Ashari Nyamar Jadi Utusan Sang Guru tapi Akhirnya Warga Curiga
Fitriadi May 11, 2026 01:03 PM

BANGKAPOS.COM, WONOGIRI - Ashari, pengasuh di sebuah pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah yang menjadi tersangka pencabulan santriwati, sempat mencari motor bekas dalam pelariannya di Wonogiri.

Ashari mendatangi diler sepeda motor bekas lalu menawarkan harga motor di bawah Rp5 juta.

Namun, uang di kantong Ashari saat itu kurang sehingga batal membeli motor bekas.

Baca juga: Sosok Kyai Ashari, Siasatnya Mengelabui Polisi Berakhir di Wonogiri

Cerita tentang Ashari mau membeli motor bekas ini terjadi ketika dirinya menginap di rumah warga Dusun Wotgalih, Desa Bakalan bernama Tejo.

Ashari memilih sebuah lokasi yang dianggap sakral oleh sebagian orang, yakni Gedong Giyono yang merupakan Komplek Makam Raden Gunungsari.

Menurut keterangan warga, lokasi yang terletak di Dusun Wotgalih, Desa Bakalan itu kerap dijadikan tempat "panyuwunan" atau tempat untuk meminta bagi yang punya hajat entah apapun itu.

DITANGKAP - Polisi akhirnya menangkap Ashari, tersangka kekerasan seksual terhadap santriwati di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Pati. Hal itu tampak dalam unggahan status WhatsApp pribadi Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama pada Kamis pagi (7/5/2026).
DITANGKAP - Polisi akhirnya menangkap Ashari, tersangka kekerasan seksual terhadap santriwati di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Pati. Hal itu tampak dalam unggahan status WhatsApp pribadi Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama pada Kamis pagi (7/5/2026). (Dokumentasi Kasat Reskrim Polresta Pati)

Lokasinya berada di atas bukit, jauh dari pemukiman ramai warga, sekira 2 kilometer. Hanya ada beberapa rumah warga di dekat petilasan itu. Jalan menuju ke sana menanjak terjal dan berkelok.

Di sana, Ashari menginap di rumah warga bernama Tejo yang memang kerap digunakan para peziarah beristirahat. Jaraknya kurang lebih 200 meter dari petilasan tersebut.

Selama disana, menurut pengelihatan Tejo, Ashari menjalankan shalat lima waktu.

Dalam kurun waktu sehari, kurang lebih Ashari ke petilasan empat kali.

Pada Rabu sore, Ashari sempat bertanya kepada Tejo apakah ada motor bodong yang dijual.

Karena tidak ada, Tejo akhirnya mengantarkan Ashari ke sebuah delaer motor bekas di Purwantoro.

Di dealer itu, gerak-gerik Ashari cukup meyakinkan.

Di sana ia melihat-lihat sepeda motor second itu dan mencari yang harganya di bawah Rp 5 juta.

"Tanya dimana yang jual motor second, tanya harganya. Saya tanya apa mau beli katanya iya, saya antar ke dealer motor second di Purwantoro. Cari harga di bawah Rp 5 juta karena ngaku uangnya Rp 5 juta," paparnya.

Karena tak ada motor seharga di bawah Rp 5 juta, mereka berdua kembali ke rumah Tejo. Menjelang maghrib, Ashari sempat pamit ke petilasan.

Timbul Kecurigaan

Malam harinya, Ashari sempat meminta izin untuk meminjam sepeda motor Tejo pada esok hari pukul 03.00 pagi dengan alasan ingin menemui temannya di Purwantoro.

Tak ada prasangka apapun, Tejo mengizinkan motornya dipinjam oleh Ashari.

Namun malam itu, kecurigaan Tejo mulai muncul.

Pasalnya, Ashari mematikan beberapa lampu di rumah itu, mulai dari kamar, ruang tengah dan teras.

"Lampu itu dimatikan semua, saya tanya kenapa dimatikan? Katanya biar tidak silau, karena tidak bisa tidur. Saya mulai curiga disitu," ujarnya.

Kecurigaan Tejo mulai terjawab, sekira jam 03.00, Ashari pergi menggunakan motornya, namun tas Ashari masih ditinggal di kamar rumah Tejo.

"Kalau cerita tetangga, Samsuri mau turun, polisi dari bawah mau naik, terus dia menghindar belok ke kiri ke rumah warga. Belum pernah kesini jadi tidak tahu jalan akhirnya ditangkap polisi," ujarnya.

"Ndelalah bertemu polisi pas sudah di bawah dan ditangkap dan dibawa ke mobil dibawa kesini. Polisi kesini ngabari saya, tanya keperluan Samsuri apa, saya jawab tidak tahu. Tasnya kemudian digeledah, isinya sabun dan baju ganti, tidak ada uang, hp tidak ada," jelas dia.

Jawaban polisi membuat Tejo kaget, ternyata seharian ia menerima tamu yang tidak biasa, seorang buron kasus berat yakni pencabulan.

"Kaget saya masalahnya apa, dijawab katanya buron sudah lama, pelecehan santri. Saya sendiri terkejutnya kok tidak cocok sama omongannya pertamanya pas kesini, tidak menyangka," aku Tejo.

Ia mengaku menyesal telah menerima Ashari dengan sangat baik di rumahnya.

Bahkan, Ashari juga disiapkan kamar khusus.

"Ya menyesal, jelas menyesal. Omongan dan kenyataan tidak sesuai, hanya berjarak semalam kemudian ditangkap polisi. Pas datang bilang baik-baik malah seperti itu," imbuhnya.

Tejo memang tak menaruh curiga, selain rumahnya kerap digunakan para peziarah singgah, Ashari juga sempat menunjukkan KTP-nya.

"Saya tidak curiga, sudah lihat KTPnya, cuma pas diminta tidak boleh saya pegang. Pertamanya ya tidak curiga. Mulai curiga sore itu, sama malam itu lampu dimatikan semuanya, padahal baru jam 20.00," urainya.

Berdasarkan cerita tetangga yang tinggal tak jauh dari lokasi penangkapan, memang sempat terdengar suara tembakan kurang lebih tiga kali.

Setelah kejadian itu, kata dia, pihak desa dan polsek membuat data pengunjung. Setiap tamu yang datang dicatat nama dan identitasnya. 

"Beberapa kali digunakan menginap, baru kali ini kejadian seperti ini. Biasanya tamu jauh yang menginap. Setiap ada yang menginap saya tidak pernah mau diberi imbalan, selalu saya tolak. Selama ini aman. Ini juga buat pelajaran saya kedepannya," paparnya.

Awal Kedatangan si Kiai Cabul
 
Kepada TribunSolo, Tejo menceritakan kronologi kedatangan buronan polisi itu. Pada Rabu (6/5/2026) pagi, Ashari tiba di rumahnya dengan diantar oleh warga.

Warga itu awalnya melihat Ashari di pemukiman selepas subuh. Ketika ditanya tujuannya adalah ke Gedong Wiyono. Warga itu kemudian menawarkan diri mengantar.

"Datang pertama itu kan “kulo nuwun” saya persilahkan masuk, yang mengantar kok Mas Sidam, tetangga," ujarnya.

Saat ditanya, Ashari mengaku dirinya bernama Samsuri yang berasal dari Semarang.

Pengakuan Ashari, tujuannya kesana satu, menjalankan "tugas" dari gurunya.

"Namanya Samsuri, dari Semarang. Kesini perlunya apa katanya disuruh gurunya menjalankan tiga tahun puasa. Sudah dapat tiga bulan disuruh napak tilas kesini, petilasanya Gusti Wali di Gedong Wiyono," jelas Tejo.

Saat itu, Tejo dengan keramahannya menyambut Ashari layaknya tamu biasa.

Ia sempat menawarkan kopi kepada Ashari, namun tawaran itu ditolak.

Ashari mengaku masih berpuasa sehingga enggan menerima tawaran kopi itu.

Disitu, Ashari meminta izin kepada Tejo untuk tinggal sementara waktu.

"Minta maaf katanya tidak diberi uang saku oleh gurunya, minta tolong tinggal sementara disini," ujarnya.

Sempat Mampir ke Masjid Tiban Bakalan

Menurut keterangan warga, Ashari tiba di Desa Bakalan pada Rabu (6/5/2026) selepas subuh. Seorang warga melihat Ashari berjalan sendirian menenteng tas.

Warga itu adalah Sidam (55) yang tak lain adalah warga yang mengantar Ashari ke Gedong Giyono. Saat pertama kali melihat Ashari, ia dan warga lain juga sempat menanyakan kemana tujuan Ashari.

"Katanya mau ke Makam Gedong, tanya jauh apa tidak saya jawab jauh. Bilangnya jalan kaki dari Purwantoro dan tidak punya uang saku," katanya.

Saat itu, Ashari bertanya berapa ongkos jika ngojek dari lokasi mereka bertemu yakni perempatan Desa Bakalan ke Gedong Giyono.

Kepada Ashari, Sidam menjelaskan bahwa ongkos ojek biasanya Rp 100-150 ribu.

Memang lokasinya cukup jauh, medannya curam dan rawan longsor.

"Dia bilang uangnya habis, minta tolong suruh mengantar nanti dibayar Rp 50 ribu. Saya itu awalnya mau ke sawah, tapi karena kasihan akhirnya saya antar," jelasnya.

Tujuannya waktu itu memang langsung ke rumah Tejo. Sampai sana Sidam langsung pamit tanpa sempat singgah ke rumah Tejo karena bergegas ke sawah.

"Saya juga tidak tahu, tahunya kalau buron Kamis siang, ternyata kasus di Pati itu. Saya tidak menyangka, niat saya mengantarkan saja," kata Sidam.

Selain itu, ia juga tak meminta bayaran ke Ashari. Niatnya saat itu ikhlas mengantarkan karena mendengar pengakuan Ashari yang kehabisan ongkos dari Semarang.

Saat itu, Ashari juga mengaku sempat mampir di Masjid Tiban Bakalan, namun tidak jadi karena tidak bisa membangunkan juru kuncinya.

"Tidak ada curiga apa-apa, wajahnya bagaimana saja tidak begitu hafal saya tidak terlalu memperhatikan. Tapi pas membonceng ke atas cukup berat, badannya cukup besar," pungkasnya.

Ditangkap Polisi

Pelarian Ashari, tersangka kasus pencabulan santriwati asal Pati, berakhir dramatis di lereng perbukitan sakral Wonogiri.

Selama pelariannya, pelaku mencoba menutupi jejak dengan berpura-pura sedang menjalani tirakat puasa dan sempat mencari motor bekas seharga di bawah Rp5 juta di diler setempat.

Kecurigaan warga memuncak saat pelaku mematikan seluruh lampu rumah dan meminjam motor pada dini hari, hingga akhirnya disergap polisi.

Gerak-gerik mencurigakan pria ini akhirnya tercium sebelum polisi melepaskan tembakan peringatan untuk mengakhiri pelariannya.

Ashari, tersangka pencabulan terhadap santriwati di Pondok Pesantren di Kecamatan Tlogowungu, Pati diamankan polisi dalam pelariannya ke Kecamatan Purwantoro, Wonogiri Kamis (7/5/2026). 

Lokasi persembunyian Ashari bukan tempat biasa.

Ashari memilih sebuah lokasi yang dianggap sakral oleh sebagian orang, yakni Gedong Giyono yang merupakan Komplek Makam Raden Gunungsari.

Menurut keterangan warga, lokasi yang terletak di Dusun Wotgalih, Desa Bakalan itu kerap dijadikan tempat "panyuwunan" atau tempat untuk meminta bagi yang punya hajat entah apapun itu.

Lokasinya berada di atas bukit, jauh dari pemukiman ramai warga, sekira 2 kilometer. Hanya ada beberapa rumah warga di dekat petilasan itu. Jalan menuju ke sana menanjak terjal dan berkelok.

Di sana, Ashari menginap di rumah warga bernama Tejo yang memang kerap digunakan para peziarah beristirahat. Jaraknya kurang lebih 200 meter dari petilasan tersebut.

(TribunSolo.com/Erlangga Bima) (TribunJateng.com/Raka F Pujangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.