, madu murni, susu bubuk, hingga minyak zaitun. Proses pewarnaannya pun tidak menggunakan cat, melainkan melalui teknik pengasapan tradisional dan pengeringan alami di bawah sinar matahari.

"Semuanya handmade. Kami sangat menjaga kualitas karena yang kami jual adalah rasa dan ketahanan," tambahnya.

Dari Modal Rp50 Ribu ke Pasar Amerika

Perjalanan bisnis Supardi tidaklah instan. Setelah sempat bangkrut dari usaha sayur akibat penipuan, ia merintis Diva Darling pada awal 2022 dengan modal awal hanya Rp50 ribu untuk eksperimen.

Baca juga: Cilacap Genjot 19 Desa Wisata, Targetkan Titik Nol KM Jadi Magnet Baru Wisatawan

Kini, usaha keluarga yang dibantu istri dan kakaknya ini mampu memproduksi 100 hingga 150 pipa per bulan. Pemasarannya pun telah merambah mancanegara, mulai dari Korea Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat.

Nilai Ekonomi dan Koleksi

Harga yang ditawarkan cukup kompetitif namun tetap bernilai eksklusif:

  • Standar (panjang 10 cm): Rp300.000 – Rp400.000 per buah.
  • Edisi Kolektor (panjang 30 cm): Mencapai Rp3.000.000 lebih.

Dengan memanfaatkan teknologi digital melalui siaran langsung di TikTok dan YouTube, Supardi kini memiliki 20 reseller yang tersebar di Jakarta, Brebes, hingga Pemalang. Keberhasilan ini membuktikan bahwa produk UMKM berbasis konservasi mampu bersaing di pasar global sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan. (dta)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.