TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga petani di Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Kirmanto (25) memikul sebuah harapan besar.
Sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara dengan orang tua yang hanya tamatan Sekolah Dasar, ia memecah kebuntuan tradisi keluarganya yang tak satupun pernah mengenyam pendidikan tinggi.
Kini, pemuda kelahiran 20 Juni 2000 itu telah berdiri tegak sebagai seorang profesional di sebuah perusahaan multinasional.
Cita-citanya sedari kecil tidaklah main-main. Kirmanto bermimpi menjadi seorang Menteri Pertanian, atau setidak-tidaknya menjadi pengusaha pertanian yang sukses. Untuk mewujudkan hal itu, jalan akademis adalah satu-satunya jembatan yang harus ia seberangi.
Selepas lulus dari SMAN 1 Belik, ia menaruh asa pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SBMPTN) di Purwokerto.
Pilihannya pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) didasari alasan pragmatis yakni biaya yang lebih terjangkau agar tidak membebani ekonomi keluarganya.
Namun, jarak tempuh Pemalang-Purwokerto yang cukup jauh saat itu harus dibayar dengan kekecewaan. Hasil tes menunjukkan ia gagal menembus PTN yang diincarnya.
Kirmanto tak patah arang. Ia merelakan waktu satu tahun untuk mempersiapkan diri kembali mengikuti seleksi.
Sayangnya, rencana itu kembali menemui jalan buntu ketika pandemi Covid-19 melanda pada awal tahun 2020. Pembatasan mobilitas membuat langkahnya tertahan di kampung halaman.
“Waktu itu Bapak melarang saya pergi-pergi karena masih Covid-19. Jadi saya tidak bisa ikut seleksi PTN,” kenang Kirmanto.
Di tengah ketidakpastian tersebut, secercah harapan datang dari seorang kawan yang membawa kabar bahwa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta sedang membuka Penerimaan Mahasiswa Baru dengan skema beasiswa penuh.
Peluang emas di masa pandemi itu, yang kebetulan pendaftarannya bisa diakses sepenuhnya secara daring, langsung ia sambar.
“Saya mendaftar, melengkapi semua persyaratan, dan mendapat beasiswa full 100 persen selama kuliah dari UNU Yogyakarta dengan skema Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, termasuk uang saku Rp700 ribu per bulan,” paparnya.
Di UNU Yogyakarta, Kirmanto memantapkan langkahnya di Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) pada Fakultas Industri Halal. Masa awal perkuliahan harus ia lewati dari balik layar gawai karena situasi pandemi, dan ia baru menginjakkan kaki di kampus pada semester tiga dan empat untuk mengikuti praktikum.
Meski telah disokong beasiswa dan uang saku, Kirmanto menolak bermanja diri. Ia memilih jalur kemandirian dengan mendedikasikan waktunya sebagai relawan di Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta. Di posko tersebut, ia bertugas menerima berbagai laporan insiden, mulai dari kecelakaan hingga bencana alam.
“Kadang kalau kondisinya benar-benar genting, saya juga harus ke lapangan,” kata Kirmanto yang juga menerima honor dari kegiatan paruh waktunya ini untuk menyambung hidup.
Ketekunan dan daya juangnya di bangku kuliah berbuah manis. Kirmanto berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu dalam delapan semester dan diwisuda pada Desember 2024. Torehan prestasinya pun membanggakan, ia meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,83.
Bagi Kirmanto, ijazah bukanlah akhir, melainkan tiket masuk ke arena yang sesungguhnya.
UNU Yogyakarta rupanya telah membekali para mahasiswanya dengan instrumen yang tepat untuk bertarung di dunia kerja.
Hal ini terbukti ketika Kirmanto berhasil diterima di tiga korporasi ternama sekaligus setelah menyebar lamaran.
Pilihannya kemudian jatuh pada PT Nestlé Indonesia, sebuah industri pangan berskala global yang juga memiliki kemitraan dengan kampus almamaternya.
Hanya dua bulan pascawisuda, tepatnya pada Februari 2025, Kirmanto resmi berkantor di Bandaraya Factory, Batang, Jawa Tengah.
Ia mengemban posisi strategis sebagai fresh milk analyst yang bertugas memeriksa kualitas dan kadar nutrisi pada produk susu dengan fasilitas pengolahan yang serba modern.
Kunci keberhasilannya menembus ketatnya seleksi korporasi multinasional itu tak lepas dari pendampingan intensif dari kampus.
“Sebelum wisuda, kami didampingi oleh Direktorat Employability untuk coaching seperti membuat CV, menghadapi wawancara kerja, dan menyiapkan portofolio di media sosial. Sewaktu wawancara dengan user, saya mampu menjelaskan analisis susu seperti yang pernah saya lakukan di kuliah mikrobiologi di UNU Yogyakarta. Semua ini membantu saya menembus seleksi di PT Nestlé Indonesia,” paparnya.
Kini, dari Batang, ia bisa merajut kembali kedekatannya dengan keluarga di Pemalang. Jarak yang tak terlampau jauh memungkinkannya untuk rutin pulang setiap hari libur tiba.
“Saya senang karena ini hasil perjuangan saya selama ini. Tapi yang lebih senang lagi adalah orang tua yang sudah sepuh (tua). Saya satu-satunya sarjana dari 8 bersaudara dan sekarang bekerja di Nestlé yang lokasinya dekat dengan rumah orang tua. Jadi kalau libur saya bisa pulang,” tutur Kirmanto.
Sebagai anak yang berbakti, jerih payahnya di perusahaan global itu didedikasikan sepenuhnya untuk kedua orang tuanya yang kini tak lagi bisa bekerja. Ada satu mimpi besar yang kini sedang ia rintis untuk mereka.
“Sebab sekarang bapak ibu sudah berusia 70-an tahun dan tidak bekerja. Jadi hasil dari bekerja ini saya tabung dan saya transfer untuk keluarga. Harapannya ke depan bisa memberangkatkan orang tua umroh,” kata Kirmanto.
Kapasitas Kirmanto sebagai profesional muda pun diakui oleh para petinggi di tempatnya bekerja.
Norman Tri Handono, Factory Manager Nestlé Bandaraya Factory, melihat adanya kualitas mendasar yang kuat dari lulusan UNU Yogyakarta, khususnya dalam pemahaman keamanan pangan, teknologi pemrosesan, dan standar kualitas industri.
“Mereka juga mampu bekerja dalam tim, memahami efisiensi dan kualitas produksi, memiliki karakter disiplin, penuh inisiatif, serta mampu untuk terus belajar dan punya kemauan menyerap nilai-nilai kerja di PT Nestlé Indonesia. Dengan karakter santun dan mencerminkan nilai keislaman, kami percaya lulusan UNU Yogyakarta akan dicari oleh banyak industri,” ujar Norman.
Pujian dari dunia industri ini sejatinya merupakan buah dari desain kurikulum dan pembinaan karakter yang dirancang kampus secara komprehensif.
Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pendanaan Kreatif UNU Yogyakarta, Ian Agisti Dewi Rani, menegaskan bahwa mahasiswanya memang ditempa untuk siap terjun ke dunia profesional sejak hari pertama perkuliahan.
“Fakultas dan prodi di UNU Yogyakarta mungkin sama namanya dengan fakultas dan prodi di kampus lain, tetapi pendekatan kami berbeda. Diferensiasi kami jelas. Sejak semester satu, mahasiswa UNU Yogyakarta sudah dipersiapkan menjadi professional, bahkan sejak awal sudah diarahkan punya pengalaman kerja,” tuturnya.
Selain aspek akademik, keberadaan Direktorat Employability dan program Student Journey menjadi kunci penting dalam memetakan minat, bakat, potensi karier, hingga menjembatani mahasiswa dengan kesempatan magang di dunia industri.
“Jadi ketika mereka lulus mahasiswa UNU Yogyakarta bukan sekadar lulus dan mampu menyelesaikan tugas-tugas akademik, tetapi juga mampu melaksanakan tugas-tugas profesionalnya,” tandas Ian.