Jakarta (ANTARA) - SVP Head of Enterprise Security Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Yohanes Glen mengatakan untuk membangun ketahanan siber dalam sebuah perusahaan saat ini solusi "strategic cyber defense partnership" lebih tepat dibandingkan dengan membeli solusi keamanan siber yang sifatnya beli putus.

Solusi "strategic cyber defense partnership" artinya mitra yang digandeng perusahaan sebagai penyedia layanan keamanan siber untuk sistemnya tidak hanya berhenti menghadirkan produk tapi juga memberikan layanan berkelanjutan mulai dari mendeteksi kerentanan keamanan siber hingga memperbaiki kerentanan jika ditemukan.

"Jadi yang dibutuhkan adalah hubungan antara penjual dan pembeli itu sebagai Strategic Cyber Defense Partnership. Artinya bukan sekadar one stop shopping setelah beli produk selesai gitu ya. Tapi berlanjut sampai ke service," kata Glen dalam acara diskusi membahas ketahanan siber untuk bisnis yang digelar IOH di Jakarta, Senin.

Dalam laporan resmi terbaru IOH "Kerangka Strategis Ketahanan Siber Berbasis Bisnis", terungkap bahwa rata-rata kerugian yang diakibatkan oleh setiap kebocoran data akibat serangan siber di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

Angka kerugian semakin membesar ketika membahas sektor yang berhubungan dengan digital, adapun kerugian bisa mencapai Rp75 miliar apabila sektor teknologi, media, dan telekomunikasi mengalami kebocoran data.

Sementara untuk sektor finansial rata-rata kerugiannya sedikit lebih besar apabila menghadapi kebocoran data dengan kerugian senilai Rp78 miliar.

Angka-angka tersebut dapat terjadi karena biaya yang dikeluarkan tidak hanya untuk perbaikan teknis sistem semata tapi juga perbaikan operasional dan tata kelola, lalu perbaikan citra perusahaan, hingga kepatuhan pada regulasi.

Di samping itu, Glen mengatakan dalam kondisi lapangan meski kesadaran mengenai keamanan siber itu sudah bertumbuh di kalangan pemilik bisnis namun untuk menyiapkan sistem keamanan siber yang aman sifatnya belum proaktif.

Praktisi keamanan siber sekaligus Deputy Head of Master IT Program Swiss German University Dr.Ir. Charles Halim turut mengatakan bahwa dalam membangun ketahanan siber saat ini para pemilik bisnis masih menggunakan pendekatan reaktif dan bukan proaktif.

Pendekatan reaktif sendiri artinya sistem keamanan siber baru dihadirkan saat bisnis sudah mengalami kerentanan siber dan kerugian. Padahal harusnya untuk menciptakan ketahanan siber sistemnya sudah harus disiapkan sebelum bisnis mengalami serangan siber.

"Ini harus kita ubah ya mindset ini (dari reaktif menjadi proaktif)," kata Charles.

Berkaca dari hal tersebut, perusahaan yang kini tengah mencoba bertransformasi secara digital perlu mencari mitra penyedia layanan keamanan siber yang tidak hanya berfokus pada produk tapi juga ikut terlibat secara berkelanjutan mendukung sistemnya agar lebih aman.

"Ketahanan siber itu bukan lagi diukur sekadar dari operasional matriks, tapi melalui waktu, ada time to recover, time to detect, dan seterusnya. Maka dari itu hal ini (strategic cyber defense partnership) diperlukan sehingga kemitraan antara pelanggan dengan penyedia layanan itu menjadi lebih strategis," kata Glen.