BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemerintah Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung mulai mengambil langkah untuk mempertahankan keberadaan pengrajin kapal tradisional yang jumlahnya terus berkurang dalam lima tahun terakhir.
Regenerasi yang mandek membuat desa pesisir tersebut kini hanya memiliki kurang dari 10 pengrajin kapal aktif.
Padahal, Desa Bangka Kota sejak dahulu dikenal sebagai sentra pembuatan perahu kayu untuk kebutuhan nelayan laut dan sungai. Kondisi itu mendorong pemerintah desa menyiapkan berbagai upaya agar keterampilan membuat kapal tidak hilang ditelan zaman.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Bangka Kota, Suhar mengatakan pemerintah desa akan menggandeng Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) dan dinas terkait untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat.
Program itu ditujukan agar generasi muda mulai tertarik mempelajari keterampilan membuat kapal kayu yang selama ini mulai ditinggalkan. Keberadaan pengrajin kapal penting dipertahankan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat nelayan.
“Kedepan akan kita lakukan pelatihan bekerja sama dengan BLKI maupun perindustrian. Akan kita kirim warga kita untuk mempertahankan atau meregenerasi pengrajin kapal,” kata dia kepada Bangkapos.com, Senin (11/5/2026).
Selain menyiapkan pelatihan kata Suhar, pemerintah desa membuka peluang memberikan bantuan peralatan bagi pengrajin kapal sesuai kemampuan anggaran desa.
Selama ini bantuan dana desa lebih banyak difokuskan untuk kebutuhan alat tangkap nelayan. Namun pemerintah desa mulai mempertimbangkan dukungan untuk pengrajin kapal tradisional. Bantuan tersebut ditargetkan dapat membantu pengrajin yang selama ini terkendala alat kerja dan biaya produksi.
Minimnya minat generasi muda menjadi penyebab utama berkurangnya jumlah pengrajin kapal tradisional.
Saat ini pengrajin yang masih bertahan sebagian besar merupakan generasi lama yang sudah lama berkecimpung dalam pembuatan kapal kayu. Sementara anak-anak muda dinilai lebih memilih pekerjaan lain dibanding mempelajari keterampilan tradisional tersebut.
“Kalau dulu pengrajin kapal memang banyak, sekarang tinggal kurang lebih di bawah 10 orang,” papar Suhar.
Menurutnya, profesi pengrajin kapal sudah tumbuh sejak lama karena mayoritas masyarakat Desa Bangka Kota bekerja sebagai nelayan.
Keberadaan pengrajin kapal menjadi bagian penting dalam menopang aktivitas nelayan pesisir yang membutuhkan perahu sebagai sarana utama melaut. Meski jumlahnya berkurang, para pengrajin kapal tradisional hingga kini masih tetap melayani pembuatan kapal untuk nelayan lokal maupun luar daerah.
Ia menjelaskan penurunan jumlah pengrajin mulai terasa sejak lima tahun terakhir karena tidak adanya penerus yang serius belajar membuat kapal. Padahal sebelumnya Desa Bangka Kota sempat dikenal mampu melayani pembuatan kapal berukuran besar hingga kapal barang. Bahkan desa tersebut pernah memiliki fasilitas docking sederhana untuk perawatan kapal.
“Sekarang kebanyakan hanya membuat kapal kecil karena yang tersisa tinggal pengrajin lama,” urainya.
Meski jumlah pengrajin terus berkurang, aktivitas pembuatan kapal tradisional di Desa Bangka Kota hingga kini masih tetap berjalan.
Kapal-kapal buatan pengrajin setempat tidak hanya digunakan nelayan lokal, tetapi juga dipasarkan ke sejumlah daerah lain di Pulau Bangka seperti Mentok hingga Sungailiat.
Aktivitas nelayan di desa tersebut juga masih cukup aktif dengan keberadaan tiga kelompok nelayan yang terdiri dari dua kelompok nelayan laut dan satu kelompok nelayan sungai.
“Jumlah anggota kelompok nelayan kurang lebih mencapai 40 orang,” pungkas Suhar.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)