TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu hamil di Indonesia.
Kondisi yang ditandai dengan tekanan darah tinggi saat kehamilan itu bahkan disebut menyumbang lebih dari 70 ribu kematian ibu dan 500 ribu kematian janin setiap tahun di dunia.
Tingginya risiko tersebut membuat edukasi mengenai preeklampsia dinilai semakin penting, terutama bagi perempuan usia produktif dan ibu hamil.
Hal itu dipaparkan dalam seminar kesehatan bertema preeklampsia yang digelar di Livehouse Semarang, Minggu (10/5/2026).
Dokter RS Siloam Hospitals Semarang, dr. Deviana Ogilve mengatakan preeklampsia sering kali muncul tanpa gejala jelas pada tahap awal sehingga banyak kasus terlambat ditangani.
Baca juga: Kecukupan Vitamin D Selama Kehamilan Minimalisir Risiko Preeklamsia
“Preeklampsia seringkali muncul tanpa gejala yang jelas di awal, sehingga pemeriksaan rutin selama kehamilan sangat penting," jelas jelas dr. Deviana Ogilve dalam seminarnya.
'Dengan deteksi dini, risiko komplikasi bagi ibu dan bayi dapat ditekan secara signifikan,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, preeklampsia dapat berdampak serius bagi ibu maupun janin apabila tidak segera ditangani dengan tepat.
Karena itu, pemeriksaan kehamilan rutin menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Selain pemeriksaan rutin, dr. Deviana juga menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat dan pemantauan tekanan darah selama masa kehamilan.
“Pola hidup sehat, kontrol kehamilan teratur, serta pemantauan tekanan darah menjadi kunci utama dalam pencegahan kondisi ini,” ujarnya.
Berdasarkan data di Indonesia, sekitar 5 hingga 10 persen kehamilan mengalami komplikasi preeklampsia.
Namun kondisi tersebut masih kerap tidak terdeteksi sejak dini karena minimnya pemahaman masyarakat mengenai gejala awal seperti pembengkakan, tekanan darah tinggi, hingga gangguan penglihatan.
Kegiatan edukasi kesehatan tersebut turut diramaikan dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis untuk masyarakat, mulai dari pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga konsultasi kesehatan umum.
Antusiasme warga Tanjung Mas, Semarang Utara, terlihat cukup tinggi, terutama dari kalangan perempuan dan keluarga muda.
Seminar kesehatan ini merupakan bagian dari program sosial Holywings Peduli yang bekerja sama dengan Livehouse Semarang dan Tiger Semarang dalam rangka memperingati Hari Preeklampsia Sedunia yang diperingati setiap 22 Mei.
“Kami melihat masih banyak masyarakat yang belum memahami bahaya preeklampsia ya," ucap Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto.
"Melalui seminar ini, kami ingin mendorong edukasi yang lebih masif sekaligus memberikan akses layanan kesehatan gratis serta bantuan nyata bagi fasilitas kesehatan dan lingkungan sekitar,” ujar Andrew.
Selain seminar dan layanan kesehatan gratis, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyerahan bantuan berupa kursi roda, tabung oksigen, serta perlengkapan kesehatan untuk operasional posyandu dan posbindu di wilayah Tanjung Mas, Semarang Utara.
(Tribunnews.com/ Bayu Indra Permana)