BANGKAPOS.COM -- Terbongkar sudah rangkaian modus yang dilakukan Lisa Andriana (31) dalam kasus penculikan Kusnadi Chandra (80), warga Kelurahan Pacarkeling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, yang diketahui merupakan ayah dari pacarnya sendiri, Agus Pranoto.
Dalam aksinya, Lisa diduga memiliki tujuan untuk menguasai harta milik korban.
Selama kurang lebih enam bulan masa penyekapan, pelaku disebut berhasil menguras tabungan korban hingga mencapai sekitar Rp 2 miliar.
Tidak hanya itu, emas serta perhiasan milik korban dengan berat sekitar 1 kilogram juga diduga turut hilang.
Baca juga: Realisasi Pajak dan Retribusi Daerah 2026 Bangka Barat Triwulan I Sudah Mencapai Target
Kapolrestabes Surabaya Kombespol Luthfie Sulistiawan menjelaskan bahwa peristiwa ini bermula pada Oktober 2025, ketika Lisa menghubungi korban untuk bertemu di suatu lokasi.
Karena telah memiliki kedekatan sebelumnya, korban tidak menaruh kecurigaan dan menyetujui ajakan tersebut.
“Pada saat ke tempat janjian, korban dibawa ke sebuah ruangan di apartemen oleh 2 orang laki laki. Saat itu mereka berdalih salah satu anak korban punya hutang,” jelasnya.
Lebih lanjut, selama dalam masa penahanan, korban yang sudah lanjut usia ditempatkan di sebuah kamar tanpa akses komunikasi, termasuk tanpa telepon genggam.
Setiap harinya, korban dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain dan hanya diberikan makanan dalam bentuk paket.
Dalam proses tersebut, Kombespol Luthfie mengungkapkan bahwa pelaku juga mulai menguasai aset finansial korban secara bertahap.
“Tersangka sempat meminjam ATM termasuk juga kartu kredit dan menanyakan nomor PIN. Waktu itu katanya untuk keperluan pembayaran tagihan hutang sehingga diberikan, tetapi mungkin karena juga sudah tua jadi lupa. ATM milik korban masih dipegang oleh tersangka dan terus dikuras,” bebernya.
“Bukan hanya itu, emas-emas dan perhiasan yang kurang lebih nilainya juga dikisaran 1 kilogram, ternyata juga sudah tidak ada di kamarnya,” imbuh Kombespol Luthfie.
Dalam upaya menjalankan aksinya, Lisa juga memanfaatkan kedekatan hubungan dengan keluarga korban untuk mengelabui kecurigaan.
Pelaku yang berdomisili di sebuah apartemen di Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, serta berasal dari Jakarta Utara, disebut mampu memberikan berbagai alasan yang meyakinkan keluarga korban.
Hal ini dimungkinkan karena hubungan antara pelaku, korban, dan keluarga korban sebelumnya cukup dekat.
Kapolrestabes Surabaya Kombespol Luthfie Sulistiawan mengungkapkan bahwa pacar pelaku, Agus Pranoto, sempat beberapa kali menanyakan keberadaan ayahnya, namun selalu dijawab dengan alasan yang menenangkan.
“Pacar pelaku sempat tanya keberadaan bapaknya atau engkongnya. Dijawab oleh pelaku bahwa lagi jalan jalan sama ayah kandungnya,” ujar Kombespol Luthfie, di Mapolrestabes Surabaya, Senin (11/5/2026).
Pernyataan tersebut sempat dipercaya oleh keluarga, terlebih karena disebutkan korban sedang melakukan perjalanan bersama ayah kandung pelaku untuk berkeliling Indonesia menikmati masa tua.
“Bulan berikutnya juga ditanyakan lagi oleh saudara korban, dan dijawab bahwa memang karena keliling Indonesia, mereka biar aja lah namanya orang udah tua mau menikmati hidup biar keliling,” bebernya.
“Tersangka ini pada saat berpacaran dengan anak korban, memang meyakinkan betul perilakunya baik dan juga membangun hubungan baik, dengan orang tua korban sehingga yakin bahwa memang tidak ada masalah apa-apa,” imbuh Kombespol Luthfie.
Namun seiring berjalannya waktu, keluarga mulai merasa curiga karena korban tidak pernah kembali dalam waktu lama, bahkan hingga berbulan-bulan.
“Mereka juga akhirnya turut mencari tapi korban hilang kontak, ganti nomor telepon begitu. Akhirnya dilaporkan ke kami, kemudian kami lidik dan akhirnya kami dapatkan bahwa korban ini disekap di salah satu kamar yang ada di Surabaya, salah satu apartemen,” urainya.
Dari hasil penyelidikan, terungkap bahwa korban tidak menyadari dirinya sedang disekap. Hal ini karena pelaku membangun skenario seolah-olah dirinya juga menjadi korban penculikan.
Korban bahkan percaya bahwa ia dan pelaku berada dalam situasi yang sama sebagai korban.
“Sehingga persepsinya bahwa korban dan tersangka sama-sama disekap. Ketika penyidik masuk ke kamarnya, satu hal yang disampaikan oleh korban ini adalah tolong selamatkan juga. Artinya sampai dengan detik terakhir pun dalam persepsinya itu masih sama,” tandasnya.
Selain Lisa Andriana, polisi juga mengamankan seorang perempuan lain bernama Naily yang diduga turut membantu menjaga korban selama masa penyekapan.
“Saat ini kami sedang dalami pelaku-pelaku lain, termasuk dua orang yang menyekap dan ada mungkin indikasi pelaku-pelaku lain,” kata Luthfie.
Polisi menduga kuat motif utama dalam kasus ini berkaitan dengan faktor ekonomi.
Sementara itu, korban kini telah berhasil diselamatkan dan telah kembali berkumpul bersama keluarganya.
(Bangkapos.com/Tribunnews/Surya.co.id)