Palembang (ANTARA) - Tim Disaster Victim Identification Pusdokkes Polri mengandalkan pemeriksaan deoxyribonucleic acid (DNA) dari sampel tulang yang masih berwarna kemerahan untuk mengidentifikasi 17 jenazah korban tabrakan bus ALS dengan truk tangki BBM di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.
Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Komisaris Besar Polisi Wahyu Hidayati saat konferensi pers di Palembang, Sabtu, mengatakan mayoritas sampel diambil dari bagian tulang karena jaringan lunak korban sudah tidak utuh akibat panas api saat kecelakaan terjadi.
"Dalam kondisi sekarang ini, kita mengambil tulang. Kita juga memilih tulang yang masih merah, yang kira-kira masih ada DNA-nya. Karena kalau tulangnya sudah jadi arang, tidak bisa," katanya.
Wahyu menjelaskan proses identifikasi korban melalui ciri fisik maupun properti pribadi mengalami kendala karena sebagian besar barang milik korban terlepas dari tubuh saat insiden tabrakan yang mengakibatkan bus ALS terbakar.
Metode identifikasi melalui data gigi yang umumnya menjadi pembanding utama juga sulit dilakukan lantaran kondisi gigi korban sudah rapuh dan hancur akibat suhu panas yang tinggi.
Tim DVI sebelumnya berharap identifikasi dapat dilakukan melalui pemeriksaan gigi sebagaimana pada sejumlah kasus kebakaran sebelumnya.
Namun, besarnya kobaran api dalam kecelakaan bus dengan truk tangki BBM itu menyebabkan sebagian besar tulang korban, termasuk gigi, mengalami kerusakan berat.
"Karena apinya sangat besar sehingga sebagian besar tulang, termasuk gigi, itu juga menjadi rapuh," jelasnya.
Selain itu, untuk proses pemeriksaan DNA diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat lima hari untuk memperoleh profil DNA yang akurat.
Hingga kini, tim DVI telah menerima 15 sampel antemortem dari keluarga korban yang diharapkan dapat membantu mengungkap identitas 16 jenazah korban kecelakaan bus ALS, termasuk satu korban anak-anak.
"DNA-nya itu memang agak lama. Paling cepat itu lima hari. Kita mohon doanya supaya bisa muncul semua profil DNA," kata Wahyu.





