BANGKAPOS.COM, BANGKA — Kota Pangkalpinang menjadi daerah dengan jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) madu terbanyak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Total ada sebanyak 43 pelaku usaha madu terdata di Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kepala Dinas KUKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Arie Primajaya, mengatakan usaha madu memiliki prospek yang sangat baik karena didukung kekayaan sumber daya alam serta meningkatnya minat masyarakat terhadap produk kesehatan alami.
“Secara keseluruhan, jumlah UMKM madu yang terdata di Bangka Belitung mencapai 193 pelaku usaha. Usaha tersebut bergerak di berbagai sektor, mulai dari budidaya lebah, pengambilan madu hutan, hingga pengolahan dan pemasaran produk madu,” kata Arie Primajaya kepada Bangkapos, Selasa (12/5/2026).
“Setelah Pangkalpinang, Kabupaten Bangka Tengah menempati posisi kedua dengan 40 UMKM madu. Selanjutnya Kabupaten Belitung tercatat memiliki 29 pelaku usaha, Belitung Timur 23 pelaku usaha, Bangka Barat 22 pelaku usaha, Bangka Selatan 20 pelaku usaha, dan Kabupaten Bangka menjadi daerah dengan jumlah UMKM madu paling sedikit, yakni 16 pelaku usaha,” katanya.
Arie mengatakan data tersebut menunjukkan bahwa usaha madu memiliki potensi ekonomi yang besar dan semakin diminati masyarakat.
“Kalau kita lihat dari jumlah pelaku usahanya, sektor madu ini sangat potensial. Hampir seluruh kabupaten dan kota memiliki pelaku usaha yang aktif, baik dalam budidaya, pengambilan, maupun pemasaran madu,”katanya.
Arie mengatakan pemerintah terus mendorong UMKM madu agar berkembang melalui pendampingan dan berbagai program pembinaan.
“Kami membantu pelaku usaha untuk mengurus legalitas seperti NIB, PIRT, sertifikasi halal, dan berbagai izin lain yang dibutuhkan,” ujarnya.
Selain itu, Dinas Koperasi dan UKM juga memberikan pelatihan mengenai manajemen usaha, pemasaran digital, desain kemasan, hingga strategi peningkatan kualitas produk.
“Kita tidak hanya mendorong mereka memproduksi, tetapi juga memastikan produknya memiliki nilai tambah dan mampu bersaing,” katanya.
Menurut Arie, kualitas produk menjadi faktor penting agar madu Bangka Belitung dapat menembus pasar yang lebih luas.
“Kalau kualitasnya terjaga, kemasannya bagus, legalitas lengkap, maka peluang masuk ke pasar nasional bahkan ekspor akan semakin besar,” ujarnya.
Ia menyebut Pangkalpinang menjadi daerah dengan UMKM madu terbanyak karena berperan sebagai pusat distribusi dan perdagangan.
“Pangkalpinang memang menjadi pusat perdagangan. Banyak pelaku usaha yang memasarkan produknya dari sini, baik melalui toko, apotek, maupun platform digital,” katanya.
Sementara Bangka Tengah berkembang pesat karena banyak masyarakat mulai membudidayakan lebah kelulut.
“Bangka Tengah menunjukkan pertumbuhan yang bagus. Potensi budidaya kelulut di sana cukup besar dan terus berkembang,” ujarnya.
Arie menilai madu pelawan memiliki peluang besar untuk menjadi ikon produk premium Bangka Belitung. Madu yang berasal dari nektar bunga pohon pelawan tersebut dikenal langka, memiliki rasa pahit khas, dan memiliki nilai jual tinggi.
“Dengan dukungan yang berkelanjutan, madu Bangka Belitung dapat menjadi salah satu produk unggulan yang memperkuat ekonomi daerah sekaligus mengangkat nama Bangka Belitung di pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Arie menegaskan dukungan pemerintah tidak hanya difokuskan pada UMKM madu, tetapi juga seluruh sektor usaha mikro di Bangka Belitung.
“Kami juga mendorong UMKM lainnya, tidak hanya madu, tetapi seluruh lini usaha terus kami kembangkan. Semua sektor punya peluang untuk tumbuh dan menjadi kekuatan ekonomi daerah,” ujarnya.
(Bangkapos.com/Erlangga)