BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangka meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran malaria setelah ditemukan peningkatan kasus positif di wilayah Bangka.
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Bangka, sejak Januari hingga awal Mei 2026 tercatat sebanyak 19 warga dinyatakan positif malaria. Sejumlah pasien saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit, sementara beberapa lainnya telah dinyatakan sembuh.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Nora Sukma Dewi, mengatakan sebagian besar pasien tengah dirawat intensif di Rumah Sakit Bakti Timah dan RS Depati Bahrin.
"Sebagian besar pasien tengah menjalani perawatan intensif di RS Bakti Timah atau RS Depati Bahrin, sementara beberapa di antaranya telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang," ungkap Nora Sukma Dewi kepada Bangkapos.com, Minggu (10/5/2026) sore.
Diakuinya, seluruh temuan kasus ini diketahui terpusat di wilayah Kecamatan Belinyu. Sebagai langkah cepat, tim Dinkes Kabupaten Bangka langsung melakukan tindakan antisipasi di dua titik fokus utama.
"Kemarin kita turun langsung ke daerah Batu Atap dan Pantai Bubus Belinyu. Langkah konkret, yang diambil meliputi skrining masif melalui tes cepat (RDT) kepada masyarakat di sekitar pemukiman terdampak," ucapnya.
Kemudian, melakukan surveilans epidemiologi guna memetakan persebaran penyakit secara akurat.
Selain itu, upaya pencegahan primer juga dilakukan dengan mendistribusikan kelambu berinsektisida kepada warga di lokasi terdampak.
"Meski ditemukan 15 kasus reaktif tambahan melalui tes cepat, terdiri dari 5 orang di Bubus dan 10 orang di Batu Atap. Dinkes masih menunggu konfirmasi hasil laboratorium resmi, guna memastikan diagnosa sesuai standar medis malaria," bebernya.
Terlebih dikatakan Nora, Kabupaten Bangka sebenarnya sempat menyandang status eliminasi malaria pada periode Januari hingga Maret 2026 karena tidak ditemukan kasus sama sekali.
Namun, munculnya kembali kasus baru ini menjadi alarm bagi otoritas kesehatan untuk kembali memperketat pengawasan di lapangan.
"Satu kasus saja muncul, kami langsung turun ke lapangan. Analogi penyakit menular ini mirip dengan penanganan COVID-19. Satu orang terkena, maka lingkungan sekitarnya harus segera di-tracking," kata dia.
Selain itu Nora pun menyebutkan, tantangan utama yang dihadapi petugas di lapangan adalah kondisi demografi lokasi temuan yang didominasi oleh masyarakat musiman atau pendatang.
Hal ini menuntut pemantauan yang jauh lebih intensif, agar wabah tidak meluas ke pemukiman penduduk yang lebih padat.
"Laporan rutin setiap bulan, bentuk bentuk langkah preventif terhadap penyakit yang berpotensi menjadi wabah," tegasnya. (Bangkapos.com/Adi Saputra)