Tak Langsung Ditutup, Unesa Kaji Merger Sejumlah Prodi yang Minim Peminat
Titis Jati Permata May 09, 2026 05:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mulai mengkaji sejumlah program studi yang mengalami penurunan tren peminat di tengah wacana pemerintah untuk mengevaluasi hingga menutup prodi yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan masa depan dan dunia kerja.

Meski demikian, kampus menegaskan evaluasi tidak semata-mata dilakukan berdasarkan sedikitnya jumlah pendaftar.

Unesa menilai banyak aspek lain harus dipertimbangkan, mulai dari kebutuhan dunia kerja, tren industri, hingga mandat keilmuan suatu program studi.

Kajian Prodi Baru dan Lama

Wakil Rektor I Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., mengatakan sejak berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), Unesa telah memiliki tim khusus di bawah Subdirektorat Pembukaan dan Penutupan Program Studi yang bertugas melakukan kajian terhadap prodi baru maupun prodi lama.

“Jadi tugasnya melakukan kajian prodi baru yang potensial dibuka dan mengkaji prodi lama yang trennya menurun atau dianggap sudah kurang relevan,” ujarnya.

Baca juga: ITS Tekankan Evaluasi Prodi Harus Mendalam, Bukan Sekadar Ukur Siap Kerja

Menurutnya, prodi yang mengalami penurunan tidak langsung ditutup. Kampus memberikan waktu sekitar dua tahun untuk melakukan pembenahan dan peningkatan peminat melalui berbagai strategi promosi maupun penyesuaian kurikulum.

“Kalau setelah diberi kesempatan ternyata tidak ada perkembangan, maka ada kemungkinan di-merger atau ditutup,” katanya.

Profi yang Dievaluasi

Martadi menyebut beberapa program studi yang saat ini menjadi bahan evaluasi di antaranya S1 Pendidikan Bahasa Jerman, S2 Pendidikan Geografi, S2 Pendidikan IPS, serta sejumlah prodi kependidikan seperti PAUD yang mengalami tren penurunan peminat dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, sejumlah program studi ilmu murni juga mulai mengalami penurunan karena masyarakat cenderung memilih bidang yang lebih aplikatif.

Salah satu program studi yang saat ini sedang dikaji ialah S1 Pendidikan Bahasa Jerman. Prodi tersebut direncanakan untuk di-merger dengan Sastra Jerman karena dinilai memiliki irisan keilmuan yang dekat.

Tren Peminat Menurun

Martadi menjelaskan, tren Pendidikan Bahasa Jerman menurun karena mata pelajaran bahasa Jerman sudah tidak lagi banyak diajarkan di sekolah.

“Kalau pendidikan bahasa Jerman itu lulusannya agak susah mengajar karena memang di sekolah sudah tidak ada mata pelajaran bahasa Jerman,” jelasnya.

Selain Pendidikan Bahasa Jerman, kajian juga dilakukan terhadap beberapa program magister seperti S2 Pendidikan Geografi dan S2 Pendidikan IPS yang jumlah mahasiswanya relatif kecil dan memiliki segmentasi terbatas.

Lakukan Kajian Mendalam

Meski begitu, hingga saat ini Unesa belum menutup satu pun program studi.

Kampus masih mengedepankan kajian mendalam sebelum mengambil keputusan.

“Sampai saat ini belum ada yang ditutup. Semua masih di push dulu promosinya,” katanya.

Martadi menegaskan, indikator relevansi prodi tidak hanya berdasarkan jumlah peminat. 

Ada program studi yang pendaftarnya sedikit tetapi kebutuhan tenaga kerjanya justru tinggi.

Ia mencontohkan program studi massage yang sempat mengalami keterbatasan peminat.

Namun setelah nama program diubah menjadi Sport Massage, minat masyarakat meningkat karena dianggap lebih aplikatif dan sesuai kebutuhan industri olahraga.

“Jadi tidak semua prodi pertimbangannya hanya peminat dan permintaan. Ada banyak aspek, termasuk apakah masih dibutuhkan di lapangan,” ujarnya.

Pilih Program Studi Terapan

Menurutnya, kecenderungan masyarakat saat ini lebih memilih program studi terapan dibanding ilmu-ilmu murni.

Karena itu, prodi seperti bisnis digital dan sains aktuaria mengalami kenaikan tren peminat, sementara beberapa prodi murni mulai menurun.

“Tren masyarakat sekarang memang lebih ke yang aplikatif,” katanya.

Ia menjelaskan, penurunan minat pada sejumlah prodi juga dipengaruhi perubahan kebijakan kurikulum sekolah. Beberapa program studi kependidikan menjadi terdampak ketika mata pelajaran tertentu tidak lagi diajarkan secara spesifik di sekolah.

Selain itu, faktor oversupply lulusan juga mempengaruhi minat calon mahasiswa terhadap prodi tertentu.

“Kadang bukan karena tidak dibutuhkan, tapi karena jumlah lulusannya sudah terlalu banyak sehingga masyarakat melihat peluang kerjanya semakin sempit,” jelasnya.

Terkait nasib dosen apabila nantinya terdapat program studi yang di-merger atau ditutup, Martadi memastikan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja.

“Dosen tidak perlu khawatir. Nanti akan dirumpunkan atau dialihkan ke prodi lain yang serumpun,” tegasnya.

Tak Hanya Diukur dari Industri

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unesa, Birbik Arya Fairuzzamani, turut menanggapi wacana evaluasi hingga penutupan program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri.

Menurutnya, keberadaan program studi tidak seharusnya hanya diukur dari kebutuhan pasar kerja atau industri semata.

Mahasiswa Prodi Hukum itu menilai lulusan perguruan tinggi tidak selalu harus bekerja di industri tertentu karena banyak lulusan yang justru mampu menciptakan lapangan kerja sendiri sesuai bidang keilmuan yang dipelajari.

“Kalau saya pribadi, penutupan prodi tidak bisa hanya diukur dari kebutuhan industri. Bisa saja lulusan itu nantinya justru membuka industri atau usaha sendiri,” ujarnya.

Birbik berpandangan perguruan tinggi tidak seharusnya membatasi perkembangan ilmu pengetahuan hanya karena jumlah peminat atau serapan kerja tertentu sedang menurun.

Menurut dia, setiap bidang ilmu memiliki peluang berkembang sesuai kebutuhan masyarakat yang terus berubah dari waktu ke waktu.

“Tidak layak kalau penutupan prodi dilakukan hanya karena dianggap kurang diminati. Kampus juga tidak boleh membatasi perkembangan keilmuan,” katanya.

Buka Prodi Baru

Ia mengaku hingga saat ini belum mendengar adanya pembahasan terkait penutupan program studi di lingkungan Unesa.

Selama ini, menurutnya, kampus justru lebih banyak membuka program studi baru dibanding menghentikan prodi lama.

“Setahu saya belum pernah ada penutupan prodi di Unesa. Yang lebih banyak justru penambahan prodi,” ungkapnya.

Birbik menilai penambahan program studi baru menjadi tanda bahwa kebutuhan masyarakat terhadap bidang ilmu terus berkembang dan perguruan tinggi perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

“Kalau ada penambahan prodi, itu berarti ada ruang keilmuan baru yang dianggap penting untuk dikembangkan. Kebutuhan masyarakat terhadap ilmu juga terus berkembang,” pungkasnya.

Prodi yang masuk kajian/evaluasi : 

  • S1 Pendidikan Bahasa Jerman : Direncanakan merger dengan Sastra Jerman
  • S2 Pendidikan Geografi : Segmentasi mahasiswa terbatas
  • S2 Pendidikan IPS : Jumlah mahasiswa cenderung kecil
  • PAUD/PGPAUD : Tren peminat menurun
  • Beberapa prodi kependidikan rumpun IPS : Terdampak perubahan kurikulum sekolah
  • Sejumlah prodi ilmu murni/MIPA : Peminat menurun karena tren masyarakat ke bidang terapan
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.