Jejak Kain Lukis Nasrafa, Berjuang Dari Sebar Brosur Kini Menjangkau Pasar Dunia
Muhammad Nursina Rasyidin May 11, 2026 11:38 PM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM - Kuas kecil di tangan Yani Mardiyanto bergerak perlahan di atas tas goni berwarna krem. Satu demi satu, motif bunga sakura muncul dari polesan cat air.

Di sudut galeri kecilnya di kawasan Industri Kecil Menengah (IKM) Center Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Yani seperti sedang mengulang kembali perjalanan panjang yang telah membawanya melintasi batas negara.

Motif bunga itu tercipta bukan tanpa alasan. Karya-karya kain lukis Nasrafa miliknya pernah dipamerkan di Osaka, Jepang. 

Dari ruang sederhana di Solo itu, produk buatan tangan anak-anak muda kampung berhasil menemukan jalannya ke pasar internasional.

Namun belasan tahun lalu, semuanya bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana yakni brosur lusuh yang dibagikan dari pintu ke pintu.

Kala itu media sosial belum berkembang seperti sekarang. Belum ada Facebook, Instagram, bahkan WhatsApp untuk menyebar pesan ke relasi.

Yani harus mendatangi wisatawan di Pasar Klewer dan Pasar Gedhe demi mengenalkan produk kain lukis buatannya. Tak jarang brosur yang ia bagikan hanya dilipat lalu dimasukkan ke kantong plastik belanja, ada juga yang masuk saku celana.

“Dulu promosinya benar-benar manual. Saya bawa brosur ke pasar, ke wisatawan, menawarkan satu-satu,” kenang Yani dengan haru, ditemui pada Jumat (8/5/2026).

Usaha yang kini dikenal luas itu lahir pada 20 Januari 2012 di Kampung Petoran, Kecamatan Jebres, Solo. Terciptalah nama Nasrafa dari gabungan nama ketiga anaknya, antara lain Nasywa, Rafi, dan Fadhil.

Di balik berdirinya usaha tersebut, ada kegelisahan yang lama ia rasakan. 

Sebagai pegiat Karang Taruna dan penikmat seni teater, Yani melihat banyak anak muda di Solo memiliki bakat melukis, tetapi tidak mempunyai ruang untuk berkembang. 

Jilbab kain lukis Nasrafa
JILBAB LUKIS NASRAFA - Jilbab kain lukis Nasrafa yang sudah ekspor ke pasar dunia

Di sisi lain, karya seni sering kali sulit menemukan pasar.

Dari keresahan itu, Yani mencoba menghadirkan wadah baru. Ia mengajak para pelukis muda menuangkan kreativitas mereka bukan di atas kanvas, melainkan di atas kain.

Modal awalnya pun jauh dari besar. Dengan uang seadanya, Yani membeli beberapa lembar kain polos, cat air, rak sederhana, serta membayar kebutuhan operasional awal. 

Tak ada jaminan produk tersebut akan diterima pasar.

Terlebih, produk seni seperti kain lukis memiliki tantangan tersendiri. Pasarnya spesifik dan tidak bisa dipasarkan seperti barang kebutuhan umum.

“Produk seperti ini memang harus mencari market yang cocok. Salah satu cara paling efektif ya lewat pameran,” ujarnya.

Karena itu, Yani hampir tidak pernah melewatkan kesempatan mengikuti pameran UMKM di Solo. Beruntung dinas-dinas pemerintah daerah hingga provinsi selalu mengajaknya mengadu nasib.

Dari satu pameran ke pameran lain, karya Nasrafa perlahan mulai dikenal. Jalan usaha itu mulai terbuka ketika Nasrafa mengikuti kurasi Dinas UMKM dan Perindustrian Kota Surakarta.

Hasilnya, produk lolos kurasi dan semakin sering diikutsertakan dalam berbagai pameran. Dampaknya terasa langsung. Pesanan mulai berdatangan, produk berkembang, dan omzet usaha meningkat.

Jika awalnya hanya memproduksi jilbab lukis, kini para perajin Nasrafa mampu mengembangkan 10 hingga 15 jenis produk berbeda. Mulai dari tas, pouch, syal, payung, topi, hingga kemeja lukis.

Usaha kecil itu bahkan sempat mencatat omzet hingga Rp70 juta per bulan.

Go International

Perjalanan Nasrafa kemudian memasuki babak baru saat pasar internasional mulai melirik karya mereka.

Pada 2019, Nasrafa mendapat undangan mengikuti Manila Fame di Filipina. Tiga tahun berselang, mereka kembali terpilih menjadi salah satu dari sedikit UMKM Indonesia yang tampil dalam Osaka Lifestyle Show di Jepang.

Kesempatan itu kembali datang pada 2023 lewat Indonesia Fair di Namba Marui Department Store, Osaka. Untuk pameran tersebut, Yani dan tim menyesuaikan desain produk dengan karakter pasar Jepang. Mereka menghadirkan motif bunga sakura pada tas goni, pouch, syal, hingga topi lukis.

“Karena pamerannya di Jepang, kami buat motif yang dekat dengan mereka, seperti bunga sakura,” katanya.

Jauh sebelum tampil di Jepang, Nasrafa sebenarnya telah mulai melakukan ekspor sejak 2014. Singapura dan Amerika Serikat menjadi tujuan awal pengiriman produk mereka.

Kini, produk Nasrafa masih eksis menjadi langganan ekspor ke Busan, Korea Selatan lalu Sydney, Australia dan Jepang.

Bagi Yani, pencapaian itu bukan sekadar keberhasilan bisnis. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa karya lokal dari sudut kampung di Solo juga mampu bersaing di pasar dunia.

Kerja panjang tersebut turut membawa Nasrafa meraih berbagai penghargaan bergengsi. 

Pada 2016, usaha itu memperoleh sertifikat Grade A Ready to Export dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI.

Kemudian pada 2020, Nasrafa menerima penghargaan Siddhakarya dari Gubernur Jawa Tengah. Setahun setelahnya, mereka meraih penghargaan nasional Paramakarya yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Namun perjalanan usaha itu tidak selalu berjalan mulus.

Konflik Rusia-Ukraina sempat memukul jalur ekspor ke Eropa. Pengiriman produk terhambat dan sejumlah transaksi tertunda. Ketidakpastian global membuat UMKM seperti Nasrafa harus kembali memutar strategi agar usaha tetap bertahan.

Dalam situasi seperti itu, akses permodalan menjadi penopang penting. Yani mengaku sempat memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk menjaga perputaran usaha.

Awalnya, Yani memanfaatkan pinjaman KUR  Rp20 juta. Karena usahanya dinilai berkembang dan pembayaran lancar, akhirnya ia berkesempatan menambah pinjaman lagi Rp100 juta.

"KUR sangat mendukung pengembangan manajemen dan pengelolaan usaha kain lukis ini. Berkat dukungan modal tersebut, kami bisa melakukan ekspor perdana ke Osaka pada 2022 dan sampai sekarang masih eksis," ujar pemilik Nasrafa saat menceritakan titik balik usahanya.

Selain akses pembiayaan, perubahan pola transaksi digital juga ikut membantu usaha mereka berkembang. 

Di galeri Nasrafa, pembeli kini dapat bertransaksi menggunakan QRIS maupun EDC. Wisatawan dan komunitas yang datang tak lagi perlu membawa uang tunai.

“Sekarang beli langsung scan QRIS, selesai. Sudah semudah itu,” katanya sambil tersenyum.

Meski telah membawa produknya ke berbagai negara, Yani belum ingin berhenti. Ia kini membidik pasar Turki dengan produk anyar berupa tas pandan lukis.

Yani mengaku ingin terus berjuang dengan tetap belajar melihat pasar. Termasuk pasar dunia dengan ciri khas masing-masing masyarakat dan budayanya.

Di tengah persaingan produk massal dan derasnya arus industri modern, Yani masih percaya karya buatan tangan memiliki tempat tersendiri. Terutama ketika di baliknya ada cerita, ketelatenan, dan identitas budaya yang terus dijaga.

Dukungan Pemerintah

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Kota Surakarta, Agung Riyadi, mengungkap, Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta mendukung para pelaku UMKM untuk naik kelas.

Hal tersebut ditegaskan melalui program bernama “Program UMKM Naik Kelas”.

Program tersebut menyangkut empat pilar penting, yakni eskalasi bisnis, bantuan modal, bantuan jual, dan konsultasi bisnis.

“Kami bantu para pelaku UMKM untuk sama-sama berjuang memajukan usahanya. Dari eskalasi bisnis kita lakukan pembinaan seperti upgrade ilmu produksi hingga pengemasan,” terangnya ketika diwawancarai pada Sabtu (9/5/2026).

Tak berhenti di situ, Pemkot Surakarta juga membantu menjembatani pelaku UMKM untuk mendapat suntikan modal. Seperti halnya bantuan dari bank dan PNM.

Pemkot juga berupaya untuk melebarkan sayap pengusaha dengan memperluas pemasaran. Barang-barang hasil UMKM yang terdata telah diunggah di website dan selalu terupdate pada media sosial pemerintah.

Warga juga bisa menggunakan fasilitas konsultasi perihal UMKM dengan mendatangi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Kawasa Techno Park, Jebres. Bisa juga mendatangi Bengkel Ekspor UMKM di Sentra IKM Semanggi khusus untuk yang berniat mengirim barang keluar negeri.

“Salah satunya usaha kami meningkatkan kelas UMKM adalah membantu proses legalisasi perizinan, contohnya mengurus NIB (Nomor Induk Berusaha). Semuanya fasilitas gratis untuk UMKM,” papar Agung.

Menurut data terbaru, hingga saat ini terdapat 18.346 UMKM yang tercatat di Kota Solo. Agung mengatakan, pertumbuhan UMKM di Kota Solo menunjukkan tren positif dan stabil. 

Hingga tahun 2025, mayoritas pelaku UMKM bahkan telah difasilitasi legalitas usahanya, dengan sekitar 75 persen memiliki Nomor Induk Berusaha.

Dari data tersebut, jumlah usaha mikro mendominasi dibandingkan usaha kecil dan menengah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong pelaku usaha untuk naik kelas.

“Program UMKM naik kelas ini tidak hanya soal peningkatan omzet, tetapi juga mencakup perubahan mindset, kualitas produk, hingga kemampuan menembus pasar digital dan ekspor,” tambahnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.