TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Jumlah anak tidak sekolah atau putus sekolah di DI Yogyakarta mencapai belasan ribu. Tercatat, Kabupaten Bantul menjadi salah satu lokasi yang memiliki jumlah anak tidak sekolah terbanyak.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul, Nugroho Eko Setyanto, menyebut, sampai saat ini, pihaknya masih melakukan verifikasi terkait data tersebut.
"Data tersebut masih diverifikasi di tingkat kalurahan oleh operator kalurahan," katanya, kepada Tribunjogja.com, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, anak tidak sekolah terjadi tidak hanya putus sekolah atau DO, tetapi juga dimungkinkan karena belum pernah bersekolah dan lulus pada jenjang tertentu namun tidak melanjutkan di jenjang selanjutnya.
Kendati begitu, dimungkinkan anak tidak sekolah dikarenakan beberapa masalah yakni kesadaran orang tua tentang pendidikan masih kurang, kurang motivasi anak untuk menempuh pendidikan sampai minimal jenjang SMA/SMK, dan ekonomi orang tua yang kurang mampu.
"Sebagai tindak lanjut, kami melakukan berbagai upaya termasuk melalui jalur sekolah pendekatan dan pembinaan anak-anak yang rentan putus sekolah," ucap Nugroho.
Pihaknya juga melakukan kerja sama dengan pemerintah kalurahan untuk menjaring anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan, anak-anak putus sekolah, dan yang belum pernah bersekolah.
Mereka akan didorong untuk kembali mendapatkan pendidikan berupa sekolah formal maupun nonformal melalui pusat kegiatan belajar masyarakat dan sanggar kegiatan belajar.
"Kami turut melakukan kerjasama dengan Dinas Sosial dan Baznas setempat untuk membantu mengatasi kesulitan pembiayaan," paparnya.
Baca juga: Polisi Ringkus 9 Terduga Pelaku Pengeroyokan yang Tewaskan Seorang Pemuda di Tempuran Magelang
Lebih lanjut, pihaknya berharap kepada satuan pendidikan dan masyarakat agar segera menginformasikan ke Disdikpora Bantul jika mengetahui ada anak yang berpotensi putus sekolah maupun yang putus sekolah.
"Nanti informasi itu akan kita carikan solusi bersama pemangku kepentingan yang lain," tutur Nugroho.
Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kemendikdasmen RI, kebanyakan dari mereka tidak sekolah dan putus sekolah.
Anggota Pansus Laporan Keterangan Pertanggungjawaban DPRD DIY, Eko Suwanto, menyebut, berdasarkan catatan yang ada, jumlah anak tidak sekolah tertinggi di Kabupaten Bantul mencapai 3.727 orang dan disusul Kabupaten Gunungkidul mencapai 3.429 orang.
Selanjutnya, jumlah anak tidak sekolah di Kabupaten Sleman mencapai 3.259 orang, Kota Yogyakarta mencapai 1.784, dan Kabupaten Kulon Progo mencapai 1.470 orang.
"Dari data yang ada, tercatat wilayah Bantul, Gunungkidul dan Sleman menjadi wilayah dengan anak tidak sekolah terbanyak," terang Eko Suwanto.(nei)