Santi Ciptakan Nona Kriwil, Boneka Berkebaya dan Selalu Tersenyum asal Semarang
M Syofri Kurniawan May 11, 2026 05:11 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seorang pengrajin boneka, Darum Santi tampak cekatan memotong kain dan merajut benang warna-warni membentuk sebuah boneka bernama Nona Kriwil.

Ya, nama boneka itu Nona Kriwil, sebuah boneka yang berciri khas mengenakan kebaya dan memiliki ekspresi wajah tersenyum ramah.

Santi, sapaannya, mengungkap,  boneka Nona Kriwil memiliki konsep sebagai boneka asal kota Semarang yang mengangkat tema budaya dan adat.

Ciri khas itu bisa dilihat dari bentuk boneka yang mengenakan kebaya dan memiliki wajah tersenyum sumringah. Ekspresi boneka yang tersenyum sebagai gambaran masyarakat Indonesia yang ramah.

"Nona kriwil adalah boneka kebaya, mengapa kebaya? Karena pakaian ini sudah ditetapkan sebagai warisan tak benda oleh UNESCO," ujarnya saat ditemui Tribun Jateng di rumahnya di Muktiharjo Kidul, Pedurungan, Kota Semarang, Sabtu (09/05/2024).

Santi telah menekuni bisnis boneka sejak tahun 2017.

Kala itu, ia membuat boneka dengan konsep pakaian casual. Ia mulai mengalihkan konsep boneka ciptaannya ke konsep kebaya karena menilai setiap boneka harus mengusung konsep spesifik untuk membidik pangsa pasar.

Selain konsep itu, ia juga mengusung konsep lingkungan hidup.

Sebab, bahan boneka yang dibuatnya sebagian juga berasal dari kain limbah yang diperolehnya dari pabrik maupun penjahit.

"Nah, dua hal itu, budaya dan pelestarian lingkungan, menjadi pembeda antara boneka Nona Kriwil dengan boneka-boneka buatan tangan lainnya," ujarnya.

Soal nama, lanjut Santi, Nona Kriwil diambil dari bentuk rambut boneka yang keriting atau  bergelombang.

Penamaan Nona Kriwil juga tidak disengaja yang disematkan oleh para teman-teman online-nya. 

"Dulu waktu awal bikin boneka ini teman-teman di Facebook dan Instagram bilang boneka kriwil karena lihat rambutnya yang kriwil, ya sudah aku namakan boneka Nona Kriwil," jelasnya.

Perempuan yang juga merupakan guru privat itu mengaku, proses pembuatan boneka Nona Kriwil setidaknya membutuhkan waktu selama tiga jam.

Ada dua jenis boneka yang dibuatnya yakni boneka setinggi 12 sentimeter dan 20 sentimeter.

Boneka ukuran 12 sentimeter dipatok harga Rp150 ribu, sementara untuk boneka 20 sentimeter harga Rp250 ribu.

"Paling laris boneka Nona Kriwil bernama Sinok, Si Nona Kriwil berambut cepol dua yang ukuran 12 sentimeter, boneka ini laris untuk gantungan tas," ungkapnya.

Ia juga melayani boneka custom atau pesanan khusus seperti boneka miniatur diri seseorang.

Harga boneka custom tidak jauh berbeda dengan harga Nona Kriwil lainnya. Perbedaan harga tergantung bentuk rambut dan aksesoris tambahan lainnya.

"Sehari paling maksimal bisa lima boneka, paling sulit bikin bagian rambutnya dan ekspresi wajah pada boneka," terangnya.

Hasil boneka buatan Santi dijual melalui platform media sosial Instagram dan jejaring Whatsapp. Ia enggan memasarkan produknya ke marketplace alias pasar online karena takut mengecewakan konsumen.

"Saya takut kalau buka di pasar online, konsumen pesan boneka custom lalu saya tidak memenuhi waktu pemesanan justru akan mengecewakan, apalagi saya masih menekuni pekerjaan sebagai guru," terangnya.

Meskipun tak menjual ke pasar online, Santi menyebut, hasil penjualan bonekanya lebih dari cukup.

Dalam sebulan, omzet penjualan bonekanya mencapai Rp 8 juta hingga Rp 10 juta perbulan.

"Saya juga ikut pameran, setidaknya sebulan sekali. Meskipun tidak selalu untung besar, setidaknya sudah bisa untuk menjaring konsumen dan membangun branding Nona Kriwil," bebernya.

Selama menekuni bisnis boneka ini, Santi menyasar konsumen dari kalangan emak-emak. Menurutnya, konsumen dari kalangan tersebut merupakan pelanggan setianya. Mereka bahkan bisa membeli dalam jumlah banyak dan berulang kali.

Selain menyasar emak-emak, ia menyasar pula konsumen dari wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Ia menilai, Nona Kriwil memang cocok untuk buah tangan karena konsep boneka khas Indonesia.

"Secara persentase, pembeli boneka paling banyak didominasi oleh pasar lokal (80 persen), sisanya 20 persen pembeli luar negeri seperti Rusia, Belanda, Swedia dan lainnya," ungkapnya. (Iwan Arifianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.